Andreeva mengendalikan reli dari garis belakang dengan pukulan-pukulan yang presisi. Sepanjang pertandingan, ia memenangi 34 dari 54 poin ketika Chwalińska melakukan servis—angka yang menggambarkan betapa sulitnya sang finalis kualifikasi mempertahankan gim servisnya .
Sempat ada sedikit ketegangan ketika Andreeva gagal menutup pertandingan pada kesempatan pertamanya. Namun, ia segera mengembalikan kendali dan memastikan gelar lewat pukulan backhand pada kesempatan berikutnya .
Kemenangan di final menjadi puncak dari penampilan dominan Andreeva sepanjang turnamen. Ia hanya kehilangan satu set dalam tujuh pertandingan . Pada semifinal, ia mengalahkan petenis Ukraina Marta Kostyuk 6-1, 6-3 sekaligus menghentikan 17 kemenangan beruntun lawannya .
Pada usia 19 tahun 1 bulan, Andreeva menjadi juara tunggal putri French Open termuda sejak Monica Seles, yang berusia 18 tahun ketika memenangkan gelar Paris ketiganya secara beruntun pada 1992 .
Ia juga menjadi perempuan Rusia pertama yang memenangkan gelar Grand Slam sejak Maria Sharapova menjuarai French Open pada 2014 . Pencapaian ini menegaskan bahwa penampilan semifinal Andreeva di Paris dua tahun lalu bukan sekadar kejutan sesaat. Potensinya di lapangan tanah liat kini telah berubah menjadi gelar terbesar dalam kariernya.
Gelar tersebut juga menghasilkan bayaran terbesar sepanjang karier profesional Andreeva. Sang juara menerima €2,8 juta, atau sekitar US$3,25 juta .
Chwalińska memperoleh €1,4 juta, sekitar US$1,6 juta, sebagai runner-up. Jumlah itu jauh melampaui total hadiah uang yang sebelumnya ia kumpulkan sepanjang karier, yang diperkirakan sekitar US$861.000 dari berbagai turnamen level bawah .
| Babak | Hadiah uang |
|---|---|
| Juara — Mirra Andreeva | €2.800.000 |
| Runner-up — Maja Chwalińska | €1.400.000 |
| Semifinalis | €750.000 |
| Perempat finalis | €470.000 |
Sumber angka: penyelenggara turnamen
Chwalińska datang ke Paris sebagai petenis peringkat 114 dunia dan harus melewati babak kualifikasi. Sebelum turnamen ini, ia baru mengantongi satu kemenangan di babak utama Grand Slam—di Wimbledon 2022 .
Ia kemudian memenangkan sembilan pertandingan berturut-turut: tiga di kualifikasi dan enam di babak utama. Dalam perjalanannya, ia menaklukkan juara Olimpiade Zheng Qinwen dan unggulan No. 23 Elise Mertens dengan kemenangan dua set langsung. Keduanya menjadi kemenangan pertama Chwalińska atas petenis 50 besar dunia .
Dengan menembus final, Chwalińska menjadi kualifikasi kedua di Era Terbuka yang mencapai final tunggal putri Grand Slam, setelah Emma Raducanu di US Open 2021 .
Kisah pribadi Chwalińska membuat perjalanannya di Paris semakin bermakna. Ia merupakan putri seorang penambang batu bara dari Dąbrowa Górnicza, Polandia selatan .
Setelah kalah pada babak pertama kualifikasi Wimbledon, ia sempat meninggalkan tenis. Chwalińska kemudian mengungkapkan bahwa ia berjuang menghadapi depresi berat sejak akhir 2019. Dalam masa terburuknya, ia mengatakan merasa “tidak bernyawa” dan bahkan kesulitan untuk bangun dari tempat tidur .
Operasi lutut pada 2022 turut memperlambat proses kembalinya ke kompetisi. Peringkatnya sempat merosot hingga No. 523 sebelum ia perlahan membangun kembali kariernya .
