JPMorgan menyatakan tidak lagi memiliki pandangan dasar mengenai akhir konflik Iran, sehingga proyeksi minyak tidak bisa hanya mengandalkan pola penawaran dan permintaan biasa. Risikonya bukan hanya Selat Hormuz: gangguan pada pipa East West Arab Saudi mengurangi jalur ekspor alternatif, sementara ancaman di Bab el...
Diterbitkan olehDiedit dengan GPT-5.6 TerraGambar dibuat dengan GPT Image 2
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What does JPMorgan’s acknowledgment that the trajectory of the more-than-six-month-old U.S.-Israel war against Iran has made oil prices near. Article summary: JPMorgan’s admission is essentially a warning that oil is no longer governed mainly by normal supply-and-demand assumptions: it is being priced against an unknowable political and military endgame. The conflict appears t. Topic tags: general, general web, news. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers
JPMorgan berhenti memakai satu skenario utama untuk memperkirakan akhir perang Iran. Pesannya cukup tegas: pasar minyak kini lebih ditentukan oleh hasil politik dan militer yang belum bisa dipastikan, bukan oleh jadwal pemulihan pasokan yang dapat dihitung dengan model biasa.
Pada awal konflik, bank tersebut memperkirakan tekanan ekonomi akan mendorong tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz pada sekitar Juni. Namun, konflik berlanjut melewati sejumlah “garis merah” ekonomi yang sebelumnya diasumsikan akan membatasi keputusan para pembuat kebijakan. 2
Biasanya, skenario dasar memberi pelaku pasar, perusahaan, dan bank sentral gambaran paling mungkin mengenai pasokan, permintaan, serta harga. Kini, tim komoditas JPMorgan mengatakan mereka tidak memilikinya untuk akhir konflik. Bukan berarti semua kemungkinan harga sama besarnya, melainkan faktor-faktor penentu—akses kapal, kerusakan infrastruktur, aktivitas kelompok proksi, dan waktu tercapainya penyelesaian—tidak dapat ditempatkan secara meyakinkan dalam satu jalur proyeksi. 2
5
Karena itu, janji politik tentang berakhirnya perang dalam waktu dekat belum otomatis menjadi dasar prediksi harga minyak yang dapat diandalkan. Penurunan harga yang berkelanjutan membutuhkan bukti nyata: kapal tanker dapat berlayar dengan aman, rute ekspor kembali beroperasi, produksi pulih, pengiriman memperoleh perlindungan asuransi, serta serangan terhadap infrastruktur energi dan pelayaran mereda.
Prospek September dari Badan Energi Internasional atau IEA menunjukkan risiko kekurangan pasokan yang lebih lama, bukan sekadar gangguan singkat. IEA memperkirakan pasokan minyak dunia rata-rata mencapai 100,7 juta barel per hari pada 2026, turun 5,7 juta barel per hari dibandingkan 2025. Pemulihan aliran minyak Teluk secara normal juga diperkirakan mundur ke 2027.
Pada Agustus, persediaan minyak global turun 3,1 juta barel per hari, sehingga bantalan pasar untuk menyerap gangguan tambahan makin menipis. 17
Brent sebelumnya telah melampaui US$100 per barel dalam konflik ini, sementara riset JPMorgan menyoroti risiko lonjakan ekstrem ketika ekspor dari kawasan Teluk terganggu. 14 Namun, harga acuan hanya menggambarkan sebagian masalah. Ketersediaan minyak mentah fisik, rute kapal tanker, bahan baku kilang, dan pasokan solar dapat mengetat pada waktu dan wilayah yang berbeda.
Serangan terhadap pipa East-West Arab Saudi sangat penting karena jalur itu menjadi alternatif utama bagi minyak yang sulit keluar melalui rute Teluk. Pipa tersebut mengalirkan minyak Saudi ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah, sehingga dapat menghindari Selat Hormuz.
Laporan mengenai penghentian operasi menyebut sekitar 4 juta barel per hari, setara kira-kira 4% pasokan global, berada dalam risiko. 23 Bila kapasitas ini tetap tidak tersedia, pilihan untuk mengalihkan minyak akan semakin terbatas saat transit di Teluk terganggu.
Pasar minyak tidak hanya bereaksi terhadap besarnya volume produksi yang hilang. Yang sama pentingnya adalah apakah minyak mentah dapat tiba di kilang yang sesuai, produk hasil kilang bisa dikirim ke konsumen, dan jalur alternatif tetap terbuka.
