Di Maroko, Azzedine Al-Attarawy, ketua Asosiasi Pendukung Tim Nasional Maroko, mengatakan 40 dari 42 pemohon visa AS ditolak tanpa penjelasan. Para pemohon disebut telah membeli paket tiket untuk tiga pertandingan dengan harga sekitar 500 hingga 1.500 dolar AS . Sebagian juga telah memesan kamar hotel dengan tarif 400 hingga 1.000 dolar AS per malam .
Situasi di Ghana dilaporkan lebih mencolok. Salah satu laporan menyebut bahwa dari 150 suporter Ghana yang menjalani wawancara visa di Kedutaan Besar AS di Accra, hanya tiga orang yang disetujui—tingkat keberhasilan sekitar 2 persen. Mereka disebut telah membawa bukti tiket, reservasi hotel, dan kemampuan finansial . Laporan yang sama memperkirakan lebih dari 400 warga Ghana mengalami penolakan .
Namun, informasi mengenai penolakan massal suporter Ghana tidak sepenuhnya seragam. Menteri Olahraga dan Rekreasi Ghana kemudian membantah laporan bahwa kelompok suporter yang dikoordinasikan pemerintah telah mengalami penolakan massal, dengan mengatakan bahwa mereka bahkan belum menjalani wawancara visa pada saat pernyataan tersebut dibuat . Karena itu, angka penolakan dari Ghana perlu dipandang sebagai laporan yang masih diperdebatkan, bukan fakta yang telah terkonfirmasi secara independen.
Hambatan ini muncul di tengah kebijakan imigrasi AS yang lebih luas. Sebuah keputusan pada Desember memperluas daftar negara yang dikenai pembatasan visa menjadi 39 negara, termasuk Haiti, Iran, Pantai Gading, dan Senegal—semuanya terkait dengan peserta atau kualifikasi Piala Dunia .
Keputusan tersebut menyediakan pengecualian bagi atlet, pelatih, anggota tim yang menjalankan fungsi pendukung penting, serta keluarga dekat yang bepergian untuk mengikuti ajang olahraga besar. Akan tetapi, pengecualian itu tidak secara otomatis berlaku bagi suporter biasa yang telah memegang tiket .
Secara terpisah, pemerintah AS juga menangguhkan pemrosesan visa imigran untuk 75 negara. Daftar itu mencakup delapan negara peserta Piala Dunia: Brasil, Kolombia, Mesir, Ghana, Yordania, Maroko, Tunisia, dan Uruguay. Penangguhan tersebut secara formal tidak berlaku untuk visa turis, tetapi gangguan di kantor visa dan pemeriksaan yang lebih ketat telah menambah ketidakpastian bagi calon pelancong .
Krisis visa tidak hanya memengaruhi suporter. Industri hotel di Amerika Serikat juga mulai merasakan dampaknya.
Survei April 2026 dari American Hotel & Lodging Association (AHLA), asosiasi industri perhotelan AS, menunjukkan hampir 80 persen operator hotel di 11 kota tuan rumah AS mencatat pemesanan di bawah proyeksi awal . Di Kansas City, sekitar 85 hingga 90 persen hotel melaporkan permintaan yang bahkan lebih rendah daripada musim panas biasa tanpa acara besar .
Di Philadelphia dan San Francisco, lebih dari 70 persen hotel mengatakan pemesanan mereka tertinggal dari target . Miami menjadi kota tuan rumah dengan kinerja relatif terbaik, tetapi tetap 45 persen pemilik hotel di kota tersebut memperkirakan pemesanan akan berada di bawah harapan .
AHLA menyebut pembatalan blok kamar FIFA, hambatan perjalanan internasional, dan kenaikan biaya sebagai sejumlah penyebab utama . Sekitar 65 hingga 70 persen pelaku usaha hotel yang disurvei mengatakan penundaan visa dan ketegangan geopolitik “secara signifikan membatasi minat internasional” .
Tarif kamar pada hari pertandingan di Atlanta, Dallas, Miami, Philadelphia, dan San Francisco juga turun sekitar 30 persen dibandingkan awal 2026, menurut perusahaan analitik Lighthouse Intelligence .
Perkembangan ini bertolak belakang dengan proyeksi awal. Tourism Economics sebelumnya memperkirakan Piala Dunia akan menghasilkan belanja wisatawan sebesar 6,4 miliar dolar AS di Amerika Serikat dan lebih dari 6,5 juta kunjungan ke stadion . Dengan tren pemesanan yang melemah, angka tersebut kini dinilai sulit tercapai.
Perkiraan berikutnya bahkan menyebut Amerika Serikat mungkin hanya menerima sekitar 1,24 juta pengunjung internasional selama turnamen berlangsung —jauh di bawah ekspektasi awal.