Saking kecilnya ekspektasi terhadap kiprahnya di Paris, Chwalińska mengaku tidak memesan hotel untuk pekan kedua karena tidak menyangka akan bertahan selama itu . Saat masih menjadi junior pada 2017, ia pernah berpasangan dengan Iga Świątek—yang ketika itu belum dikenal luas—dan mencapai final ganda putri junior Australian Open. Setelah itu, karier keduanya berkembang ke arah yang sangat berbeda .
French Open 2026 berlangsung di tengah perang yang masih berkecamuk di Ukraina. Petenis Rusia dan Belarus tetap diperbolehkan bertanding, tetapi berstatus netral dan tidak tampil dengan bendera nasional pada materi resmi turnamen .
Latar politik tersebut paling terasa pada semifinal ketika Andreeva menghadapi Kostyuk. Petenis Ukraina itu dikenal vokal mengkritik partisipasi atlet Rusia dalam tenis dan sebelumnya pernah menolak berjabat tangan dengan petenis Rusia setelah pertandingan. Namun, pertandingan di lapangan berlangsung tanpa insiden terbuka dan Andreeva menang telak 6-1, 6-3 .
Di final, Andreeva menghadapi Chwalińska dari Polandia—negara yang menjadi sekutu penting Ukraina dan salah satu pusat penerimaan pengungsi Ukraina sejak invasi. Rangkaian hasil tersebut menambahkan dimensi geopolitik pada turnamen: seorang juara Rusia mengalahkan semifinalis Ukraina sebelum menaklukkan finalis Polandia. Meski demikian, tensi politik itu tidak berubah menjadi konfrontasi terbuka di lapangan .
Andreeva kini meninggalkan Roland Garros bukan hanya sebagai juara Grand Slam, tetapi juga sebagai salah satu pemain termuda yang mampu memenuhi ekspektasi besar sejak usia belia. Penampilan impresifnya di lapangan tanah liat Paris dua tahun lalu telah mendapatkan jawaban yang meyakinkan.
Dengan trofi besar di tangan dan momentum yang kuat, perhatian berikutnya akan tertuju pada kiprahnya di Wimbledon. French Open 2026 mungkin bukan sekadar momen terobosan, melainkan awal dari persaingan panjang Andreeva di jajaran elite tenis putri.
Andreeva mengendalikan reli dari garis belakang dengan pukulan-pukulan yang presisi. Sepanjang pertandingan, ia memenangi 34 dari 54 poin ketika Chwalińska melakukan servis—angka yang menggambarkan betapa sulitnya sang finalis kualifikasi mempertahankan gim servisnya .
Sempat ada sedikit ketegangan ketika Andreeva gagal menutup pertandingan pada kesempatan pertamanya. Namun, ia segera mengembalikan kendali dan memastikan gelar lewat pukulan backhand pada kesempatan berikutnya .
Kemenangan di final menjadi puncak dari penampilan dominan Andreeva sepanjang turnamen. Ia hanya kehilangan satu set dalam tujuh pertandingan . Pada semifinal, ia mengalahkan petenis Ukraina Marta Kostyuk 6-1, 6-3 sekaligus menghentikan 17 kemenangan beruntun lawannya .
Pada usia 19 tahun 1 bulan, Andreeva menjadi juara tunggal putri French Open termuda sejak Monica Seles, yang berusia 18 tahun ketika memenangkan gelar Paris ketiganya secara beruntun pada 1992 .
Ia juga menjadi perempuan Rusia pertama yang memenangkan gelar Grand Slam sejak Maria Sharapova menjuarai French Open pada 2014 . Pencapaian ini menegaskan bahwa penampilan semifinal Andreeva di Paris dua tahun lalu bukan sekadar kejutan sesaat. Potensinya di lapangan tanah liat kini telah berubah menjadi gelar terbesar dalam kariernya.
Gelar tersebut juga menghasilkan bayaran terbesar sepanjang karier profesional Andreeva. Sang juara menerima €2,8 juta, atau sekitar US$3,25 juta .