IEA menyatakan belum adanya kesepakatan untuk pembukaan Hormuz dan transit tanpa hambatan melalui Selat Bab el-Mandeb membuat lembaga itu memangkas proyeksi pasokan. 32 Ancaman berkelanjutan di Bab el-Mandeb dapat memperpanjang perjalanan kapal dan mengganggu lalu lintas Laut Merah. Pada saat yang sama, gangguan kilang di tempat lain dapat mengetatkan pasokan produk seperti solar meskipun minyak mentah global masih tersedia.
Artinya, fleksibilitas pasar menyusut: jenis minyak, kapal, rute, dan kapasitas kilang tidak bisa begitu saja saling menggantikan.
Dampak minyak tidak berhenti pada harga BBM. Solar dan produk energi lain masuk ke biaya angkutan, distribusi pangan, manufaktur, hingga pemanas. Kondisi ini meningkatkan risiko bahwa lonjakan energi menyebar ke harga-harga lain, sementara biaya yang lebih tinggi sekaligus melemahkan aktivitas ekonomi.
Di Inggris, Bank of England mempertahankan suku bunga acuannya di 3,75% sambil menimbang risiko inflasi dan pertumbuhan yang lemah. Pada Juli, Komite Kebijakan Moneter memilih menahan suku bunga dengan suara 6–3; tiga anggota mendukung kenaikan menjadi 4%. Bank itu mengatakan perlu bukti yang lebih jelas mengenai dampak perang terhadap inflasi, sedangkan Gubernur Andrew Bailey menegaskan bank sentral belum tentu menuju kenaikan suku bunga. 35
Rentang hasilnya masih sangat lebar. Pada April, Bank of England memperingatkan bahwa kejutan harga minyak yang parah dan berkepanjangan dapat mendorong inflasi melampaui 6% pada awal 2027 serta menuntut kenaikan suku bunga yang agresif. Sebaliknya, skenario yang lebih ringan mungkin tidak memerlukan kenaikan sama sekali. 37
Ketidakpastian inilah yang dapat menunda penurunan suku bunga, bahkan sebelum bank sentral benar-benar menaikkan suku bunga.
Dalam proyeksi Juli, JPMorgan memperkirakan Brent rata-rata US$86 per barel pada kuartal III 2026, US$80 pada kuartal IV, dan US$78 pada akhir tahun. Perkiraan itu bertumpu pada penyeimbangan kembali pasar melalui permintaan yang lebih lemah, penarikan stok yang lebih kecil, serta asumsi kerusakan jangka panjang pada produksi Teluk terbatas. 7
Pengakuan berikutnya bahwa akhir konflik tak dapat dimodelkan bukan berarti target harga tersebut mustahil tercapai. Namun, asumsi di balik proyeksi angka tunggal kini rentan terhadap kejadian yang tidak lazim dalam model pasar: hambatan pelayaran yang terus berlangsung, pipa pengalihan utama yang berhenti beroperasi, atau serangan baru yang mengubah situasi keamanan.
Penurunan harga setelah kabar diplomatik belum tentu berarti pasar fisik telah normal. Deeskalasi yang lebih meyakinkan perlu terlihat dalam beberapa perkembangan sekaligus:
Pelajaran utama dari peringatan JPMorgan bukanlah bahwa harga minyak pasti terus naik. Bank itu juga memaparkan skenario di mana konflik berkepanjangan menghasilkan rata-rata harga yang lebih rendah daripada level saat ini, sementara pemulihan pascakonflik dapat menekan harga lebih jauh. 6
Namun, jalur menuju salah satu hasil tersebut masih belum jelas. Selama arus minyak fisik dan kondisi keamanan belum stabil, pasar energi kemungkinan mempertahankan premi risiko geopolitik yang tinggi dan bergejolak—sementara bank sentral harus mengelola risiko inflasi tanpa tanggal akhir yang jelas bagi guncangan ini. 2
17
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
JPMorgan menyatakan tidak lagi memiliki pandangan dasar mengenai akhir konflik Iran, sehingga proyeksi minyak tidak bisa hanya mengandalkan pola penawaran dan permintaan biasa.
JPMorgan menyatakan tidak lagi memiliki pandangan dasar mengenai akhir konflik Iran, sehingga proyeksi minyak tidak bisa hanya mengandalkan pola penawaran dan permintaan biasa. Risikonya bukan hanya Selat Hormuz: gangguan pada pipa East West Arab Saudi mengurangi jalur ekspor alternatif, sementara ancaman di Bab el Mandeb menekan pelayaran.
Lonjakan energi dapat menyebar ke biaya logistik, pangan, dan manufaktur, membuat bank sentral lebih sulit menurunkan suku bunga.
