Sony mendapat kritik setelah contoh foto promosi Xperia 1 VIII menunjukkan hasil “AI‑assisted” yang dianggap lebih terang, datar, dan kehilangan detail dibanding foto asli. Kontroversi ini menyoroti perdebatan besar di fotografi smartphone: apakah AI harus mengoptimalkan foto secara agresif atau mempertahankan tampi...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What happened with Sony’s new Xperia 1 VIII AI Camera Assistant that led to online backlash, how did the company respond to criticism over t. Article summary: Sony drew backlash because its Xperia 1 VIII marketing showed “before” and “after” AI Camera Assistant samples where the AI-assisted versions appeared worse to many viewers: brighter, flatter, washed out, overexposed, an. Topic tags: general, general web, user generated. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "# Sony’s awful ‘AI Camera Assistant’ for Xperia is the final boss of the worst camera trend [Gallery]. Yes, Sony actually seems to think that image you’re seeing above looks better" source context "Sony's new AI is the final boss of the worst camera trend [Gallery]" Reference image 2: visual subject "# Sony’s awf
Sony merilis flagship terbarunya, Xperia 1 VIII, dengan fitur fotografi baru bernama AI Camera Assistant. Tujuannya adalah membantu pengguna mengambil foto yang lebih ekspresif dengan saran pengaturan kamera berbasis AI.
Namun bukannya dipuji, fitur ini malah menjadi bahan kritik di internet.
Ketika Sony mempublikasikan contoh foto promosi dengan format "before" dan "after", banyak orang merasa bahwa gambar yang menggunakan bantuan AI justru terlihat lebih buruk daripada foto aslinya. Dari sinilah gelombang kritik di media sosial dan forum teknologi mulai muncul.
Kontroversi bermula saat Sony mengunggah beberapa foto perbandingan untuk mempromosikan AI Camera Assistant. Dalam contoh tersebut, satu foto diambil dengan pengaturan biasa, sementara foto lainnya menggunakan saran dari fitur AI tersebut.
Alih‑alih terlihat lebih baik, banyak penonton menilai versi AI tampak terlalu diproses. Kritik yang sering muncul antara lain:
Contoh yang paling banyak dibicarakan adalah foto sandwich yang beredar luas di media sosial. Banyak orang mengatakan bahwa versi AI kehilangan tekstur dan pencahayaan alami yang ada di foto asli.
Reaksi ini dengan cepat menyebar di komunitas teknologi. Bahkan CEO Nothing, Carl Pei, ikut menyindir postingan tersebut dan menyebutnya terlihat seperti upaya "engagement farming".
Setelah kritik menjadi viral, Sony mengeluarkan penjelasan tentang bagaimana fitur tersebut sebenarnya bekerja.
Perusahaan menegaskan bahwa AI Camera Assistant tidak mengedit foto setelah diambil. Sebaliknya, AI menganalisis pemandangan sebelum foto diambil dan memberikan beberapa rekomendasi pengaturan kamera kepada pengguna.
Biasanya sistem akan menampilkan beberapa opsi gaya foto dengan pendekatan kreatif yang berbeda. Misalnya variasi pada:
Pengguna kemudian bebas memilih salah satu opsi tersebut — atau mengabaikannya sama sekali dan memotret dengan pengaturan sendiri.
Dengan kata lain, contoh "before–after" yang diposting Sony sebenarnya menunjukkan dua konfigurasi pengambilan gambar yang berbeda, bukan foto yang diedit AI setelah dipotret.
Sony memasukkan fitur ini ke dalam sistem yang mereka sebut Xperia Intelligence.
Ide utamanya adalah membantu pengguna menemukan pengaturan kamera yang cocok dengan cepat berdasarkan apa yang dilihat kamera. AI akan mempertimbangkan beberapa faktor seperti:
Berdasarkan analisis tersebut, sistem dapat menyarankan penyesuaian seperti warna, exposure, bokeh, atau pilihan lensa untuk menghasilkan gaya foto tertentu.
Secara praktis, fitur ini lebih mirip asisten pengambilan foto pintar daripada editor foto berbasis AI yang memodifikasi gambar setelah diambil.
Tidak.
Sony mengatakan pengguna dapat memilih salah satu rekomendasi AI atau sepenuhnya mengabaikannya dan menggunakan pengaturan manual.
Pendekatan ini konsisten dengan filosofi seri Xperia, yang selama ini sering menarik perhatian penggemar fotografi karena menawarkan kontrol manual yang mirip dengan kamera Sony Alpha.
Reaksi keras terhadap contoh foto Sony sebenarnya mencerminkan perdebatan yang sudah lama terjadi di dunia kamera smartphone.
Sebagian besar ponsel modern menggunakan computational photography—teknik perangkat lunak yang menggabungkan beberapa foto, mencerahkan bayangan, meningkatkan warna, dan mengubah detail untuk membuat gambar lebih menarik secara visual.
Pendekatan ini menghasilkan foto yang siap dibagikan ke media sosial, tetapi sebagian fotografer merasa hasilnya sering terlihat terlalu diproses atau tidak alami.
Kasus Xperia 1 VIII menjadi sorotan karena Sony selama ini dikenal memposisikan ponselnya sebagai perangkat dengan tampilan foto yang lebih natural dan kontrol manual yang kuat. Ketika contoh AI terlihat terlalu terang dan datar, banyak penggemar merasa hal itu bertentangan dengan identitas tersebut.
Pada akhirnya, kontroversi ini menggambarkan dua filosofi berbeda dalam fotografi smartphone:
AI Camera Assistant Sony sebenarnya dirancang sebagai alat panduan kreatif. Namun cara fitur itu dipresentasikan dalam materi promosi membuatnya terlihat seperti contoh dari masalah yang justru ingin dihindari oleh banyak fotografer.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Sony mendapat kritik setelah contoh foto promosi Xperia 1 VIII menunjukkan hasil “AI‑assisted” yang dianggap lebih terang, datar, dan kehilangan detail dibanding foto asli.
Sony mendapat kritik setelah contoh foto promosi Xperia 1 VIII menunjukkan hasil “AI‑assisted” yang dianggap lebih terang, datar, dan kehilangan detail dibanding foto asli. Kontroversi ini menyoroti perdebatan besar di fotografi smartphone: apakah AI harus mengoptimalkan foto secara agresif atau mempertahankan tampilan alami dari sebuah adegan.