Agar lebih mudah dibayangkan, ini adalah perbedaan antara jarak hanya 2,8 juta mil dari permukaan bintang—lebih dekat dari Merkurius ke Matahari—hingga menjauh ke jarak yang lebih jauh dari Venus . Akibatnya, planet ini mengalami peningkatan radiasi bintang hampir 1.000 kali lipat sepanjang orbitnya yang berlangsung 111 hari
. Teleskop Spitzer milik NASA pertama kali mempelajari sistem ini pada tahun 2007 dan 2009, menggambarkan pemanasan saat pendekatan dekat sebagai "hari super-musim panas" yang ekstrem
.
Pengamatan Spitzer memberikan data awal tentang pemanasan atmosfer yang cepat, mengukur perubahan cahaya inframerah selama 30 jam terus-menerus selama pendekatan dekat dan mengungkapkan denyut panas global yang diikuti oleh badai raksasa . Namun, sensitivitas dan cakupan spektrum Webb yang belum pernah ada sebelumnya kini memungkinkan para ilmuwan untuk menyelidiki lebih dalam, mengungkap respons kimia dari atmosfer terhadap peristiwa pemanasan dahsyat ini.
Untuk menangkap metamorfosis planet ini, para astronom menggunakan instrumen NIRSpec (Near-Infrared Spectrograph) Webb dalam mode G395H. Mereka mengamati planet ini selama jendela 21 jam yang berpusat pada gerhana (eclipse) yang terjadi tepat sebelum lintasan terdekatnya dengan bintang . Hasilnya menantang model-model yang ada sebelumnya.
Sebelum periastron, saat planet masih relatif dingin, spektrum emisinya adalah 'blackbody' tanpa ciri. Artinya, atmosfernya sebagian besar buram dan tidak aktif. Namun, saat bintang tampak membesar di langitnya dan suhu melonjak, atmosfer menjadi transparan secara kimia. Spektrumnya berubah, menampilkan 'sidik jari' molekuler yang berbeda .
Menurut analisis tim peneliti, serapan karbon monoksida (CO) dan metana (CH₄) mulai terlihat saat planet melewati periastron. Mereka mendeteksi metana secara signifikan selama fase pasca-periastron dengan tingkat kepercayaan 3,7-4,8 sigma. Karbon monoksida dan uap air juga terdeteksi pada tingkat 3,4 dan 3,1 sigma . Urutan deteksi ini mengungkapkan adanya kimia atmosfer yang dinamis dan bergantung pada waktu, yang dipicu oleh semburan panas yang tiba-tiba.
Yang terpenting, pengamatan JWST memungkinkan para ilmuwan untuk mengesampingkan keberadaan 'thermal inversion' yang diperkirakan oleh beberapa model—yaitu lapisan atmosfer di mana suhu meningkat seiring ketinggian . Inversi semacam ini umum terjadi pada 'Hot Jupiter' lain yang terpapar radiasi intens. Namun, kasus HD 80606 b tampak unik. Pemanasan yang intens namun sangat singkat mungkin tidak berlangsung cukup lama untuk membentuk lapisan inversi yang stabil, atau dinamika atmosfer planet ini mendistribusikan panas terlalu efektif.
Kisah HD 80606 b adalah bukti evolusi teleskop luar angkasa. Pengamatan inframerah Spitzer pada tahun 2007 dan 2009 pertama kali mendeteksi perubahan suhu global dan memodelkan badai akibat gelombang kejut yang dihasilkan . Para ilmuwan menggambarkan bagaimana badai raksasa terbentuk sebagai respons terhadap denyut panas, dengan belahan bumi planet yang berputar menciptakan pola cuaca ekstrem.
Kontribusi utama tim Webb adalah bergerak dari sekadar mengukur panas menjadi mengukur komposisi kimia. Dengan menggunakan spektroskopi transmisi dan emisi, Webb bertindak sebagai alat canggih yang mampu mengidentifikasi molekul-molekul spesifik di atmosfer . Deteksi transisi spektrum dari tanpa ciri menjadi kaya akan tanda kimia menegaskan bahwa komposisi atmosfer itu sendiri sedang dibentuk ulang oleh orbit planet yang dramatis dalam hitungan jam. Ini memberikan laboratorium yang tak tertandingi untuk menguji teori dinamika atmosfer dan 'quenching' (penghambatan reaksi kimia)
.
HD 80606 b bukan sekadar obyek langka; ia adalah laboratorium alami untuk mempelajari fisika atmosfer ekstrem. Suhu efektif planet ini diperkirakan melonjak dari sekitar 400 K (127°C) menjadi lebih dari 1.400 K (1.127°C) hanya dalam beberapa jam . Pergeseran termal yang cepat ini diperkirakan menghasilkan gelombang kejut dan turbulensi ekstrem di atmosfer planet—fenomena yang sulit dimodelkan dan belum pernah diamati sedetail ini sebelum Webb
.
Temuan ini berkontribusi pada misi Webb yang lebih luas: mengkarakterisasi atmosfer eksoplanet dalam berbagai kondisi. Sementara Webb telah mengamati dunia ekstrem lain seperti WASP-121 b, sebuah 'ultra-hot Jupiter' yang kehilangan atmosfernya dalam bentuk dua ekor helium raksasa, dan TOI-199 b, planet seukuran Saturnus dengan suhu sedang dan atmosfer kaya metana , HD 80606 b unik karena menunjukkan 'pergantian musim' kimia secara total yang didorong oleh orbitnya yang sangat eksentrik.
Dengan menangkap kondisi 'sebelum, selama, dan setelah' musim panas neraka planet ini, Webb telah memberikan 'film' resolusi waktu tentang iklim yang berubah lebih banyak dalam satu hari daripada perubahan iklim Bumi dalam jutaan tahun. Ketepatan waktu pengamatan ini dimungkinkan oleh jaringan teleskop global yang menyempurnakan perhitungan orbit planet, memastikan Webb tidak melewatkan jendela kritis saat periastron terjadi .
Kampanye sukses ini menggambarkan kombinasi ampuh antara persiapan berbasis darat yang cermat dan kekuatan luar angkasa Webb, mendorong batas pengetahuan kita ke dalam sistem cuaca paling ganas di galaksi.