Chwalińska memperoleh €1,4 juta, sekitar US$1,6 juta, sebagai runner-up. Jumlah itu jauh melampaui total hadiah uang yang sebelumnya ia kumpulkan sepanjang karier, yang diperkirakan sekitar US$861.000 dari berbagai turnamen level bawah .
| Babak | Hadiah uang |
|---|---|
| Juara — Mirra Andreeva | €2.800.000 |
| Runner-up — Maja Chwalińska | €1.400.000 |
| Semifinalis | €750.000 |
| Perempat finalis | €470.000 |
Sumber angka: penyelenggara turnamen
Chwalińska datang ke Paris sebagai petenis peringkat 114 dunia dan harus melewati babak kualifikasi. Sebelum turnamen ini, ia baru mengantongi satu kemenangan di babak utama Grand Slam—di Wimbledon 2022 .
Ia kemudian memenangkan sembilan pertandingan berturut-turut: tiga di kualifikasi dan enam di babak utama. Dalam perjalanannya, ia menaklukkan juara Olimpiade Zheng Qinwen dan unggulan No. 23 Elise Mertens dengan kemenangan dua set langsung. Keduanya menjadi kemenangan pertama Chwalińska atas petenis 50 besar dunia .
Dengan menembus final, Chwalińska menjadi kualifikasi kedua di Era Terbuka yang mencapai final tunggal putri Grand Slam, setelah Emma Raducanu di US Open 2021 .
Kisah pribadi Chwalińska membuat perjalanannya di Paris semakin bermakna. Ia merupakan putri seorang penambang batu bara dari Dąbrowa Górnicza, Polandia selatan .
Setelah kalah pada babak pertama kualifikasi Wimbledon, ia sempat meninggalkan tenis. Chwalińska kemudian mengungkapkan bahwa ia berjuang menghadapi depresi berat sejak akhir 2019. Dalam masa terburuknya, ia mengatakan merasa “tidak bernyawa” dan bahkan kesulitan untuk bangun dari tempat tidur .
Operasi lutut pada 2022 turut memperlambat proses kembalinya ke kompetisi. Peringkatnya sempat merosot hingga No. 523 sebelum ia perlahan membangun kembali kariernya .
Saking kecilnya ekspektasi terhadap kiprahnya di Paris, Chwalińska mengaku tidak memesan hotel untuk pekan kedua karena tidak menyangka akan bertahan selama itu . Saat masih menjadi junior pada 2017, ia pernah berpasangan dengan Iga Świątek—yang ketika itu belum dikenal luas—dan mencapai final ganda putri junior Australian Open. Setelah itu, karier keduanya berkembang ke arah yang sangat berbeda .
French Open 2026 berlangsung di tengah perang yang masih berkecamuk di Ukraina. Petenis Rusia dan Belarus tetap diperbolehkan bertanding, tetapi berstatus netral dan tidak tampil dengan bendera nasional pada materi resmi turnamen .
Latar politik tersebut paling terasa pada semifinal ketika Andreeva menghadapi Kostyuk. Petenis Ukraina itu dikenal vokal mengkritik partisipasi atlet Rusia dalam tenis dan sebelumnya pernah menolak berjabat tangan dengan petenis Rusia setelah pertandingan. Namun, pertandingan di lapangan berlangsung tanpa insiden terbuka dan Andreeva menang telak 6-1, 6-3 .
Di final, Andreeva menghadapi Chwalińska dari Polandia—negara yang menjadi sekutu penting Ukraina dan salah satu pusat penerimaan pengungsi Ukraina sejak invasi. Rangkaian hasil tersebut menambahkan dimensi geopolitik pada turnamen: seorang juara Rusia mengalahkan semifinalis Ukraina sebelum menaklukkan finalis Polandia. Meski demikian, tensi politik itu tidak berubah menjadi konfrontasi terbuka di lapangan .
Andreeva kini meninggalkan Roland Garros bukan hanya sebagai juara Grand Slam, tetapi juga sebagai salah satu pemain termuda yang mampu memenuhi ekspektasi besar sejak usia belia. Penampilan impresifnya di lapangan tanah liat Paris dua tahun lalu telah mendapatkan jawaban yang meyakinkan.
Dengan trofi besar di tangan dan momentum yang kuat, perhatian berikutnya akan tertuju pada kiprahnya di Wimbledon. French Open 2026 mungkin bukan sekadar momen terobosan, melainkan awal dari persaingan panjang Andreeva di jajaran elite tenis putri.