| Ekonomi | Yang berubah | Implikasi kebijakan |
|---|---|---|
| Brasil | Bank sentral memangkas suku bunga 25 basis poin, atau 0,25 poin persentase, untuk dua pertemuan berturut-turut menjadi 14,5%. Pada saat yang sama, pembuat kebijakan sempat mempertimbangkan perubahan penilaian risiko inflasi karena konflik terkait Iran sudah menaikkan ekspektasi inflasi . | Pelonggaran masih mungkin, tetapi jalurnya makin bersyarat. Sekretaris Perbendaharaan Rogerio Ceron mengatakan siklus pemangkasan suku bunga bisa lebih pendek jika konflik Iran berlarut dan menekan harga minyak lebih tinggi . |
| Korea Selatan | BOK mengatakan lonjakan harga minyak global yang terkait konflik yang melibatkan Iran diperkirakan mendorong harga konsumen naik lebih besar pada Mei, dengan harga produk minyak dan efek dasar ikut menambah tekanan . | Pemangkasan suku bunga jangka pendek menjadi lebih sulit dibenarkan. Gubernur BOK menyatakan kebijakan harus tetap hati-hati dan fleksibel karena guncangan minyak menaikkan inflasi, membebani pertumbuhan, dan menambah ketidakpastian stabilitas keuangan . |
Brasil tidak terkena guncangan ini seperti negara pengimpor minyak murni. Analis yang dikutip ICIS menyebut lonjakan harga minyak sebagai keuntungan bagi sektor eksternal Brasil, dengan potensi memperbesar surplus dagang negara itu ketika importir minyak bersih di kawasan lain Amerika Latin menghadapi tekanan lebih besar .
Bantalan itu penting, tetapi tidak otomatis membuat bank sentral bisa santai. Bank Sentral Brasil menyatakan konflik tersebut sudah menaikkan ekspektasi inflasi. Para pembuat kebijakan juga sempat mempertimbangkan untuk mengubah penilaian atas keseimbangan risiko inflasi, sebelum akhirnya mempertahankannya pada penilaian yang masih “seimbang” .
Dengan kata lain, ini belum menjadi perubahan sikap yang sepenuhnya hawkish. Tetapi jalur penurunan suku bunga menjadi kurang nyaman. Bank sentral bisa tetap memangkas, namun setiap langkah harus memperhitungkan apakah harga energi mulai menular ke ekspektasi harga yang lebih luas.
Tanda-tanda kehati-hatian sudah muncul sebelum keputusan terbaru. Kementerian Keuangan Brasil menaikkan proyeksi inflasi 2026 menjadi 3,7% setelah memasukkan asumsi rata-rata harga minyak yang 10,8% lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya akibat konflik dengan Iran . Ceron juga memperingatkan bahwa siklus pemangkasan suku bunga Brasil bisa lebih pendek dari perkiraan jika konflik berkepanjangan dan mendorong harga minyak lebih tinggi .
Kesimpulannya, Brasil masih punya ruang untuk melonggarkan kebijakan, tetapi ruang salah langkah mengecil. Harga minyak yang lebih tinggi dapat membantu neraca eksternal, namun bank sentral tetap harus menjaga ekspektasi inflasi domestik dan potensi penerusan harga bahan bakar ke konsumen .
Bagi Korea Selatan, guncangan minyak lebih langsung bernada negatif. Gubernur BOK mengatakan kebijakan akan tetap hati-hati dan fleksibel karena guncangan minyak dari Timur Tengah menaikkan inflasi, menekan pertumbuhan, dan meningkatkan ketidakpastian stabilitas keuangan . BOK juga menyoroti tingginya eksposur Korea Selatan terhadap impor energi, yang membuat jalur harga minyak sangat penting bagi kebijakan moneter .
Saluran inflasi jangka pendek sudah terlihat. BOK mengatakan harga minyak global yang lebih tinggi diperkirakan membuat harga konsumen naik lebih besar pada Mei, dengan harga produk minyak bumi dan efek dasar pada harga produk pertanian, peternakan, dan perikanan ikut menambah tekanan .
Deputi Gubernur BOK Yu Sang-dae mengatakan sistem batas harga minyak dan pemotongan pajak bahan bakar di Korea telah meredam sebagian besar tekanan tersebut . Tetapi kebijakan semacam itu lebih tepat dibaca sebagai peredam, bukan penghapus guncangan. Tekanan harga energi tetap ada; yang berubah adalah seberapa cepat dan seberapa besar ia sampai ke konsumen.
Di sinilah dilema BOK menjadi lebih rumit. Pemangkasan suku bunga bisa membantu permintaan dan pertumbuhan, tetapi menjadi lebih sulit dipertahankan jika minyak mendorong inflasi jangka pendek. Menahan kebijakan lebih stabil memang tidak menyelesaikan pukulan terhadap pertumbuhan, tetapi memberi waktu bagi pejabat untuk menilai apakah tekanan harga minyak bersifat sementara atau mulai melekat pada harga-harga lain .
Perbedaannya terletak pada efek nilai tukar dagang, atau terms of trade. Untuk Brasil, harga minyak yang lebih tinggi menciptakan dua arah sekaligus: keuntungan sektor eksternal di satu sisi, tetapi kenaikan ekspektasi inflasi di sisi lain .
Untuk Korea Selatan, kanal utamanya lebih searah dan tidak menguntungkan. Energi impor menaikkan biaya, memperbesar risiko inflasi, dan dapat menekan pertumbuhan .
Karena itu, kedua bank sentral sama-sama terdorong lebih hati-hati, tetapi alasannya tidak identik. Di Brasil, siklus pelonggaran tampak lebih terbatas dan bisa lebih pendek jika ekspektasi inflasi terus naik . Di Korea Selatan, prospeknya lebih jelas mengarah ke sikap menunggu karena guncangan minyak memperburuk pertukaran sulit antara inflasi dan pertumbuhan .
Untuk Brasil, sinyal kuncinya adalah apakah bank sentral tetap menyebut risiko inflasi seimbang atau mulai bergeser ke penilaian bahwa risiko lebih condong ke atas, setelah perubahan itu sudah sempat diperdebatkan . Ekspektasi inflasi dan asumsi harga minyak pemerintah juga penting, terutama setelah Kementerian Keuangan menaikkan proyeksi inflasi 2026 menjadi 3,7% karena asumsi harga minyak yang lebih tinggi .
Untuk Korea Selatan, ujiannya adalah apakah kenaikan inflasi Mei yang diperkirakan BOK hanya sementara. Pasar juga akan melihat apakah pemotongan pajak bahan bakar dan sistem batas harga minyak tetap mampu meredam penerusan kenaikan harga minyak global ke harga domestik . Bahasa BOK soal pertumbuhan dan stabilitas keuangan juga penting karena pembuat kebijakan sudah mengaitkan guncangan minyak dengan kedua risiko tersebut .
Guncangan minyak terkait Iran mempersempit ruang pemangkasan suku bunga di Brasil dan Korea Selatan. Brasil punya bantalan eksternal dari harga minyak yang lebih tinggi, tetapi kenaikan ekspektasi inflasi bisa membuat siklus pelonggaran lebih pendek . Korea Selatan menghadapi trade-off yang lebih berat: energi impor menaikkan tekanan inflasi pada saat yang sama ketika pertumbuhan juga berisiko melemah .