Operator nuklir milik negara Rumania, Nuclearelectrica, melakukan penghentian terkendali (controlled shutdown) pada Unit 1 PLTN Cernavoda pada 28 Juli 2026. Penyebabnya adalah permukaan air Danube yang mencapai level terendah yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga tidak mampu mendinginkan reaktor dengan baik . Kementerian Energi awalnya memerintahkan Unit 2 untuk ikut dipadamkan pada 29-30 Juli. Namun, setelah penilaian teknis darurat tengah malam, ditemukan bahwa Unit 2 masih bisa beroperasi dengan aman, sehingga tetap terhubung ke jaringan listrik nasional .
Pada 31 Juli, Perdana Menteri Ilie Bolojan mendeklarasikan keadaan darurat nasional untuk sepanjang Agustus. Alasan utamanya adalah runtuhnya produksi listrik dari PLTN. Pemerintah mengalokasikan dana untuk proyek darurat di Sungai Danube dan untuk mengamankan impor listrik dari negara-negara tetangga .
Pada 3 Agustus, pasukan angkatan laut Rumania meledakkan sebuah batu karang yang tadinya terendam, namun kini muncul ke permukaan karena surutnya air di salah satu cabang Sungai Danube . Operasi yang menggunakan sekitar 180 kg bahan peledak ini bertujuan untuk mengarahkan aliran air ke kanal "Old Danube" yang memasok air pendingin ke PLTN Cernavoda .
Pada 6 Agustus, pemerintah menyiapkan langkah yang lebih drastis: menenggelamkan empat tongkang berisi batu ke Sungai Danube untuk membangun penghalang pengalih aliran. Para pejabat memperkirakan tindakan ini bisa memperpanjang operasi Unit 2 hingga 9–10 hari . Rencana ini sempat tertunda beberapa kali karena kondisi sungai yang berbahaya, namun tetap menjadi opsi kunci untuk mengulur waktu bagi PLTN dan jaringan listrik .
Bersamaan dengan intervensi fisik di sungai, pemerintah menyiapkan kerangka hukum untuk memutus aliran listrik ke pengguna industri jika situasi jaringan listrik memburuk. Ini menunjukkan betapa parahnya potensi kekurangan listrik yang dihadapi .
Hongaria menghadapi masalah yang lebih parah. PLTN Paks, yang memasok hampir setengah dari listrik negara itu, mati total untuk pertama kalinya dalam hampir 50 tahun pada 2 Agustus 2026 . Di Budapest, permukaan Sungai Danube turun hingga sekitar 10 cm, jauh di bawah rekor terendah sebelumnya yang mencapai 33 cm pada tahun 2018 . Sebelum mati total, PLTN tersebut hanya beroperasi sekitar 10% dari kapasitas normalnya . Perdana Menteri Peter Magyar menggambarkan situasi ini sebagai tekanan pada batas kemampuan jaringan listrik nasional dan meminta pengguna industri besar untuk mengurangi konsumsi .
Krisis ini adalah hasil dari kekeringan berkepanjangan dan gelombang panas ekstrem yang berturut-turut di seluruh Eropa. Permukaan Danube di titik masuk Rumania (Bazias) jatuh ke level terendah sejak 1996 pada 20 Juli, dan ketinggian air di dekat Cernavoda terus menurun 2–3 cm per hari hingga awal Agustus . Sungai Rhine juga mencapai rekor terendah secara bersamaan, mengganggu pendinginan nuklir, pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pengiriman barang, dan rantai pasokan industri di Jerman, Austria, Serbia, Kroasia, Rumania, Hongaria, dan Bulgaria .
Gelombang panas yang berkepanjangan meningkatkan permintaan listrik untuk AC di saat yang sama ketika pembangkit listrik yang bergantung pada sungai kolaps, memberikan tekanan ekstra pada jaringan listrik nasional .
Rantai pasokan energi yang rapuh. PLTN Cernavoda di Rumania biasanya menyediakan sekitar 20% dari listrik negara. Pemadaman sebagian memaksa Rumania untuk sangat bergantung pada impor dan meningkatkan risiko pemadaman listrik (blackout) . Hongaria kehilangan hampir setengah dari kapasitas pembangkitannya ketika PLTN Paks mati . Kedua negara terpaksa membeli listrik pengganti di pasar regional dengan harga yang melonjak, yang pada akhirnya meningkatkan biaya bagi konsumen dan industri .
Pertanian. Air Danube yang surut memicu pembatasan irigasi bagi petani di Rumania, sementara Hongaria memberlakukan pembatasan penggunaan air di lebih dari 100 kota dan desa .
Pelayaran dan perdagangan. Lalu lintas tongkang di Danube sebagian besar terhenti di Serbia, Kroasia, Hongaria, dan Rumania, menyebabkan kapal terdampar dan mengganggu transportasi gandum, bijih mineral, dan bahan bakar .
Biaya ekonomi langsung bagi Hongaria. Perdana Menteri Magyar memperkirakan krisis ini dapat merugikan Hongaria sebesar 100 miliar hingga 200 miliar forint (sekitar $316 juta hingga $632 juta) akibat melonjaknya harga listrik impor .
Peringatan keras tentang kerentanan iklim. Para pejabat dan analis di seluruh kawasan menggambarkan situasi ini sebagai paparan atas ketergantungan struktural infrastruktur kritis pada aliran sungai yang stabil. Meskipun peristiwa serupa (permukaan Danube rendah) terjadi pada tahun 2003, 2018, dan 2022, namun tidak separah ini dan tidak sampai memaksa PLTN mati .