“Super Game” pertama kali diperkenalkan Sega pada 2021 sebagai inisiatif jangka menengah hingga panjang, bukan sebagai satu game yang sudah dipamerkan jelas ke publik. Laporan saat itu menggambarkannya sebagai rencana proyek AAA yang memanfaatkan basis teknologi Sega secara lebih luas dan berupaya “melampaui” format game tradisional .
Skalanya memang terdengar besar. Sega kemudian menargetkan tahun fiskal yang berakhir Maret 2026 sebagai waktu peluncuran “Super Game” pertama. Proyek itu digambarkan sebagai blockbuster global yang ingin menonjol di ekosistem game yang lebih luas—bukan hanya pemain, tetapi juga streamer dan penonton . Salah satu laporan juga menyebut CEO Sega pernah membahas potensi pendapatan seumur hidup proyek tersebut di atas ¥100 miliar
.
Karena itu, pembatalannya terasa penting. Sega bukan cuma menunda game tanpa nama; perusahaan sedang mundur dari salah satu simbol terbesar strategi pertumbuhan berbasis live-service.
Jawaban paling langsung: Sega Sammy meninjau ulang posisi strategis bisnis games-as-a-service, lalu memutuskan bahwa taruhan F2P besar seperti ini tidak lagi menjadi prioritas sekuat sebelumnya. GamesRadar melaporkan bahwa sebuah slide bertajuk evaluasi GaaS menyebut game free-to-play seperti Sonic Rumble Party kesulitan setelah rilis, lalu memuat kalimat lugas: “Decided to cancel Super Game” .
VGC melaporkan arah yang sama: Sega menurunkan prioritas game free-to-play dalam waktu dekat, dan lebih dari 100 developer yang sebelumnya mengerjakan judul F2P sudah dipindahkan ke tim “Full Game” yang berfokus pada IP utama perusahaan . Liputan lain berdasarkan materi Sega Sammy juga mengaitkan keputusan ini dengan performa F2P dan GaaS terbaru yang lemah
.
Konteks keuangannya juga tidak sedang ringan. Materi Q3 Sega Sammy menyebut hasil perusahaan berada di bawah prakiraan awal, dengan faktor yang mencakup bisnis Entertainment dan Gaming, penjualan full game, judul F2P baru, serta Rovio . Perusahaan juga mencatat rugi penurunan nilai sekitar ¥31,3 miliar pada goodwill dan aset tak berwujud terkait Rovio, dan Japan IR melaporkan Sega Sammy merevisi proyeksi laba bersih setahun penuh menjadi rugi ¥13 miliar
.
Namun, penting untuk tidak menarik kesimpulan berlebihan. Data itu tidak membuktikan Rovio sebagai penyebab langsung “Super Game” dibatalkan. Yang terlihat jelas adalah Sega sedang mengurangi risiko di saat strategi F2P dan live-service berada di bawah tekanan.
Beberapa game sering disebut dalam pembahasan ini, tetapi bobot buktinya berbeda-beda.
Perbedaannya penting. Sonic Rumble Party muncul dalam konteks keputusan pembatalan saat ini. Hyenas menunjukkan bahwa ambisi live-service Sega sebelumnya juga pernah tersandung. Sementara itu, Persona 5: The Phantom X tidak seharusnya diberi bobot penyebab yang sama tanpa bukti publik yang lebih kuat.
Penggantinya tampaknya bukan satu mega-proyek baru. Yang berubah adalah alokasi tenaga dan prioritas. Sega memindahkan lebih dari 100 developer dari pekerjaan free-to-play ke tim “Full Game” yang berfokus pada IP utama, sambil menurunkan prioritas pengembangan F2P dalam waktu dekat .
Arah ini sejalan dengan sinyal Sega sebelumnya. VGC pernah melaporkan bahwa Sega berencana merilis lebih sedikit game penuh baru, tetapi berinvestasi lebih dalam pada tim Sonic, Atlus/Persona, dan Like a Dragon . Jika digabung dengan pembatalan “Super Game”, strateginya terlihat bukan sebagai berhenti membuat game besar, melainkan memilih taruhan yang lebih sedikit, lebih dikenal, dan lebih dekat dengan kekuatan lama Sega.
Dengan kata lain, Sega tetap ingin mengejar skala besar. Bedanya, skala itu kini tampaknya ingin ditopang oleh waralaba yang sudah dipahami perusahaan, bukan oleh platform GaaS baru yang mahal dan dibangun dari nol.
Pembatalan “Super Game” tidak otomatis membatalkan rencana kebangkitan IP klasik Sega. GamesRadar melaporkan bahwa proyek baru Crazy Taxi dan Jet Set Radio masih berjalan meski “Super Game” dihentikan . Laporan terpisah juga menyebut rencana reboot IP klasik Sega tetap dalam pengembangan, termasuk Shinobi, Jet Set Radio, Streets of Rage, Golden Axe, dan Crazy Taxi, yang sebelumnya diumumkan di The Game Awards 2023
.
Detail rilisnya masih terbatas dalam laporan yang tersedia. Namun pesannya cukup jelas: Sega mencoba memisahkan ekspansi live-service yang berisiko tinggi dari kebangkitan merek-merek lama yang lebih mudah dikenali pemain.
Pembatalan ini juga tidak berarti Sega mundur dari ekspansi Sonic di luar game. Sega mengumumkan kemitraan multi-tahun dengan JAKKS Pacific dan Disguise untuk Sonic the Hedgehog 4, film layar lebar Paramount Pictures yang dijadwalkan tayang di bioskop pada 19 Maret 2027 .
Itu sejalan dengan dorongan hiburan Sega yang lebih luas. VGC melaporkan bahwa bos transmedia Sega, Justin Scarpone, menggambarkan strategi untuk menjadikan Sega sebagai perusahaan hiburan dengan game sebagai pilar utama, bahkan membandingkan modelnya dengan Disney .
Jadi, masa depan Sega kemungkinan bukan “tidak ada lagi taruhan besar”. Yang berubah adalah campurannya: lebih banyak penekanan pada full game, IP besar yang sudah mapan, revival klasik yang selektif, dan perluasan media untuk merek seperti Sonic.
Sega membatalkan “Super Game” karena hitung-hitungan strategi free-to-play dan live-service tidak lagi terlihat cukup kuat untuk membenarkan skala taruhan tersebut. Sonic Rumble Party adalah contoh terbaru yang secara jelas disebut dalam laporan; Hyenas menjadi kisah peringatan lebih awal; sementara Persona 5: The Phantom X perlu ditempatkan secara hati-hati karena sumber yang tersedia tidak membuktikan peran langsungnya dalam pembatalan .
Yang menggantikan “Super Game” adalah Sega yang lebih konservatif, tetapi belum tentu kurang ambisius: fokus pada “Full Game”, IP utama, revival klasik seperti Crazy Taxi dan Jet Set Radio, serta proyek transmedia seperti Sonic the Hedgehog 4 .
Comments
0 comments