Unggul satu gol, Arsenal terus menekan, tapi momentum berubah drastis di babak kedua. Bintang sayap PSG, Khvicha Kvaratskhelia, dilanggar di kotak terlarang oleh Cristhian Mosquera pada pertengahan babak. Wasit langsung menunjuk titik putih. Ousmane Dembélé yang maju sebagai algojo, dengan tenang mengirim kiper David Raya ke arah yang salah, menyamakan skor menjadi 1-1 tepat di menit ke-65 . Gol ini seolah membangkitkan Les Parisiens. Meski kedua tim menciptakan peluang, termasuk upaya Kvaratskhelia yang membentur tiang gawang pada menit ke-77
, tidak ada gol tambahan yang tercipta. Laga harus dilanjutkan ke babak tambahan 2x15 menit yang kian menegangkan, namun papan skor tetap tak berubah.
Pada akhirnya, trofi 'Si Kuping Besar' harus ditentukan lewat duel mental dari titik putih. PSG sukses mengeksekusi empat dari lima kesempatan mereka, sementara Arsenal hanya mampu mengonversi tiga . Dua momen krusial menjadi mimpi buruk bagi kubu London Utara.
Setelah pil pahit itu, manajer Mikel Arteta tak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya, tidak hanya pada hasil akhir, tetapi juga pada keputusan kontroversial wasit.
Dengan mata berkaca-kaca, Arteta menatap masa depan. Ia menggunakan momen ini untuk mengirim pesan yang sangat jelas kepada jajaran direksi Arsenal. “Kami akan mulai membuat beberapa keputusan yang sangat penting jika kami ingin mencapai level berikutnya,” tegasnya. “Kami harus menunjukkan ambisi itu. Kami lebih dari mampu untuk melakukannya, tetapi itu akan menuntut kami untuk menjadi sangat, sangat ambisius, sangat cepat, dan sangat cerdas” .
Pernyataannya ini jelas bukan isapan jempol. Sebelum final, rumor sudah berhembus kencang. Striker Atletico Madrid, Julian Alvarez, dan penyerang muda berbakat milik Lorient, Eli Junior Kroupi, disebut-sebut sebagai target utama The Gunners musim panas ini. Keduanya dinilai sebagai sosok kunci untuk menambah ketajaman lini depan Arsenal yang malam itu tampak kurang greget setelah gol cepat Havertz. Pembicaraan transfer resmi diyakini akan segera dimulai seiring berakhirnya musim 2025/26 .
Kemarahan Arteta juga meluap kepada kepemimpinan wasit Daniel Siebert. Pada menit ke-103 babak perpanjangan waktu, pemain pengganti Noni Madueke terjatuh di kotak penalti PSG setelah berduel dengan Nuno Mendes. Para pemain Arsenal memprotes keras meminta penalti, namun wasit Siebert hanya menggeleng dan VAR pun tidak merekomendasikan peninjauan di monitor pinggir lapangan.
Usai laga, Arteta mengaku frustrasi berat. Ia bahkan secara mengejutkan mengaku telah menonton ulang setiap insiden penalti yang diberikan di Liga Champions musim ini sebagai bahan evaluasi. “Saya sudah menontonnya kembali, dan itu bisa dengan mudah menjadi penalti,” argumennya penuh penekanan. “Terutama ketika Anda melihat penalti-penalti yang diberikan di kompetisi ini musim ini. Wasit membuat satu keputusan di satu sisi, tapi berbeda di sisi yang lain, dan itulah yang membuat kami frustrasi” .
Sementara Arsenal meratapi ketidakberuntungan, PSG dan sang arsitek, Luis Enrique, merayakan sebuah tonggak sejarah. Klub asal Paris itu menjadi tim pertama sejak dinasti modern Real Madrid yang berhasil mempertahankan gelar Liga Champions secara berturut-turut . Dominasi mereka di Eropa kini tak terbantahkan.
Bagi Luis Enrique, trofi ini sangat istimewa. Ini adalah gelar Liga Champions ketiganya sebagai pelatih, setelah sebelumnya ia membawa Barcelona juara pada 2015 dan PSG pada 2025. Pencapaian ini sekaligus mengukuhkan namanya dalam jajaran elite pelatih legendaris, sejajar dengan Carlo Ancelotti, Bob Paisley, Zinedine Zidane, dan Pep Guardiola, sebagai segelintir pelatih yang mampu menjuarai Piala Eropa/Liga Champions tiga kali atau lebih .
Kekalahan ini begitu menyakitkan bagi Arsenal, tepat dua dekade setelah satu-satunya penampilan final Liga Champions mereka sebelumnya—kekalahan 2-1 dari Barcelona di Paris pada 2006. Ironisnya, musim 2026 ini sebenarnya merupakan lompatan besar bagi pasukan Arteta, yang berhasil mengakhiri paceklik gelar Liga Inggris selama 22 tahun . Namun, di malam yang dingin di Budapest ini, trofi paling prestisius di level klub Eropa itu melayang begitu saja dari genggaman mereka, memperpanjang penantian akan mahkota Eropa perdana setidaknya selama satu tahun lagi
.
Comments
0 comments