Perselisihan visa antara AS dan Iran menjadi konflik paling politis dalam persiapan turnamen.
Para pemain Iran dilaporkan telah memperoleh visa AS sehingga dapat tampil dalam pertandingan fase grup. Seluruh pertandingan fase grup Iran dijadwalkan berlangsung di Amerika Serikat .
Namun, sejumlah besar staf manajerial, eksekutif, dan teknis tim ditolak visanya menjelang turnamen . Televisi pemerintah Iran menyebut 15 anggota delegasi tidak mendapat izin masuk . Di antara mereka terdapat Sekretaris Jenderal Federasi Sepak Bola Iran Hedayat Mombeini dan wakil presidennya, Mehdi Mohammad Nabi. Status visa presiden federasi, Mehdi Taj, belum jelas .
Federasi Sepak Bola Iran mengecam penolakan tersebut sebagai tindakan “tidak sportif, sepenuhnya politis, dan bertentangan dengan hukum olahraga internasional” . Kedutaan Besar Iran di Turki menyebutnya sebagai “bentuk terburuk campur tangan politik yang bias dalam olahraga” . Iran juga menilai pembatasan itu melanggar regulasi FIFA serta kewajiban negara tuan rumah, dan berjanji membawa persoalan tersebut melalui FIFA .
Penolakan terhadap suporter dan pembatasan terhadap delegasi Iran menempatkan FIFA dalam posisi serba sulit. Di satu sisi, tim-tim tetap dijadwalkan bertanding. Di sisi lain, sebagian suporter dan anggota penting delegasi tidak dapat mengakses pertandingan dengan cara yang sama.
Pernyataan FIFA bahwa tiket pertandingan tidak menjamin izin masuk ke negara tuan rumah menjadi pengingat penting bagi calon penonton . Bagi pemegang tiket, tiket hanyalah satu bagian dari perjalanan: mereka tetap harus memenuhi aturan visa dan pemeriksaan imigrasi AS yang berlaku.
Jika hambatan ini berlanjut, dampaknya bukan hanya tribun yang berpotensi lebih sepi dari perkiraan. Kota-kota tuan rumah juga dapat kehilangan sebagian manfaat ekonomi dari kedatangan wisatawan internasional, sementara FIFA harus menjawab pertanyaan yang lebih besar tentang akses yang setara terhadap turnamen global.
Di Maroko, Azzedine Al-Attarawy, ketua Asosiasi Pendukung Tim Nasional Maroko, mengatakan 40 dari 42 pemohon visa AS ditolak tanpa penjelasan. Para pemohon disebut telah membeli paket tiket untuk tiga pertandingan dengan harga sekitar 500 hingga 1.500 dolar AS . Sebagian juga telah memesan kamar hotel dengan tarif 400 hingga 1.000 dolar AS per malam .
Situasi di Ghana dilaporkan lebih mencolok. Salah satu laporan menyebut bahwa dari 150 suporter Ghana yang menjalani wawancara visa di Kedutaan Besar AS di Accra, hanya tiga orang yang disetujui—tingkat keberhasilan sekitar 2 persen. Mereka disebut telah membawa bukti tiket, reservasi hotel, dan kemampuan finansial . Laporan yang sama memperkirakan lebih dari 400 warga Ghana mengalami penolakan .
Namun, informasi mengenai penolakan massal suporter Ghana tidak sepenuhnya seragam. Menteri Olahraga dan Rekreasi Ghana kemudian membantah laporan bahwa kelompok suporter yang dikoordinasikan pemerintah telah mengalami penolakan massal, dengan mengatakan bahwa mereka bahkan belum menjalani wawancara visa pada saat pernyataan tersebut dibuat . Karena itu, angka penolakan dari Ghana perlu dipandang sebagai laporan yang masih diperdebatkan, bukan fakta yang telah terkonfirmasi secara independen.
Hambatan ini muncul di tengah kebijakan imigrasi AS yang lebih luas. Sebuah keputusan pada Desember memperluas daftar negara yang dikenai pembatasan visa menjadi 39 negara, termasuk Haiti, Iran, Pantai Gading, dan Senegal—semuanya terkait dengan peserta atau kualifikasi Piala Dunia .
Keputusan tersebut menyediakan pengecualian bagi atlet, pelatih, anggota tim yang menjalankan fungsi pendukung penting, serta keluarga dekat yang bepergian untuk mengikuti ajang olahraga besar. Akan tetapi, pengecualian itu tidak secara otomatis berlaku bagi suporter biasa yang telah memegang tiket .
