Menurut para pejabat AS yang enggan disebutkan namanya, rancangan tersebut mewajibkan Iran untuk membersihkan semua ranjau laut di selat itu dalam waktu 30 hari. Sebagai imbalannya, AS akan mencabut blokade laut di pelabuhan-pelabuhan Iran, meskipun pencabutan ini akan dilakukan secara bertahap seiring dengan pulihnya aktivitas pelayaran komersial . Trump secara terbuka menyatakan bahwa “tidak ada uang yang akan dipertukarkan, sampai pemberitahuan lebih lanjut”
.
Poin-poin kunci dalam kerangka MOU tersebut meliputi:
Meskipun kerangka di atas kertas tampak komprehensif, dua isu krusial berpotensi menggagalkan kesepakatan sebelum sempat diteken.
1. Pencairan Aset Iran yang Dibekukan
Tehran bersikeras bahwa pencairan dana mereka yang dibekukan harus menjadi prasyarat untuk kesepakatan awal apa pun. Namun, Trump secara tegas menolak untuk melepaskannya saat ini . Kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran (IRGC) bahkan menyebut klaim Trump tentang pencabutan blokade sebagai tindakan “sepihak” dan menegaskan kembali tuntutan ini sebagai harga mati
.
2. Disagreement soal Nuklir
Inilah ganjalan terbesar. Washington menggambarkan MOU ini sebagai jalan untuk negosiasi baru tentang ambisi nuklir Iran. Di sisi lain, Tehran secara terbuka menolak konsesi nuklir atau penyerahan uranium dalam bentuk apa pun. Seorang pejabat Iran dikutip mengatakan, “kami tidak akan menandatangani perjanjian apa pun dengan AS,” dan media pemerintah bahkan memperingatkan bahwa negosiasi bisa saja dibatalkan . Nada keras ini mempertegas bahwa bagi Iran, program nuklir adalah kartu yang tak bisa ditawar dengan cara ini.
Pernyataan publik dari kedua belah pihak mencerminkan ketidakpastian yang mendalam:
Kebuntuan ini memiliki implikasi langsung pada harga minyak global. Selat Hormuz, yang menjadi jalur kritis transit minyak, terus menjadi pusat ketegangan. Penutupan yang berkelanjutan atau ancaman permusuhan baru akan terus menekan biaya bahan bakar ke atas. Meskipun MOU yang diteken akan memberikan“jendela” 60 hari untuk perjanjian damai yang lebih komprehensif, tanpa persetujuan akhir dari Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, jendela itu masih sekadar prospek—bukan kenyataan . Para analis memperingatkan bahwa jeda saat ini sangat rapuh; kemacetan diplomatik bisa kembali mengguncang pasar global dalam sekejap
.
Hingga kini, dunia masih menunggu. Di satu sisi, kerangka damai sudah di depan mata; di sisi lain, ketidakpercayaan dan ego politik dua negara adidaya membuat selembar kertas yang bisa meredakan krisis energi dan kemanusiaan ini belum juga ditandatangani.
Comments
0 comments