Ia memang dikenal sering mengunjungi pasar makanan lokal saat melakukan perjalanan bisnis internasional. Karena terjadi di tengah kunjungan diplomatik yang sensitif, momen itu pun dianggap sebagai bentuk “street‑food diplomacy”—cara informal menunjukkan kedekatan budaya di tengah ketegangan geopolitik.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari perjalanan diplomatik yang berpusat pada pertemuan antara Trump dan Xi di Beijing.
Huang bergabung dengan delegasi bisnis Amerika sebagai tambahan di menit terakhir, bersama sejumlah eksekutif besar AS lainnya.
Kehadirannya membuat Nvidia ikut menjadi sorotan dalam diskusi mengenai perdagangan teknologi, rantai pasokan semikonduktor, dan infrastruktur kecerdasan buatan.
Hal ini tidak mengherankan. Nvidia adalah perancang GPU yang digunakan untuk melatih dan menjalankan banyak model AI paling canggih di dunia—menjadikannya pemain kunci dalam ekonomi AI global.
Selama kunjungan tersebut, Huang menggunakan nada yang relatif diplomatis tentang hubungan AS–China.
Ia mengatakan berharap pertemuan Trump dan Xi akan “sangat sukses” dan dapat memperkuat hubungan antara kedua negara.
Huang juga sebelumnya memuji kekuatan ekosistem AI China, bahkan menyebut model AI buatan perusahaan China sebagai “kelas dunia” serta menyoroti besarnya komunitas pengembang dan inovasi teknologi di negara tersebut.
Pernyataan seperti itu menunjukkan posisi Nvidia yang cukup rumit: perusahaan harus mematuhi aturan ekspor pemerintah AS, tetapi pada saat yang sama ingin mempertahankan hubungan dengan pelanggan besar di China.
Di balik video mi yang viral, ada cerita bisnis yang jauh lebih besar.
Laporan menunjukkan pemerintah AS telah memberi lampu hijau bagi sekitar 10 perusahaan China untuk membeli chip AI H200 milik Nvidia, akselerator pusat data paling kuat kedua yang dimiliki perusahaan.
Beberapa raksasa teknologi China—seperti Alibaba, Tencent, ByteDance, dan JD.com—disebut dalam laporan sebagai calon pembeli jika pengiriman benar‑benar terjadi.
Namun hingga kini pengiriman chip tersebut belum dimulai, sehingga kesepakatan bernilai besar itu masih berada dalam ketidakpastian akibat pengawasan regulasi dan ketegangan geopolitik antara Washington dan Beijing.
Nilainya tidak kecil. Sejumlah analis memperkirakan pasar infrastruktur AI di China bisa mencapai puluhan miliar dolar per tahun, bahkan mendekati US$50 miliar jika Nvidia kembali mendapat akses lebih luas ke pasar tersebut.
Kunjungan ini juga terjadi hanya beberapa hari sebelum momen penting bagi investor Nvidia.
Perusahaan dijadwalkan melaporkan hasil keuangan kuartal pertama tahun fiskal 2027 pada 20 Mei 2026, mencakup periode yang berakhir pada 26 April 2026.
Karena Nvidia mendominasi pasar chip untuk pelatihan AI, setiap perubahan dalam kebijakan ekspor atau permintaan dari China bisa berdampak langsung pada prospek pendapatan jangka panjangnya.
Itulah sebabnya bahkan momen sederhana—seorang CEO makan mi di trotoar Beijing—bisa memiliki makna simbolis yang besar.
Video tersebut menjadi viral karena memperlihatkan sisi manusiawi dari salah satu tokoh paling berpengaruh di industri teknologi.
Namun alasan sebenarnya momen itu penting adalah konteksnya.
Di dalam video itu ada pemimpin perusahaan yang chip‑nya menjalankan sebagian besar ledakan AI global—sedang berada di China saat pemerintah dua negara terbesar dunia berdebat tentang kontrol ekspor, persaingan teknologi, dan masa depan infrastruktur AI.
Mi‑nya memang menarik perhatian.
Tetapi cerita sebenarnya adalah perebutan global atas chip AI—dan peran Nvidia di tengahnya.
Comments
0 comments