Tiga presiden bank regional The Fed—Lorie Logan, Beth Hammack, dan Neel Kashkari—menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan itu. Ini menjadi salah satu keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) yang paling terpecah sejak September 2016 .
Bagi pasar, perbedaan tersebut membuat keputusan mempertahankan suku bunga terlihat rapuh. Emas awalnya naik hingga 0,8% dan sempat menyentuh US$4.100 per troy ounce . Bitcoin juga ikut menguat beberapa menit setelah pengumuman .
Kenaikan awal itu mencerminkan kelegaan: The Fed tidak jadi menaikkan suku bunga saat itu. Namun, perhatian investor segera beralih dari keputusan hari ini ke kemungkinan langkah bank sentral AS pada September.
Ada tiga sinyal hawkish—kecenderungan mendukung kebijakan suku bunga lebih tinggi—yang mengubah arah perdagangan emas.
Kevin Warsh berulang kali menegaskan bahwa ia akan “mengecewakan” pihak yang mengira The Fed akan membiarkan inflasi berada di atas target 2% .
Pasar menilai Warsh tidak berusaha meredam pandangan para pejabat yang mendukung kenaikan suku bunga. Sikap tersebut dibaca sebagai ruang yang cukup terbuka untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya.
Suara dissent—suara berbeda dari keputusan mayoritas—dari tiga pejabat membuat keputusan 9-3 terasa jauh lebih hawkish daripada sekadar “suku bunga ditahan”.
Pesannya jelas: sebagian anggota komite menilai tekanan inflasi sudah cukup serius untuk ditangani dengan suku bunga yang lebih tinggi sekarang, bukan nanti .
Setelah keputusan diumumkan, swap suku bunga mulai memperhitungkan peluang sekitar 63%–67% untuk kenaikan 25 basis poin pada pertemuan FOMC September .
Perubahan ekspektasi ini mendorong imbal hasil riil naik. Bagi emas—aset yang tidak memberikan bunga atau kupon—kenaikan imbal hasil meningkatkan biaya peluang untuk menahannya. Dengan kata lain, investor bisa memperoleh imbal hasil yang lebih menarik dari aset berbunga, sehingga daya tarik emas berkurang.
Emas pun menghapus kenaikan awalnya, turun kembali di bawah US$4.050 dan mendekati harga sebelum keputusan The Fed, sekitar US$4.021 . Dari titik tertinggi intraday sekitar US$4.116,28, pergerakannya menunjukkan betapa cepat pasar mengubah fokus dari “The Fed tidak menaikkan suku bunga” menjadi “kenaikan berikutnya semakin mungkin”.
Pada 29 Juli, Iran meluncurkan rudal balistik ke arah pasukan Amerika Serikat yang berbasis di Yordania. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan Korps Garda Revolusi Islam Iran menembakkan beberapa rudal dalam upaya serangan mendadak terhadap personel Amerika Serikat . Seluruh rudal tersebut berhasil dicegat.
Serangan itu mengakhiri jeda konflik selama empat hari dan menghidupkan kembali kekhawatiran mengenai gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz.
Harga minyak Brent sebelumnya sudah menembus US$90 per barel pada 20 Juli, mencapai US$90,79 ketika Amerika Serikat dan Iran memperluas serangan yang mengganggu pengiriman energi melalui selat tersebut . Saat The Fed menggelar pertemuan, Brent masih bertahan di sekitar US$89–US$90 per barel .
Dampaknya terhadap emas bersifat dua arah:
Untuk sementara, saluran kedua lebih dominan di pasar: harga minyak naik, kekhawatiran inflasi meningkat, peluang kenaikan suku bunga bertambah, imbal hasil riil naik, lalu emas tertekan .
Setelah emas gagal bertahan di atas US$4.100 dan turun kembali ke bawah US$4.050, perhatian trader berpusat pada beberapa level teknikal berikut.
Emas kini sekitar 25% di bawah rekor tertingginya pada Januari 2026, yang berada di dekat US$5.600, dan masih berada dalam fase koreksi yang cukup dalam .
Untuk membalikkan tekanan tersebut, pasar membutuhkan perubahan pada salah satu penggerak utama: sikap The Fed yang lebih lunak, penurunan harga minyak, atau meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga. Selama ketiganya belum terjadi, setiap reli emas berisiko kembali menghadapi aksi jual.