Penembakan dari sebuah mobil di Trappes dan La Verrière, wilayah Yvelines di barat Paris, menewaskan satu orang dan melukai lima lainnya pada Jumat, 23 Oktober 2026. Salah satu korban luka adalah anak perempuan berusia 12 tahun. Presiden Emmanuel Macron menyebut kejadian itu sebagai “serangan teroris rasis”, sementara penyidik masih mengusut motif dan rangkaian peristiwanya.
17
27
Penembakan berlangsung di beberapa lokasi
Tembakan mulai terdengar sekitar pukul 10.30 waktu setempat. Sejumlah lokasi yang dilaporkan menjadi sasaran meliputi taman bermain anak, stasiun pengisian bahan bakar, dan pusat layanan kesehatan. Penembakan di Trappes dan La Verrière berlangsung sekitar 15 menit, menurut laporan Associated Press.
19
26
43
Laporan awal menyebut jumlah korban luka yang berbeda-beda. Namun, laporan BBC dan AFP yang terbit kemudian mencatat lima orang terluka, selain satu orang yang tewas.
17
27
Kondisi korban dan informasi yang tersedia
Anak perempuan berusia 12 tahun itu dilaporkan terkena delapan tembakan. Wali Kota La Verrière, Nicolas Dainville, mengatakan kondisinya serius tetapi stabil.
8
27 Salah satu korban luka lainnya disebut berasal dari Afrika Utara dan berada dalam kondisi kritis. Informasi yang tersedia belum menjelaskan latar belakang atau agama seluruh korban.
6
Tersangka ditangkap, penyelidikan berlanjut
Polisi menangkap seorang pria berusia 39 tahun di Coignières, kota terdekat. Sejumlah laporan menyebut pria itu sebelumnya sudah dikenal polisi.
27
44 Media melaporkan bahwa ia membawa senapan mitraliur dan granat gas air mata. Le Figaro menyebut senjata api tersebut merupakan model dari era Perang Dunia II.
44
Dalam penggeledahan di kediaman tersangka di Plaisir, penyidik dilaporkan menemukan tiga tabung gas dan kabel yang terhubung ke pengatur waktu. Temuan itu diberitakan sebagai bagian dari penyelidikan; laporan yang tersedia belum memastikan apakah perangkat tersebut berfungsi.
7
24
Macron menyebut serangan rasis dan teroris
Macron menyebut penembakan itu “serangan teroris rasis” dan mengatakan para korban menjadi sasaran karena agama serta warna kulit mereka. Ia juga menyebut kejadian tersebut sebagai “titik balik bagi Republik dan negara kita”.
8 Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez menyebutnya “jelas merupakan kejahatan teroris”, sementara para pejabat turut menyinggung kemungkinan motif Islamofobia.
1
13
Wali Kota Trappes, Ali Rabeh, mengatakan pelaku tampak menembak secara acak dan seolah ingin menimbulkan pembantaian. Pernyataan itu mencerminkan keterangan awal para pejabat; motif tersangka masih diselidiki.
5
17
Kantor Kejaksaan Nasional Antiterorisme Prancis mengambil alih perkara ini. Penyelidikan memperlakukan penembakan tersebut sebagai dugaan tindak pidana teroris; motif dan tanggung jawab hukum belum ditetapkan sebagai kesimpulan akhir.
29
43