Saat diadaptasi untuk penjaga pantai, desain dasar tersebut tetap dipertahankan—termasuk lambung katamaran dan beberapa fitur pengurang jejak radar—namun sistem persenjataan berat diganti dengan peralatan yang lebih sesuai untuk operasi patroli dan penegakan hukum.
Yang menarik, kapal ini dibuat dengan konsep “fitted for but not with”: ruang dan sistemnya sudah disiapkan untuk rudal anti‑kapal seperti Hsiung Feng II atau Hsiung Feng III, tetapi senjata tersebut tidak dipasang saat operasi normal. Jika terjadi konflik, kapal dapat dipersenjatai dan berperan sebagai kapal serang cepat.
Seluruh kapal kelas Anping dibangun oleh Jong Shyn Shipbuilding sebagai bagian dari program pembaruan armada penjaga pantai Taiwan.
Beberapa tahap penting dalam program ini:
Beberapa laporan menyebutkan acara Mei 2026 sebagai peluncuran dan penamaan kapal, sementara proses operasional penuh atau commissioning bisa terjadi kemudian.
Kapal ini menggabungkan fungsi patroli sipil dengan performa yang biasanya ditemukan pada kapal perang cepat.
Lambung katamaran wave‑piercing
Desain dua lambung meningkatkan stabilitas dan memungkinkan kapal melaju cepat sekaligus tetap efisien di laut yang bergelombang.
Kecepatan tinggi
Kapal mampu melaju lebih dari 40 knot, jauh lebih cepat dibanding banyak kapal penjaga pantai konvensional.
Jangkauan patroli luas
Dengan jangkauan sekitar 2.000 mil laut, kapal dapat beroperasi lama di perairan sekitar Taiwan maupun pulau‑pulau lepas pantainya.
Propulsi waterjet
Sistem waterjet propulsion memberikan akselerasi cepat, manuver yang baik di perairan dangkal, dan efisiensi pada kecepatan tinggi.
Peralatan misi penegakan hukum
Perlengkapan standar mencakup meriam ringan, stasiun senjata kendali jarak jauh, serta peralatan untuk operasi penyelamatan, penegakan hukum maritim, dan pemberantasan penyelundupan.
Opsi rudal anti‑kapal
Jika diperlukan pada masa perang, kapal dapat dipersenjatai dengan rudal Hsiung Feng II atau III, sehingga berfungsi sebagai kapal serang cepat pendukung angkatan laut.
Modernisasi penjaga pantai Taiwan juga berkaitan dengan meningkatnya aktivitas gray‑zone di wilayah maritim—situasi yang berada di antara damai dan konflik terbuka. Ini mencakup pelanggaran wilayah oleh kapal penjaga pantai asing, penangkapan ikan ilegal, hingga insiden yang melibatkan kabel komunikasi bawah laut.
Kapal patroli cepat dengan jangkauan jauh memungkinkan CGA merespons insiden dengan lebih cepat dan menjaga kehadiran yang konsisten di perairan sekitar Taiwan.
Di sisi lain, desain yang bisa diubah menjadi platform bersenjata membuat kapal‑kapal ini berfungsi sebagai aset maritim serbaguna yang dapat membantu operasi militer jika terjadi krisis.
Peluncuran Donggang bukan sekadar penambahan satu kapal baru. Peristiwa ini mencerminkan arah baru dalam strategi keamanan maritim Taiwan:
Comments
0 comments