Setelah berminggu‑minggu kesaksian dari saksi dan eksekutif perusahaan, kedua pihak akhirnya menyampaikan argumen terakhir sebelum kasus diserahkan kepada juri.
Gugatan yang diajukan Musk pada 2024 menuduh CEO OpenAI Sam Altman dan para pemimpin lainnya mengkhianati rencana awal organisasi—yakni menjalankan OpenAI sebagai lembaga nonprofit yang mengembangkan AI demi kepentingan umat manusia.
Tim hukum Musk mengatakan OpenAI memanfaatkan reputasi dan dukungan finansial awal Musk untuk membangun organisasi, lalu secara bertahap mengubahnya menjadi perusahaan yang mengejar keuntungan. Mereka menggambarkan kasus ini sebagai pelanggaran terhadap kepercayaan amal ("charitable trust") yang seharusnya melindungi misi awal organisasi.
Sebaliknya, pengacara OpenAI menyebut narasi Musk tidak lengkap. Mereka berargumen bahwa pengembangan AI tingkat lanjut membutuhkan dana yang sangat besar—sesuatu yang sulit dicapai jika organisasi tetap menjadi nonprofit murni. Mereka juga menyatakan Musk mengetahui arah strategi tersebut dan menggugat terlalu lama setelah perubahan terjadi.
Dengan selesainya argumen penutup, juri kini bertugas menimbang bukti dan menentukan hasil perkara.
Salah satu fokus utama dalam argumen penutup adalah soal kredibilitas para tokoh utama.
Pengacara Musk berusaha meragukan kesaksian Sam Altman dengan menyatakan bahwa pimpinan OpenAI tidak jujur mengenai niat mereka sejak awal. Menurut mereka, organisasi yang semula didirikan untuk mengembangkan AI yang "aman" dan "terbuka" justru berubah menjadi kendaraan untuk keuntungan finansial.
Tim hukum OpenAI membalas dengan menyerang kredibilitas Musk. Mereka mengatakan Musk mengalami "selective amnesia"—seolah‑olah lupa bahwa ia mengetahui rencana perubahan struktur organisasi dan baru menggugat setelah OpenAI menjadi pemain besar dalam perlombaan AI global.
Karena banyak bagian kasus ini bergantung pada percakapan dan kesepahaman yang terjadi pada masa awal berdirinya OpenAI, juri harus menilai versi cerita yang berbeda tentang apa yang sebenarnya dijanjikan saat itu.
Sumber konflik terbesar adalah transformasi OpenAI sejak didirikan pada 2015 sebagai organisasi riset nonprofit hingga berkembang menjadi struktur yang memungkinkan investasi besar dan aktivitas komersial.
Musk mengatakan ia menyumbang sekitar 38 juta dolar AS pada tahun‑tahun awal OpenAI dengan pemahaman bahwa organisasi tersebut akan tetap menjadi nonprofit yang berfokus pada pengembangan AI demi kepentingan umat manusia. Ia berpendapat perubahan ke model yang berorientasi laba melanggar komitmen awal tersebut.
OpenAI menolak klaim itu. Menurut perusahaan, kontribusi Musk tidak disertai syarat hukum yang mengikat. Mereka juga menegaskan bahwa perubahan struktur diperlukan untuk mendanai riset AI yang sangat mahal dan membutuhkan investasi besar.
Persidangan ini juga menyinggung peran Microsoft sebagai investor utama. Musk menuduh perusahaan tersebut membantu terjadinya pelanggaran kewajiban amal, sementara Microsoft menyatakan tidak ada bukti bahwa mereka mengetahui adanya pelanggaran seperti yang dituduhkan.
Dampak putusan juri bisa meluas jauh melampaui konflik antara Musk dan OpenAI.
Jika Musk menang, keputusan tersebut bisa mempersulit rencana bisnis OpenAI ke depan dan membuat investor lebih berhati‑hati dalam mendanai organisasi teknologi yang memulai sebagai nonprofit tetapi kemudian beralih ke model komersial. Putusan seperti itu juga dapat memaksa pengadilan memperjelas bagaimana prinsip "charitable trust" berlaku untuk organisasi riset teknologi.
Sebaliknya, jika OpenAI menang, hasilnya dapat memperkuat argumen bahwa pengembangan AI tingkat frontier memerlukan struktur organisasi yang fleksibel—memungkinkan perusahaan memiliki tujuan publik sekaligus menarik investasi swasta dalam jumlah sangat besar untuk mendanai riset dan infrastruktur.
Apa pun hasilnya, kasus ini menjadi salah satu ujian hukum paling penting sejauh ini tentang bagaimana laboratorium AI besar dibiayai dan dikelola—isu yang dapat memengaruhi bentuk perusahaan AI di masa depan.