Angka US$30 miliar dari JPMorgan sebaiknya dibaca sebagai skenario yang bergantung pada pendanaan, bukan sebagai janji bahwa Strategy pasti akan memborong Bitcoin sebesar itu. Laporan yang mengutip analis JPMorgan menyebut Strategy, perusahaan yang dulu bernama MicroStrategy, bisa membeli Bitcoin hingga US$30 miliar pada 2026 jika laju akumulasinya saat ini terus berlanjut .
Pertanyaan utamanya bukan hanya apakah Strategy masih bullish pada Bitcoin. Yang lebih menentukan adalah: apakah pasar masih mau membeli surat berharga Strategy dengan syarat yang cukup menarik bagi perusahaan untuk terus membeli Bitcoin?
Dalam bahasa sederhana, proyeksi JPMorgan bersifat kondisional. Jika Strategy mempertahankan ritme pembelian saat ini, total pembelian Bitcoin pada 2026 bisa mencapai hingga US$30 miliar, menurut laporan yang mengutip analis bank tersebut . Salah satu laporan menyebut Strategy sudah membeli 145.834 BTC senilai sekitar US$11 miliar pada 2026
.
Kondisi pendanaan menjadi bagian penting dari hitungan itu. Laporan yang sama menyebut saham Strategy diperdagangkan dengan premi 26% terhadap nilai aset bersih atau net asset value (NAV), dan premi ini membantu membuka ruang bagi pembelian Bitcoin lanjutan melalui kanal pembiayaan pasar modal . Dengan kata lain, proyeksi ini bukan semata cerita soal keyakinan pada Bitcoin, melainkan juga soal selera investor terhadap saham dan instrumen preferen Strategy.
Transaksi pada 2026 menunjukkan pola yang berulang: Strategy menggalang dana di pasar modal, lalu memakai hasilnya untuk membeli Bitcoin.
Kesimpulannya, model pembelian Bitcoin Strategy pada 2026 bukan sekadar strategi menambah utang baru. Transaksi yang dilaporkan memperlihatkan mesin pasar modal hibrida: saham biasa tetap dipakai, sementara saham preferen menjadi kanal penting untuk menambah kas dan membeli Bitcoin lagi .
Saham preferen penting karena memberi Strategy jalur lain untuk menggalang dana tanpa hanya mengandalkan penjualan saham biasa. Bagi pembaca yang kurang akrab dengan istilah ini, saham preferen umumnya berada di antara saham biasa dan instrumen utang: tetap berbentuk ekuitas, tetapi biasanya memiliki ketentuan dividen atau hak tertentu.
Crypto.news melaporkan bahwa Strategy beralih ke saham preferen untuk tetap membeli Bitcoin sambil mencoba meredam tekanan dari gejolak pasar. Laporan itu juga menyebut saham preferen Stretch membayar dividen variabel 11,25% .
Namun, struktur seperti ini tidak gratis. Laporan KuCoin mencatat bahwa metrik keuntungan Bitcoin Strategy dapat menutupi biaya modal, dividen saham preferen, dan kewajiban utang . Artinya, semakin banyak Bitcoin di neraca tidak otomatis berarti hasil bersihnya lebih baik setelah seluruh biaya pendanaan dihitung.
Pergeseran ke saham preferen tidak berarti saham biasa menjadi tidak penting. Pada contoh Januari, penjualan saham biasa menghasilkan US$1,13 miliar dari total US$1,25 miliar dana yang dihimpun . Dalam pembelian 2–8 Maret, sekitar US$900 juta dari transaksi sekitar US$1,3 miliar berasal dari penjualan saham biasa Kelas A, sementara US$377 juta berasal dari saham preferen Stretch
.
Komposisinya bisa berubah dari pekan ke pekan. Pembelian 9–15 Maret jauh lebih bertumpu pada saham preferen STRC, dengan sekitar 75% pendanaan yang dilaporkan berasal dari kanal tersebut . Fleksibilitas inilah inti strateginya: Strategy tampaknya menggunakan saluran pasar publik mana pun—saham biasa atau saham preferen—selama masih bisa mendanai pembelian Bitcoin dengan syarat yang dianggap layak.
Skenario US$30 miliar bergantung pada kondisi pendanaan yang tetap mendukung. Laporan yang mengutip JPMorgan mengaitkan angka itu dengan kemampuan Strategy mempertahankan laju pembelian saat ini . Salah satu laporan juga menyoroti kondisi pasar dan ketersediaan pendanaan sebagai faktor penting dalam strategi akuisisi Strategy
.
Jika premi saham Strategy terhadap NAV menyempit, permintaan atas saham biasa melemah, atau investor saham preferen meminta imbal hasil yang lebih mahal, laju pembelian yang tersirat dalam skenario JPMorgan bisa lebih sulit dipertahankan. Sebaliknya, jika kanal-kanal itu tetap terbuka, Strategy masih dapat memakai penerbitan surat berharga sebagai mesin akumulasi Bitcoin.
Proyeksi JPMorgan lebih tepat dipahami sebagai pandangan tentang kapasitas Strategy menggalang modal, bukan semata prediksi harga Bitcoin. Pembelian Bitcoin hingga US$30 miliar pada 2026 adalah skenario batas atas jika laju saat ini terus berjalan . Mekanismenya terlihat dari transaksi terbaru: sebagian besar akumulasi Bitcoin Strategy didanai lewat saham biasa dan saham preferen perpetual, bukan terutama lewat penambahan utang konvensional baru
.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Laporan yang mengutip JPMorgan menyebut Strategy bisa membeli Bitcoin hingga US$30 miliar pada 2026 jika laju pembeliannya berlanjut; angka ini adalah skenario bersyarat, bukan komitmen pasti [7][16].
Laporan yang mengutip JPMorgan menyebut Strategy bisa membeli Bitcoin hingga US$30 miliar pada 2026 jika laju pembeliannya berlanjut; angka ini adalah skenario bersyarat, bukan komitmen pasti [7][16]. Pembelian terbaru menunjukkan mesin pendanaan yang berat ke ekuitas: saham biasa dan saham preferen perpetual, termasuk Stretch/STRC, dipakai untuk membiayai sejumlah pembelian Bitcoin pada 2026 [18][20][21][25].
Ketergantungan pada utang baru memang tampak lebih kecil dalam transaksi terbaru, tetapi biaya modal, dividen saham preferen, dan kewajiban yang sudah ada tetap penting untuk menilai keekonomiannya [17][21].
Loading comments...
Comments
0 comments