Pengamatan dari kapal menjadi salah satu petunjuk paling jelas atas transformasi ini. Survei tidak mencatat paus bungkuk di kawasan tersebut sebelum 2006. Setahun kemudian, tujuh penampakan tercatat, lalu jumlahnya melonjak menjadi lebih dari 150 pada 2024.
Paus-paus itu juga mencari makan dalam kelompok campuran berbagai spesies. Laporan penelitian menggambarkan kumpulan paus sirip, paus bungkuk, dan paus minke biasa yang muncul secara rutin, termasuk satu kelompok hingga 50 paus balin yang terlihat di sekitar 69° LU pada Agustus 2025.
Penampakan tersebut, jika berdiri sendiri, belum membuktikan bahwa semua paus itu benar-benar baru datang dari wilayah lain. Perubahan kemudahan pengamatan, pergerakan paus, dan kondisi mangsa setempat juga dapat memengaruhi jumlah laporan. Namun, gabungan catatan kapal sejak lama, survei udara, pelacakan satelit, dan pengetahuan masyarakat lokal mendukung kesimpulan bahwa cara paus memanfaatkan kawasan ini memang telah berubah secara substansial.
Laporan yang tersedia menyebutkan ribuan paus mendatangi Greenland Timur selama musim panas. Salah satu perkiraan yang banyak dikutip mencatat sekitar 4.000 paus bungkuk dan 6.000 paus sirip dalam populasi musiman tersebut.
Perkiraan untuk paus minke perlu dibaca lebih hati-hati. Sejumlah laporan sekunder menyebut 6.000 ekor, sementara ringkasan studi yang tersedia memberikan angka lebih rendah, sekitar 4.500 ekor. Karena kutipan sumber yang tersedia tidak menyelesaikan perbedaan ini, angka 6.000 tidak seharusnya dianggap sebagai hasil studi primer yang tidak terbantahkan.
Ringkasan studi memperkirakan seluruh paus tersebut mengonsumsi sekitar satu juta ton mangsa selama kurang lebih empat bulan. Skala ini menunjukkan bahwa perubahan tersebut lebih penting daripada sekadar bertambahnya penampakan paus: konsentrasi predator dalam jumlah besar dapat memengaruhi pergerakan dan ketersediaan mangsa di seluruh jaring-jaring makanan musiman.
Bagi paus bungkuk dan paus sirip, habitat makan baru yang kini dapat diakses mungkin memberikan manfaat penting. Kedua spesies tersebut pernah terdampak parah oleh perburuan paus komersial. Meluasnya habitat musim panas yang produktif berpotensi mendukung populasi yang sedang pulih dari eksploitasi pada masa lalu.
Namun, perubahan yang sama juga membawa risiko ekologis. Spesies yang beradaptasi dengan lingkungan yang terkait erat dengan es—termasuk narwhal, paus kepala busur, dan anjing laut cincin—dapat kehilangan habitat ketika es laut terus mundur. Kumpulan paus dalam jumlah besar juga dapat meningkatkan kebutuhan terhadap mangsa yang sama.
Bukti yang tersedia mendukung kekhawatiran ini sebagai konsekuensi yang masuk akal dari restrukturisasi jaring-jaring makanan. Meski demikian, bukti tersebut belum menetapkan besarnya dampak persaingan atau membuktikan pengaruh tertentu terhadap populasi masing-masing spesies yang bergantung pada es.
Kesimpulan terkuatnya adalah Greenland Timur tidak sekadar mengalami musim kemunculan paus yang tidak biasa. Berbagai jenis bukti menunjukkan adanya transisi dari sistem pesisir yang dingin dan didominasi es menuju ekosistem musiman yang lebih hangat dan terbuka.
Transisi ini dapat menciptakan peluang baru bagi spesies yang mampu berpindah jauh, sekaligus mengurangi habitat bagi hewan yang bergantung pada keberadaan es laut secara terus-menerus. Karena itu, “pesta makan” paus di Greenland Timur bukan hanya pemandangan dramatis akibat perubahan kondisi Arktik, melainkan juga pengingat bahwa keuntungan bagi satu kelompok dapat berjalan beriringan dengan gangguan bagi kelompok lainnya.