JPMorgan menyatakan tidak lagi memiliki pandangan dasar mengenai akhir konflik Iran, sehingga proyeksi minyak tidak bisa hanya mengandalkan pola penawaran dan permintaan biasa. Risikonya bukan hanya Selat Hormuz: gangguan pada pipa East West Arab Saudi mengurangi jalur ekspor alternatif, sementara ancaman di Bab el...
Diterbitkan olehDiedit dengan GPT-5.6 TerraGambar dibuat dengan GPT Image 2
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What does JPMorgan’s acknowledgment that the trajectory of the more-than-six-month-old U.S.-Israel war against Iran has made oil prices near. Article summary: JPMorgan’s admission is essentially a warning that oil is no longer governed mainly by normal supply-and-demand assumptions: it is being priced against an unknowable political and military endgame. The conflict appears t. Topic tags: general, general web, news. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers
JPMorgan berhenti memakai satu skenario utama untuk memperkirakan akhir perang Iran. Pesannya cukup tegas: pasar minyak kini lebih ditentukan oleh hasil politik dan militer yang belum bisa dipastikan, bukan oleh jadwal pemulihan pasokan yang dapat dihitung dengan model biasa.
Pada awal konflik, bank tersebut memperkirakan tekanan ekonomi akan mendorong tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz pada sekitar Juni. Namun, konflik berlanjut melewati sejumlah “garis merah” ekonomi yang sebelumnya diasumsikan akan membatasi keputusan para pembuat kebijakan. 2
Biasanya, skenario dasar memberi pelaku pasar, perusahaan, dan bank sentral gambaran paling mungkin mengenai pasokan, permintaan, serta harga. Kini, tim komoditas JPMorgan mengatakan mereka tidak memilikinya untuk akhir konflik. Bukan berarti semua kemungkinan harga sama besarnya, melainkan faktor-faktor penentu—akses kapal, kerusakan infrastruktur, aktivitas kelompok proksi, dan waktu tercapainya penyelesaian—tidak dapat ditempatkan secara meyakinkan dalam satu jalur proyeksi. 2
5
Karena itu, janji politik tentang berakhirnya perang dalam waktu dekat belum otomatis menjadi dasar prediksi harga minyak yang dapat diandalkan. Penurunan harga yang berkelanjutan membutuhkan bukti nyata: kapal tanker dapat berlayar dengan aman, rute ekspor kembali beroperasi, produksi pulih, pengiriman memperoleh perlindungan asuransi, serta serangan terhadap infrastruktur energi dan pelayaran mereda.
Prospek September dari Badan Energi Internasional atau IEA menunjukkan risiko kekurangan pasokan yang lebih lama, bukan sekadar gangguan singkat. IEA memperkirakan pasokan minyak dunia rata-rata mencapai 100,7 juta barel per hari pada 2026, turun 5,7 juta barel per hari dibandingkan 2025. Pemulihan aliran minyak Teluk secara normal juga diperkirakan mundur ke 2027.
Pada Agustus, persediaan minyak global turun 3,1 juta barel per hari, sehingga bantalan pasar untuk menyerap gangguan tambahan makin menipis. 17
Brent sebelumnya telah melampaui US$100 per barel dalam konflik ini, sementara riset JPMorgan menyoroti risiko lonjakan ekstrem ketika ekspor dari kawasan Teluk terganggu. 14 Namun, harga acuan hanya menggambarkan sebagian masalah. Ketersediaan minyak mentah fisik, rute kapal tanker, bahan baku kilang, dan pasokan solar dapat mengetat pada waktu dan wilayah yang berbeda.
Serangan terhadap pipa East-West Arab Saudi sangat penting karena jalur itu menjadi alternatif utama bagi minyak yang sulit keluar melalui rute Teluk. Pipa tersebut mengalirkan minyak Saudi ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah, sehingga dapat menghindari Selat Hormuz.
Laporan mengenai penghentian operasi menyebut sekitar 4 juta barel per hari, setara kira-kira 4% pasokan global, berada dalam risiko. 23 Bila kapasitas ini tetap tidak tersedia, pilihan untuk mengalihkan minyak akan semakin terbatas saat transit di Teluk terganggu.
Pasar minyak tidak hanya bereaksi terhadap besarnya volume produksi yang hilang. Yang sama pentingnya adalah apakah minyak mentah dapat tiba di kilang yang sesuai, produk hasil kilang bisa dikirim ke konsumen, dan jalur alternatif tetap terbuka.
