Polisi Gaza—yang berada di bawah otoritas Hamas—menyatakan bahwa para polisi yang tewas adalah bagian dari aparat yang bertugas menjaga keamanan internal dan ketertiban sipil di wilayah tersebut.
Pernyataan kepolisian Gaza yang dikutip media menyebut bahwa serangan tersebut melibatkan dua rudal yang ditembakkan ke pos polisi di Al‑Tuam/Tawam.
Kawasan ini berada di barat Jabalia, salah satu daerah padat penduduk di Gaza utara yang berulang kali menjadi lokasi serangan udara sejak perang Gaza dimulai pada Oktober 2023.
Serangan tersebut terjadi lebih dari enam bulan setelah gencatan senjata yang diumumkan pada 10 Oktober 2025.
Walau gencatan senjata itu mengurangi pertempuran berskala besar, berbagai organisasi internasional mengatakan kekerasan masih terus terjadi.
Human Rights Watch pada Mei 2026 melaporkan bahwa infrastruktur kemanusiaan yang menopang kehidupan di Gaza masih berada dalam kondisi sangat tertekan, dengan serangan dan pembatasan yang terus berdampak pada warga sipil.
Kantor HAM PBB juga menyatakan bahwa warga Palestina di Gaza masih belum aman meski sudah berbulan‑bulan sejak gencatan senjata, karena serangan Israel tetap terjadi secara rutin.
Dalam laporan yang lebih luas tentang insiden serupa, Israel menyatakan bahwa mereka tetap memiliki hak untuk menyerang individu atau fasilitas yang dianggap sebagai ancaman, bahkan dalam kerangka gencatan senjata.
Insiden Al‑Tuam bukan satu‑satunya serangan yang menargetkan aparat kepolisian Gaza selama periode gencatan senjata.
Beberapa contoh terbaru yang dilaporkan media antara lain:
Analis dan laporan media mencatat bahwa Israel meningkatkan serangan terhadap struktur kepolisian Gaza, yang oleh Hamas digunakan untuk memulihkan administrasi sipil dan menjaga ketertiban di beberapa wilayah setelah periode pertempuran intens.
Pejabat Palestina mengatakan bahwa serangan terhadap fasilitas polisi dapat melemahkan keamanan lokal dan koordinasi distribusi bantuan kemanusiaan.
Hal ini karena unit polisi sering bertugas mengamankan jalan, konvoi bantuan, dan titik distribusi makanan atau logistik.
Situasi kemanusiaan secara keseluruhan tetap sangat rapuh. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan bahwa setidaknya 593 pekerja bantuan telah tewas di Gaza sejak Oktober 2023, termasuk beberapa korban setelah gencatan senjata Oktober 2025 diumumkan.
OCHA juga mencatat puluhan insiden kekerasan sejak gencatan senjata, yang menyebabkan korban tewas dan luka tambahan di seluruh wilayah Gaza.
Serangan di Al‑Tuam terjadi di tengah konflik yang telah menimbulkan korban sangat besar sejak perang dimulai pada Oktober 2023.
Penelitian dari proyek Costs of War Brown University, yang mengutip Kementerian Kesehatan Gaza, menyebut bahwa hingga 3 Oktober 2025 sedikitnya 67.075 orang tewas dan 169.430 orang terluka di Gaza.
Studi tersebut menyatakan bahwa jika jumlah korban tewas dan luka digabungkan, totalnya setara dengan lebih dari 10% populasi Gaza sebelum perang.
Angka korban terbaru terus berubah tergantung periode laporan dan sumber data, sehingga total kumulatif konflik masih berkembang seiring berlanjutnya situasi di lapangan.
Beberapa detail mengenai serangan di Al‑Tuam masih belum pasti dalam laporan yang tersedia:
Meski demikian, insiden ini kembali menyoroti bahwa kekerasan masih terus terjadi meskipun gencatan senjata secara formal masih berlaku, dan bahwa aparat keamanan lokal, warga sipil, serta sistem bantuan kemanusiaan di Gaza tetap berada dalam risiko tinggi.
Comments
0 comments