Pada 16 Agustus, sebuah F/A-18 Spanyol yang menjalankan misi patroli udara NATO menembak jatuh drone setelah sistem pengawasan Rumania mendeteksinya memasuki wilayah udara nasional dari arah Moldova, dekat Galați. Pesawat itu mencegat drone pada pukul 05.01 waktu setempat, dan serpihannya jatuh di area yang tidak berpenghuni. Kementerian Pertahanan Rumania menyebutnya sebagai pesawat nirawak keempat yang ditembak jatuh di atas wilayah Rumania pada 2026.
Insiden ini menunjukkan dua ciri tantangan di sayap timur NATO. Pertama, patroli udara semakin bergeser dari sekadar memantau dan mengerahkan pesawat menjadi tindakan intersepsi. Menurut Reuters, penembakan jatuh pertama oleh Rumania terjadi pada Juli, setelah puluhan pelanggaran sebelumnya. Kedua, insiden lokal dapat segera menjadi operasi aliansi: pesawat yang merespons pelanggaran pada Agustus berasal dari Spanyol, meski pelanggaran terjadi di wilayah Rumania.
Asal drone terbaru belum langsung dipastikan. Ketidakpastian ini penting karena penentuan pelaku memengaruhi keputusan diplomatik, aturan pelibatan, dan risiko bahwa intersepsi dianggap sebagai konfrontasi langsung NATO-Rusia. Pada saat yang sama, ambiguitas memberi ruang bagi Moskow untuk menyangkal niat, sembari tetap memperoleh keuntungan dari gangguan yang ditimbulkan.
Drone tertentu dapat melintasi perbatasan karena rusak, terkena gangguan elektronik, salah arah, atau mengikuti rute serangan menuju sasaran di Ukraina. Laporan yang tersedia belum membuktikan niat di balik setiap insiden di Rumania. Namun, dampak kumulatifnya lebih jelas daripada tujuan masing-masing penerbangan.
Pelanggaran berulang dapat:
Karena itu, gambaran yang paling tepat adalah lingkungan konflik zona abu-abu atau perang hibrida: tekanan diberikan di bawah ambang konflik yang dinyatakan secara terbuka, sementara ambiguitas membantu membatasi biaya politik dari setiap tindakan. Ini merupakan penilaian analitis atas polanya, bukan bukti bahwa setiap pelanggaran diperintahkan sebagai operasi tersendiri.
Rumania bukan satu-satunya anggota NATO yang menghadapi dampak perang Ukraina terhadap wilayah udaranya. Laporan juga menyebut insiden terkait drone dan pengerahan pesawat tempur di Polandia serta Latvia. Laut Hitam dan kawasan perbatasan Ukraina-Moldova juga sangat rentan.
Geografi menjadi faktor penting. Serangan Rusia terhadap sasaran Ukraina di dekat Sungai Donau dapat membawa jalur penerbangan drone mendekati wilayah Rumania. Pada Agustus, pejabat Rumania mengatakan lebih dari 100 drone terdeteksi dalam tujuh serangan terhadap pelabuhan Donau Ukraina dalam waktu singkat. Banyak di antaranya dihancurkan hanya beberapa puluh meter dari wilayah udara Rumania.
Perluasan infrastruktur drone Rusia menambah kekhawatiran jangka panjang. Investigasi yang menggunakan citra satelit, dokumen bocor, dan analisis perusahaan intelijen drone DroneSec mengidentifikasi sedikitnya 10 fasilitas baru atau yang diperluas di dekat Ukraina dan Belarus, dengan 59 landasan peluncuran. Institute for the Study of War menyatakan pembangunan tersebut dapat mendukung serangan yang lebih intensif ke Ukraina dan berpotensi mengancam wilayah NATO. Temuan ini berasal dari laporan dan analisis sumber terbuka, bukan penilaian resmi NATO.
Maknanya bukan bahwa setiap lokasi peluncuran baru ditujukan untuk menyerang NATO. Kekhawatiran utamanya adalah Rusia mungkin sedang membangun sistem terdistribusi untuk menjalankan operasi drone secara massal. Kapasitas peluncuran yang lebih besar dapat meningkatkan jumlah pesawat yang harus dideteksi, diklasifikasikan, dan dilacak oleh pertahanan Ukraina maupun sekutu pada waktu yang sama.
Insiden-insiden tersebut memperlihatkan dilema yang sulit. Jet tempur dan rudal pertahanan udara dapat melindungi wilayah udara berdaulat, tetapi belum tentu menjadi jawaban yang efisien untuk setiap drone serang yang bergerak lambat dan relatif murah. Jika pelanggaran terus terjadi atau datang dalam formasi yang lebih besar, model pertahanan yang terutama mengandalkan pengerahan jet dan pencegat mahal akan membebani pihak yang bertahan.
Jawaban praktisnya adalah sistem berlapis: sensor yang terus bekerja, perang elektronik, pertukaran data cepat, meriam atau sistem jarak pendek lain, pencegat berbiaya rendah, serta jet tempur untuk sasaran yang paling sulit atau berbahaya. Tujuannya bukan menembak jatuh semua sasaran dengan senjata termahal yang tersedia, melainkan mempertahankan kemampuan merespons secara tegas tanpa menghabiskan pesawat, awak, atau amunisi.
Insiden sepanjang 2026 mengungkap tiga hal mengenai ancaman keamanan di sayap timur NATO.
Pertama, bahayanya bersifat kumulatif. Satu drone yang tersesat mungkin merupakan kecelakaan. Namun, pelanggaran berulang tetap menciptakan tekanan operasional dan politik meski niatnya belum pasti.
Kedua, risiko terhadap warga sipil nyata. Jatuhnya drone di gedung apartemen Galați menunjukkan bahwa drone yang berkaitan dengan serangan ke Ukraina dapat melukai orang di dalam negara anggota NATO.
Ketiga, penangkalan bergantung pada prosedur yang kredibel dan dapat dijalankan berulang kali. NATO harus mampu mendeteksi pelanggaran, menentukan asal-usul jika memungkinkan, memutuskan dengan cepat kapan intersepsi dibenarkan, dan menjelaskan responsnya kepada publik. Keraguan mungkin mencegah eskalasi dalam satu insiden, tetapi respons yang tidak konsisten juga dapat mendorong pengujian berikutnya.
Dengan demikian, kesimpulan yang paling terukur adalah: kampanye drone Rusia belum membuktikan adanya serangan konvensional yang segera terjadi terhadap NATO, tetapi telah menciptakan persaingan keamanan wilayah udara yang berkelanjutan di sepanjang sayap timur aliansi. Tugas Rumania dan sekutunya adalah menghilangkan keuntungan militer sekaligus politik dari pola tersebut—dengan membuat pertahanan perbatasan lebih cepat, lebih murah untuk dipertahankan, dan lebih sulit dieksploitasi melalui ambiguitas.