Pada 3 Juni 2026, serangan drone dan rudal Iran menghantam Bandara Internasional Kuwait, menewaskan satu orang, melukai beberapa lainnya, dan menyebabkan kerusakan parah pada Terminal 1. Iran mengaitkan serangan berkelanjutannya ke negara negara Teluk secara langsung dengan operasi militer Israel yang masih berlangs...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What events and diplomatic reactions occurred in late May–early June 2026 surrounding Iranian missile and drone strikes on Kuwait and Bahrai. Article summary: Here is the full picture of events, diplomacy, and fallout from late May through early June 2026.. Topic tags: general, general web, user generated. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "# ILTV News Flash – June 3, 2026 Military tensions between the United States and Iran have sharply escalated across the Gulf, with both sides exchanging strikes and drone attacks," source context "ILTV News Flash – June 3, 2026 Military tensions between the ..." Reference image 2: visual subject "# ILTV News Flash – June 3, 2026 Military tensions between the United States and Iran have sharply escalated across the Gulf, with both sid
Eskalasi permusuhan di Teluk Persia mencapai puncak baru pada 3 Juni 2026, ketika serangan drone dan rudal Iran secara langsung menghantam Bandara Internasional Kuwait. Serangan ini menjadi yang paling menonjol dalam serangkaian serangan terhadap negara-negara Teluk yang terus berlanjut meskipun ada gencatan senjata, memicu gelombang kecaman diplomatik terpadu dari seluruh dunia Arab dan memperlihatkan keruntuhan total negosiasi perdamaian.
Pada dini hari 3 Juni, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal terkoordinasi yang menghantam Bandara Internasional Kuwait. Serangan ini menyebabkan "kerusakan parah" pada gedung Terminal 1 bandara, menewaskan satu orang, dan melukai beberapa lainnya . Serangan tersebut memaksa otoritas Kuwait untuk menangguhkan semua penerbangan komersial dan mengaktifkan sistem pertahanan udara di seluruh Teluk
.
Iran menggambarkan serangan ini sebagai balasan atas operasi militer AS sebelumnya yang menargetkan Pulau Qeshm. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa mereka telah meluncurkan dua serangan ke stasiun kendali darat Iran sebagai respons . Bandara Kuwait kemudian kembali beroperasi setelah penilaian kerusakan selesai dilakukan
. Serangan ke Kuwait ini terjadi bersamaan dengan serangan Iran ke area pemukiman dan fasilitas energi di Bahrain
.
Serangan terhadap bandara sipil ini langsung memicu kecaman keras dan segera dari negara-negara tetangga Teluk.
Qatar menjadi salah satu yang pertama merespons, mengecam "serangan berulang" Iran terhadap "negara saudaranya", Kuwait. Sebuah pernyataan Kementerian Luar Negeri Qatar menyebut serangan itu sebagai "pelanggaran mencolok terhadap kedaulatan" dan "pelanggaran terang-terangan terhadap aturan hukum internasional", serta menyatakan solidaritas penuh dengan Kuwait .
Uni Emirat Arab (UEA) mengecam serangan tersebut dengan istilah yang paling keras, melabelinya sebagai pelanggaran hukum internasional dan memperingatkan ancaman yang ditimbulkannya terhadap stabilitas kawasan .
Kecaman meluas melampaui Qatar dan UEA. Arab Saudi, Mesir, Yordania, dan Lebanon semuanya menyuarakan dukungan untuk Kuwait dan Bahrain, mengecam serangan itu sebagai ancaman bagi keamanan dan stabilitas di seluruh kawasan . Dewan Kerjasama Teluk (GCC) secara kolektif mengecam "agresi keji" Iran dan mendukung penuh kedua negara yang menjadi sasaran
.
Serangan-serangan ini terjadi dengan latar belakang gencatan senjata AS-Iran yang sudah sekarat. Konflik yang lebih luas dimulai pada 28 Februari 2026, dengan serangan gabungan AS-Israel ke Iran . Sebuah gencatan senjata dua minggu, yang dimediasi oleh Pakistan, mulai berlaku pada 8 April, dengan negosiasi pertama diadakan di Islamabad
. Namun, perundingan Islamabad akhirnya gagal, dan AS kemudian memberlakukan blokade laut terhadap Iran, menutup Selat Hormuz untuk sebagian besar pelayaran
.
