Starbucks menghentikan sistem inventaris AI “Automated Counting” pada Mei 2026—hanya sembilan bulan setelah diluncurkan di lebih dari 11.000 toko Amerika Utara—karena sering terjadi kesalahan perhitungan dan identifik... Teknologi dari startup NomadGo menggunakan kamera tablet dan computer vision untuk memindai rak...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What happened with Starbucks’ AI-powered “Automated Counting” inventory system that was launched in September 2025 with NomadGo to scan shel. Article summary: Starbucks rolled out NomadGo’s AI-based “Automated Counting” system in September 2025 across more than 11,000 North American stores, using store tablets with cameras plus LiDAR-style spatial sensing to scan shelves and b. Topic tags: general, general web, user generated. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "# NomadGo’s Inventory AI Brings Automated Counting to More than 11,000 Starbucks Locations. REDMOND, WA – September 3, 2025 – NomadGo, the industry leader in Inventory AI, today an" source context "NomadGo's Inventory AI Brings Automated Counting to More than ..." Reference image 2: visual subject "- Best gifts f
Starbucks sempat menjalankan salah satu implementasi AI inventaris terbesar di industri layanan makanan. Namun proyek tersebut dihentikan kurang dari setahun setelah peluncuran.
Pada September 2025, Starbucks memperkenalkan sistem AI bernama “Automated Counting”, dikembangkan bersama startup teknologi NomadGo. Sistem ini diluncurkan di lebih dari 11.000 toko Starbucks di Amerika Utara untuk menggantikan proses pengecekan stok manual.
Tujuannya sederhana: karyawan cukup menggunakan tablet untuk memindai rak dan lemari pendingin, lalu perangkat lunak berbasis computer vision akan mengenali serta menghitung jumlah produk secara otomatis.
Namun pada Mei 2026, Starbucks memutuskan menghentikan program tersebut setelah berbagai laporan dari toko menunjukkan bahwa sistem sering membuat kesalahan yang mengganggu operasional sehari‑hari.
Teknologi ini memanfaatkan kamera tablet, computer vision, dan sensor spasial untuk memindai area penyimpanan—mulai dari rak, kulkas, hingga ruang stok di belakang toko.
Karyawan cukup menggerakkan tablet ke arah produk, dan sistem akan:
NomadGo merancang sistem ini agar bisa memproses gambar langsung di perangkat mobile, bahkan menampilkan overlay data di layar agar staf bisa memverifikasi hasil hitungan dengan cepat.
Jika berhasil, teknologi ini diharapkan memberi beberapa keuntungan operasional:
Setelah digunakan secara luas, sistem AI ini ternyata menghadapi masalah akurasi.
Laporan yang mengutip komunikasi internal perusahaan menyebutkan bahwa alat tersebut sering salah menghitung, salah memberi label produk, atau bahkan tidak mendeteksi stok sama sekali.
Salah satu masalah yang paling sering terjadi adalah produk yang terlihat mirip.
Contohnya berbagai jenis susu—seperti susu sapi, oat milk, atau alternatif lainnya—yang kadang dianggap sebagai produk yang sama oleh sistem.
Di Starbucks, kesalahan ini berdampak langsung pada operasional. Banyak minuman bergantung pada ketersediaan susu, sehingga kesalahan stok bisa membuat menu tertentu tidak dapat disajikan.
Alih‑alih menghemat waktu, karyawan akhirnya harus memeriksa ulang stok secara manual untuk memastikan data benar.
Jika sistem inventaris tidak akurat, dampaknya bisa merambat ke berbagai masalah lain, seperti:
Dalam kondisi seperti itu, otomatisasi justru kehilangan manfaat utamanya.
Pada Mei 2026, Starbucks memberi tahu toko bahwa program Automated Counting akan dihentikan. Mulai saat itu, bahan minuman seperti susu dan sirup akan dihitung dengan metode manual seperti kategori inventaris lainnya.
Keputusan ini juga berkaitan dengan perubahan strategi operasional yang lebih luas.
Di bawah CEO Brian Niccol, Starbucks menjalankan strategi pemulihan yang dikenal sebagai “Back to Starbucks.” Program ini bertujuan memperbaiki masalah kekurangan produk dan meningkatkan konsistensi operasional di toko.
Fokus utamanya meliputi:
Dalam konteks tersebut, Starbucks menilai metode manual lebih dapat diandalkan untuk memastikan bahan baku tersedia dan menu tetap bisa disajikan kepada pelanggan.
Kasus ini menjadi contoh penting bahwa teknologi AI yang terlihat baik dalam demo belum tentu stabil di lingkungan operasional nyata.
Lingkungan toko ritel memiliki banyak faktor yang menyulitkan sistem computer vision, seperti:
Kesalahan kecil dalam pengenalan produk bisa menjadi masalah besar ketika sistem digunakan di ribuan lokasi sekaligus.
Pada akhirnya, Starbucks menyimpulkan bahwa tingkat akurasi sistem belum cukup untuk menggantikan proses manual. Setelah sembilan bulan penggunaan penuh, perusahaan memilih menghentikan proyek tersebut dan kembali ke metode yang lebih stabil untuk operasional toko sehari‑hari.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Starbucks menghentikan sistem inventaris AI “Automated Counting” pada Mei 2026—hanya sembilan bulan setelah diluncurkan di lebih dari 11.000 toko Amerika Utara—karena sering terjadi kesalahan perhitungan dan identifik...
Starbucks menghentikan sistem inventaris AI “Automated Counting” pada Mei 2026—hanya sembilan bulan setelah diluncurkan di lebih dari 11.000 toko Amerika Utara—karena sering terjadi kesalahan perhitungan dan identifik... Teknologi dari startup NomadGo menggunakan kamera tablet dan computer vision untuk memindai rak serta menghitung stok seperti susu dan sirup, tetapi akurasinya tidak cukup stabil di kondisi toko nyata.
Sebagai bagian dari strategi pemulihan “Back to Starbucks” oleh CEO Brian Niccol, perusahaan kembali ke proses penghitungan manual dan sistem pengisian ulang stok harian untuk menjaga ketersediaan menu.