Posisi wallet tersebut berubah-ubah sepanjang periode ini:
Rangkaian perubahan ini penting karena data posisi on-chain adalah gambaran pada waktu tertentu, bukan catatan yang selalu tetap. Nilai posisi, jumlah BTC, harga likuidasi, serta untung-ruginya dapat berubah cepat mengikuti harga dan tindakan trader.
Ketika harga Bitcoin terus naik, Hyperliquid melakukan likuidasi paksa terhadap 288 BTC dari posisi short tersebut. Penjualan dilaporkan berlangsung dalam dua tahap:
Total eksposur yang terkena likuidasi mencapai sekitar $18,55 juta. Namun, wallet itu dilaporkan masih mempertahankan short 512 BTC, dengan nilai sekitar $33 juta dan harga likuidasi baru $64.665,18.
Artinya, istilah “dilikuidasi” dalam kasus ini tidak berarti seluruh wallet lenyap. Platform hanya menutup sebagian eksposur yang masih terbuka pada saat itu. Sebelumnya, trader juga sudah beberapa kali mengurangi dan menambah ukuran posisinya.
Saat posisi short berleverage dilikuidasi, eksposur tersebut harus ditutup dengan membeli kembali aset yang menjadi dasar transaksi. Jika banyak posisi short memiliki harga likuidasi yang berdekatan, pembelian paksa itu dapat menambah tekanan beli ketika harga sedang naik.
Pergerakan tersebut berpotensi memicu likuidasi berikutnya. Mekanisme berantai seperti ini sering disebut short squeeze atau kaskade likuidasi: kenaikan harga memaksa short seller membeli kembali BTC, pembelian itu mendorong harga lebih tinggi, lalu posisi short lain ikut terancam.
Risikonya terlihat dari laporan yang mencakup empat wallet Hyperliquid. Keempatnya disebut memegang total 5.375 BTC dalam posisi short senilai sekitar $343 juta, dengan harga likuidasi yang berkumpul antara sekitar $64.101 dan $66.030. Konsentrasi level seperti ini dapat menciptakan zona risiko ketika harga menembusnya.
Meski demikian, likuidasi bukan satu-satunya penentu arah Bitcoin. Pembelian paksa dapat memperbesar pergerakan jangka pendek, tetapi tidak membuktikan bahwa reli akan terus berlanjut setelah posisi-posisi tersebut tersapu.
Laporan terpisah pada Mei 2026 menyebut sebuah short Bitcoin 250 BTC senilai sekitar $20,32 juta, dibuka dengan leverage 40x dan ambang likuidasi di dekat $82.236. Sumber yang tersedia hanya menunjukkan bahwa posisi tersebut berada dekat dengan level likuidasi; belum ada bukti independen yang memastikan posisi itu benar-benar dilikuidasi.
Begitu pula dengan klaim mengenai 1.800 BTC posisi short yang rentan, 360 BTC yang sudah dilikuidasi setelah Bitcoin sempat melewati $65.000, atau posisi short lain sebesar 1.412 BTC senilai sekitar $89,79 juta. Angka-angka tersebut tidak dapat dikonfirmasi secara independen dari bukti yang tersedia di sini. Posisi derivatif juga dapat berubah di antara dua tangkapan data.
Pelajaran paling jelas bukan soal apakah trader ini benar atau salah memprediksi Bitcoin, melainkan tentang risiko leverage dan struktur pasar. Dengan leverage 40x, ruang untuk menahan pergerakan harga yang berlawanan sangat sempit. Trader harus terus menimbang pilihan seperti memangkas posisi, menambah jaminan, atau mengubah ukuran eksposur sebelum sistem melakukan likuidasi paksa.
Motif pemilik wallet tersebut tidak diketahui. Posisi short bisa saja merupakan taruhan bahwa harga akan turun, tetapi juga dapat berfungsi sebagai lindung nilai, strategi basis atau funding, maupun bagian dari portofolio yang tersebar di sejumlah platform dan alamat. Data on-chain hanya memperlihatkan posisi yang terlihat, bukan seluruh neraca, lindung nilai, atau alasan di balik transaksi trader.
Karena itu, aktivitas whale lebih tepat dipandang sebagai sinyal potensi positioning dan volatilitas jangka pendek—bukan ramalan pasti untuk Bitcoin. Arah pasar yang lebih luas tetap dipengaruhi likuiditas, suku bunga, kondisi makroekonomi, arus dana institusional dan pasar spot, regulasi, serta sentimen risiko. Kasus 0xff84 menunjukkan bagaimana satu posisi derivatif yang terkonsentrasi dapat memengaruhi perilaku pasar dalam jangka pendek, tetapi tidak cukup untuk menjadi dasar tunggal dalam memprediksi arah Bitcoin.