Pada akhir Mei, gencatan senjata hanya tinggal nama. Washington mengklaim adanya kesepakatan kerangka kerja dan perpanjangan gencatan senjata tanpa batas waktu, tetapi Teheran dengan tegas menyangkal adanya perpanjangan yang telah dicapai . Pada 7 Juni, konflik memasuki hari ke-100, dengan para analis melaporkan bahwa "gencatan senjata yang rapuh telah runtuh di tengah bentrokan bersenjata"
. Kementerian luar negeri Iran menyatakan bahwa tindakan AS telah melanggar kesepakatan 8 April dan bahwa pelanggaran berulang menunjukkan Washington tidak memiliki niat untuk meredakan ketegangan
.
Sebagai bagian dari penyelesaian apa pun, Iran menuntut aset beku senilai $24 miliar dan pencabutan sanksi, dengan Pakistan terus memediasi meskipun permusuhan sedang berlangsung .
Iran secara eksplisit mengaitkan penolakannya untuk melakukan de-eskalasi di Teluk dengan situasi di Lebanon. Pada 1 Juni, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa “faktor utama kegagalan mencapai kesepakatan di kawasan ini adalah rezim Zionis dan serangan terhadap Lebanon" . Iran berargumen bahwa operasi militer Israel yang sedang berlangsung di Lebanon secara langsung menghalangi kemajuan menuju kesepakatan antara Teheran dan Washington
.
Sebuah gencatan senjata sementara terpisah di Lebanon telah dimulai pada 16 April, tetapi serangan lanjutan Israel di sana dikutip oleh Iran sebagai pembenaran untuk tindakan militernya sendiri .
Dampak terhadap kehidupan sipil dan stabilitas kawasan sangat parah.
Eskalasi Selektif: Sepanjang Mei 2026, Iran dan proksi-proksinya yang berbasis di Irak terus menyerang negara-negara Teluk dan pelayaran maritim di Teluk Persia meskipun ada gencatan senjata. UEA adalah negara yang paling banyak menjadi sasaran pada bulan Mei, diikuti oleh Kuwait .
Gangguan Ekonomi: Blokade AS di Selat Hormuz tetap menjadi cekikan bagi pasar energi global, sangat menekan ekonomi Teluk. Angkatan Laut IRGC secara selektif hanya mengizinkan lalu lintas kapal terbatas, dengan 24 kapal diizinkan lewat dalam periode 24 jam pada 2 Juni .
Dampak Kemanusiaan: Pada awal Juni, perang telah menewaskan ribuan orang di seluruh Iran, Lebanon, Israel, dan negara-negara Arab Teluk, dengan jutaan lainnya mengungsi . Negara-negara yang menjadi sasaran Iran, yang bukan merupakan pihak langsung dalam konflik AS-Iran, mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan mereka dan menegaskan hak mereka untuk membela diri berdasarkan hukum internasional
.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Pada 3 Juni 2026, serangan drone dan rudal Iran menghantam Bandara Internasional Kuwait, menewaskan satu orang, melukai beberapa lainnya, dan menyebabkan kerusakan parah pada Terminal 1.
Pada 3 Juni 2026, serangan drone dan rudal Iran menghantam Bandara Internasional Kuwait, menewaskan satu orang, melukai beberapa lainnya, dan menyebabkan kerusakan parah pada Terminal 1. Iran mengaitkan serangan berkelanjutannya ke negara negara Teluk secara langsung dengan operasi militer Israel yang masih berlangsung di Lebanon, menyebutnya sebagai penghalang utama kesepakatan damai dengan AS.
Konflik yang memasuki hari ke 100 ini ditandai dengan blokade laut AS di Selat Hormuz yang berkelanjutan, mengakibatkan ribuan korban jiwa dan jutaan warga mengungsi di seluruh kawasan.