Bank bank global menaikkan proyeksi yuan karena ekspor China yang kuat, surplus transaksi berjalan besar, dan hubungan dagang AS–China yang lebih stabil. Yuan telah menguat hampir 3% terhadap dolar AS pada 2026, didorong oleh arus devisa dari ekspor dan sentimen pasar yang membaik.

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What explains major banks like HSBC, Goldman Sachs, and Deutsche Bank raising their forecasts for the Chinese yuan, and how do factors such. Article summary: Major banks are turning more bullish on the yuan because the currency’s appreciation is now backed by real balance-of-payments strength: strong exports, a large trade/current-account surplus, a weaker dollar backdrop, an. Topic tags: general, general web. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "# Goldman Sachs sees Chinese yuan 20% undervalued, raises forecasts. Goldman Sachs thinks the Chinese yuan is sitting at a serious discount. The investment bank’s internal valuatio" source context "Goldman Sachs sees Chinese yuan 20% undervalued, raises ..." Reference image 2: visual subject "# CNY at a glance: China’s yuan moves
Beberapa bank investasi besar dunia—termasuk HSBC, Goldman Sachs, dan Deutsche Bank—baru‑baru ini menaikkan proyeksi mereka untuk yuan China (renminbi). Optimisme ini muncul karena kombinasi faktor ekonomi yang kuat dan kondisi geopolitik yang relatif lebih stabil.
Namun sebagian besar analis menilai penguatan mata uang ini kemungkinan terjadi secara bertahap, bukan melonjak tajam. Sistem nilai tukar China memang dikelola ketat oleh pemerintah, yang biasanya turun tangan untuk mencegah pergerakan yang terlalu cepat dan berpotensi mengganggu ekonomi.
Sepanjang 2026, yuan menunjukkan tren penguatan terhadap dolar AS. Hingga pertengahan Mei 2026, mata uang ini telah naik hampir 3% sejak awal tahun, diperdagangkan di sekitar 6,8040 per dolar AS menurut laporan pasar. Kenaikan yang stabil ini mendorong sejumlah bank global untuk merevisi proyeksi mereka menjadi lebih optimistis.
Para ahli strategi mata uang menilai kenaikan ini bukan sekadar spekulasi pasar. Ada sejumlah faktor struktural yang benar‑benar mendukung nilai yuan.
Salah satu faktor terpenting adalah kinerja ekspor China. Daya saing manufaktur yang tinggi dan permintaan global yang masih kuat membuat negara ini mencatat surplus perdagangan besar, yang menghasilkan aliran devisa stabil dan menopang yuan.
Goldman Sachs memperkirakan surplus transaksi berjalan China dapat mencapai sekitar 4,2% dari PDB pada 2026, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Surplus sebesar itu biasanya memberi tekanan naik pada mata uang suatu negara karena eksportir menukar pendapatan dalam mata uang asing menjadi mata uang domestik.
Arus pembayaran internasional semacam ini menjadi alasan utama mengapa banyak analis kini lebih optimistis terhadap arah yuan.
Faktor lain adalah membaiknya stabilitas hubungan perdagangan antara Amerika Serikat dan China dibandingkan periode konflik tarif yang lebih panas beberapa tahun sebelumnya.
Ketika ketegangan geopolitik mereda, investor biasanya meminta “diskon risiko” yang lebih kecil untuk memegang aset berdenominasi yuan. Hal ini dapat meningkatkan minat investor global terhadap pasar keuangan China dan memperkuat ekspektasi terhadap mata uangnya.
Meski fundamentalnya kuat, yuan tidak dibiarkan bergerak bebas seperti banyak mata uang besar lainnya.
Bank sentral China, People’s Bank of China (PBOC), menggunakan sistem nilai tukar mengambang yang dikelola. Setiap hari perdagangan, bank sentral menetapkan kurs referensi (midpoint) terhadap dolar AS. Yuan kemudian diizinkan bergerak dalam kisaran sekitar ±2% dari nilai tersebut selama perdagangan harian.
Dengan sistem ini, otoritas memiliki beberapa alat untuk mengendalikan laju penguatan mata uang, misalnya:
Artinya, pemerintah dapat “mengemudikan” arah yuan alih‑alih membiarkannya sepenuhnya ditentukan oleh pasar.
Pergerakan pasar terbaru menunjukkan bahwa Beijing tampaknya nyaman dengan yuan yang lebih kuat—tetapi tidak dengan kenaikan yang terlalu cepat.
Beberapa trader melaporkan bahwa bank-bank milik negara membeli dolar ketika yuan mendekati level tertentu, langkah yang sering ditafsirkan sebagai upaya memperlambat kenaikan mata uang tersebut.
Pemerintah juga mengambil sejumlah langkah kebijakan untuk menahan tekanan apresiasi. Ini menandakan bahwa tujuan utamanya adalah stabilitas, bukan penguatan cepat.
Karena itu, banyak analis menggambarkan strategi China sebagai “managed strength”: membiarkan yuan naik secara perlahan sambil mencegah spekulasi satu arah yang terlalu agresif.
Dalam jangka panjang, China juga berusaha memperluas penggunaan yuan di tingkat global—misalnya dalam penyelesaian perdagangan internasional, pembiayaan lintas negara, dan cadangan devisa.
Jika semakin banyak transaksi internasional menggunakan yuan, permintaan global terhadap mata uang ini bisa meningkat secara struktural.
Namun proses ini cenderung berjalan lambat. Kontrol modal yang masih ketat dan sistem nilai tukar yang dikelola berarti yuan belum sepenuhnya berfungsi seperti mata uang cadangan global utama.
Secara keseluruhan, alasan bank-bank besar menaikkan proyeksi yuan cukup jelas:
Namun faktor yang sama yang menjaga stabilitas juga membatasi kenaikan. Karena bank sentral China secara aktif mengelola mata uangnya, penguatan yuan kemungkinan besar terjadi secara terkendali dan bertahap, bukan melalui lonjakan tajam.
Singkatnya, fundamental ekonomi mendukung yuan yang lebih kuat—tetapi jalur akhirnya tetap sangat bergantung pada keputusan kebijakan Beijing tentang seberapa cepat mata uang tersebut boleh menguat.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Bank bank global menaikkan proyeksi yuan karena ekspor China yang kuat, surplus transaksi berjalan besar, dan hubungan dagang AS–China yang lebih stabil.
Bank bank global menaikkan proyeksi yuan karena ekspor China yang kuat, surplus transaksi berjalan besar, dan hubungan dagang AS–China yang lebih stabil. Yuan telah menguat hampir 3% terhadap dolar AS pada 2026, didorong oleh arus devisa dari ekspor dan sentimen pasar yang membaik.
Meski prospeknya positif, sistem nilai tukar yang dikelola oleh Bank Sentral China (PBOC) membuat penguatan yuan kemungkinan berlangsung perlahan, bukan lonjakan tajam.