Secara terpisah, pemerintah AS juga menangguhkan pemrosesan visa imigran untuk 75 negara. Daftar itu mencakup delapan negara peserta Piala Dunia: Brasil, Kolombia, Mesir, Ghana, Yordania, Maroko, Tunisia, dan Uruguay. Penangguhan tersebut secara formal tidak berlaku untuk visa turis, tetapi gangguan di kantor visa dan pemeriksaan yang lebih ketat telah menambah ketidakpastian bagi calon pelancong .
Krisis visa tidak hanya memengaruhi suporter. Industri hotel di Amerika Serikat juga mulai merasakan dampaknya.
Survei April 2026 dari American Hotel & Lodging Association (AHLA), asosiasi industri perhotelan AS, menunjukkan hampir 80 persen operator hotel di 11 kota tuan rumah AS mencatat pemesanan di bawah proyeksi awal . Di Kansas City, sekitar 85 hingga 90 persen hotel melaporkan permintaan yang bahkan lebih rendah daripada musim panas biasa tanpa acara besar .
Di Philadelphia dan San Francisco, lebih dari 70 persen hotel mengatakan pemesanan mereka tertinggal dari target . Miami menjadi kota tuan rumah dengan kinerja relatif terbaik, tetapi tetap 45 persen pemilik hotel di kota tersebut memperkirakan pemesanan akan berada di bawah harapan .
AHLA menyebut pembatalan blok kamar FIFA, hambatan perjalanan internasional, dan kenaikan biaya sebagai sejumlah penyebab utama . Sekitar 65 hingga 70 persen pelaku usaha hotel yang disurvei mengatakan penundaan visa dan ketegangan geopolitik “secara signifikan membatasi minat internasional” .
Tarif kamar pada hari pertandingan di Atlanta, Dallas, Miami, Philadelphia, dan San Francisco juga turun sekitar 30 persen dibandingkan awal 2026, menurut perusahaan analitik Lighthouse Intelligence .
Perkembangan ini bertolak belakang dengan proyeksi awal. Tourism Economics sebelumnya memperkirakan Piala Dunia akan menghasilkan belanja wisatawan sebesar 6,4 miliar dolar AS di Amerika Serikat dan lebih dari 6,5 juta kunjungan ke stadion . Dengan tren pemesanan yang melemah, angka tersebut kini dinilai sulit tercapai.
Perkiraan berikutnya bahkan menyebut Amerika Serikat mungkin hanya menerima sekitar 1,24 juta pengunjung internasional selama turnamen berlangsung —jauh di bawah ekspektasi awal.
Perselisihan visa antara AS dan Iran menjadi konflik paling politis dalam persiapan turnamen.
Para pemain Iran dilaporkan telah memperoleh visa AS sehingga dapat tampil dalam pertandingan fase grup. Seluruh pertandingan fase grup Iran dijadwalkan berlangsung di Amerika Serikat .
Namun, sejumlah besar staf manajerial, eksekutif, dan teknis tim ditolak visanya menjelang turnamen . Televisi pemerintah Iran menyebut 15 anggota delegasi tidak mendapat izin masuk . Di antara mereka terdapat Sekretaris Jenderal Federasi Sepak Bola Iran Hedayat Mombeini dan wakil presidennya, Mehdi Mohammad Nabi. Status visa presiden federasi, Mehdi Taj, belum jelas .
Federasi Sepak Bola Iran mengecam penolakan tersebut sebagai tindakan “tidak sportif, sepenuhnya politis, dan bertentangan dengan hukum olahraga internasional” . Kedutaan Besar Iran di Turki menyebutnya sebagai “bentuk terburuk campur tangan politik yang bias dalam olahraga” . Iran juga menilai pembatasan itu melanggar regulasi FIFA serta kewajiban negara tuan rumah, dan berjanji membawa persoalan tersebut melalui FIFA .
Penolakan terhadap suporter dan pembatasan terhadap delegasi Iran menempatkan FIFA dalam posisi serba sulit. Di satu sisi, tim-tim tetap dijadwalkan bertanding. Di sisi lain, sebagian suporter dan anggota penting delegasi tidak dapat mengakses pertandingan dengan cara yang sama.
Pernyataan FIFA bahwa tiket pertandingan tidak menjamin izin masuk ke negara tuan rumah menjadi pengingat penting bagi calon penonton . Bagi pemegang tiket, tiket hanyalah satu bagian dari perjalanan: mereka tetap harus memenuhi aturan visa dan pemeriksaan imigrasi AS yang berlaku.
Jika hambatan ini berlanjut, dampaknya bukan hanya tribun yang berpotensi lebih sepi dari perkiraan. Kota-kota tuan rumah juga dapat kehilangan sebagian manfaat ekonomi dari kedatangan wisatawan internasional, sementara FIFA harus menjawab pertanyaan yang lebih besar tentang akses yang setara terhadap turnamen global.