IEA menyatakan belum adanya kesepakatan untuk pembukaan Hormuz dan transit tanpa hambatan melalui Selat Bab el-Mandeb membuat lembaga itu memangkas proyeksi pasokan. 32 Ancaman berkelanjutan di Bab el-Mandeb dapat memperpanjang perjalanan kapal dan mengganggu lalu lintas Laut Merah. Pada saat yang sama, gangguan kilang di tempat lain dapat mengetatkan pasokan produk seperti solar meskipun minyak mentah global masih tersedia.
Artinya, fleksibilitas pasar menyusut: jenis minyak, kapal, rute, dan kapasitas kilang tidak bisa begitu saja saling menggantikan.
Dampak minyak tidak berhenti pada harga BBM. Solar dan produk energi lain masuk ke biaya angkutan, distribusi pangan, manufaktur, hingga pemanas. Kondisi ini meningkatkan risiko bahwa lonjakan energi menyebar ke harga-harga lain, sementara biaya yang lebih tinggi sekaligus melemahkan aktivitas ekonomi.
Di Inggris, Bank of England mempertahankan suku bunga acuannya di 3,75% sambil menimbang risiko inflasi dan pertumbuhan yang lemah. Pada Juli, Komite Kebijakan Moneter memilih menahan suku bunga dengan suara 6–3; tiga anggota mendukung kenaikan menjadi 4%. Bank itu mengatakan perlu bukti yang lebih jelas mengenai dampak perang terhadap inflasi, sedangkan Gubernur Andrew Bailey menegaskan bank sentral belum tentu menuju kenaikan suku bunga. 35
Rentang hasilnya masih sangat lebar. Pada April, Bank of England memperingatkan bahwa kejutan harga minyak yang parah dan berkepanjangan dapat mendorong inflasi melampaui 6% pada awal 2027 serta menuntut kenaikan suku bunga yang agresif. Sebaliknya, skenario yang lebih ringan mungkin tidak memerlukan kenaikan sama sekali. 37
Ketidakpastian inilah yang dapat menunda penurunan suku bunga, bahkan sebelum bank sentral benar-benar menaikkan suku bunga.
Dalam proyeksi Juli, JPMorgan memperkirakan Brent rata-rata US$86 per barel pada kuartal III 2026, US$80 pada kuartal IV, dan US$78 pada akhir tahun. Perkiraan itu bertumpu pada penyeimbangan kembali pasar melalui permintaan yang lebih lemah, penarikan stok yang lebih kecil, serta asumsi kerusakan jangka panjang pada produksi Teluk terbatas. 7
Pengakuan berikutnya bahwa akhir konflik tak dapat dimodelkan bukan berarti target harga tersebut mustahil tercapai. Namun, asumsi di balik proyeksi angka tunggal kini rentan terhadap kejadian yang tidak lazim dalam model pasar: hambatan pelayaran yang terus berlangsung, pipa pengalihan utama yang berhenti beroperasi, atau serangan baru yang mengubah situasi keamanan.
Penurunan harga setelah kabar diplomatik belum tentu berarti pasar fisik telah normal. Deeskalasi yang lebih meyakinkan perlu terlihat dalam beberapa perkembangan sekaligus:
Pelajaran utama dari peringatan JPMorgan bukanlah bahwa harga minyak pasti terus naik. Bank itu juga memaparkan skenario di mana konflik berkepanjangan menghasilkan rata-rata harga yang lebih rendah daripada level saat ini, sementara pemulihan pascakonflik dapat menekan harga lebih jauh. 6
Namun, jalur menuju salah satu hasil tersebut masih belum jelas. Selama arus minyak fisik dan kondisi keamanan belum stabil, pasar energi kemungkinan mempertahankan premi risiko geopolitik yang tinggi dan bergejolak—sementara bank sentral harus mengelola risiko inflasi tanpa tanggal akhir yang jelas bagi guncangan ini. 2
17
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
JPMorgan menyatakan tidak lagi memiliki pandangan dasar mengenai akhir konflik Iran, sehingga proyeksi minyak tidak bisa hanya mengandalkan pola penawaran dan permintaan biasa.
JPMorgan menyatakan tidak lagi memiliki pandangan dasar mengenai akhir konflik Iran, sehingga proyeksi minyak tidak bisa hanya mengandalkan pola penawaran dan permintaan biasa. Risikonya bukan hanya Selat Hormuz: gangguan pada pipa East West Arab Saudi mengurangi jalur ekspor alternatif, sementara ancaman di Bab el Mandeb menekan pelayaran.
Lonjakan energi dapat menyebar ke biaya logistik, pangan, dan manufaktur, membuat bank sentral lebih sulit menurunkan suku bunga.