Serangan terbaru Israel di Gaza paling tepat dibaca sebagai ujian berat berikutnya bagi gencatan senjata Oktober 2025, bukan bukti jelas bahwa kesepakatan itu sudah resmi berakhir. Laporan pada 30 April dan 1 Mei 2026 menyebut serangan Israel menewaskan sedikitnya empat warga Palestina di Jalur Gaza saat para pemimpin Hamas bertemu mediator di Kairo untuk membahas cara menghidupkan kembali gencatan senjata yang rapuh dan telah berjalan sekitar enam bulan, dengan mediasi Amerika Serikat [1][
2].
Jawaban singkat: terkikis, belum runtuh
Gencatan senjata ini tampaknya masih hidup secara teknis karena laporan yang tersedia menyebut para mediator sedang berusaha menguatkan kembali kesepakatan, bukan mengumumkan bahwa kesepakatan telah dibatalkan [1]. Namun dampak politiknya serius: serangan yang terjadi saat mediasi berlangsung membuat kepercayaan makin tipis, memberi ruang bagi kritik bahwa Israel melanggar gencatan senjata, dan mendorong Israel menekankan kembali klaimnya bahwa Hamas juga melanggar ketentuan kesepakatan [
2][
14].
Dengan kata lain, risiko terdekat bukan otomatis perang skala penuh dimulai kembali. Yang lebih mungkin adalah erosi gencatan senjata: insiden berulang, klaim balasan soal pelanggaran, pembatasan yang lebih ketat, dan perundingan yang melambat karena para pihak kembali berdebat soal apakah fase sekarang saja sudah dipatuhi.
Apa yang terjadi di Gaza dan Kairo
Laporan yang terbit pada 30 April dan 1 Mei menyebut serangan Israel menewaskan sedikitnya empat warga Palestina di Jalur Gaza ketika para pemimpin Hamas sedang bertemu mediator di Kairo untuk membahas upaya menghidupkan kembali gencatan senjata [1][
2]. Dawn melaporkan bahwa seorang pejabat Hamas mengatakan delegasi kelompok itu telah tiba di Kairo dua hari sebelumnya untuk pertemuan dengan mediator mengenai rencana Gaza Presiden Donald Trump [
1].
Konteks di lapangan juga tetap mematikan. Dawn, mengutip petugas medis setempat, melaporkan bahwa sedikitnya 800 warga Palestina telah tewas sejak gencatan senjata berlaku [1]. The New Arab menggambarkan serangan-serangan itu sebagai bagian dari pelanggaran berlanjut Israel terhadap gencatan senjata melalui pembunuhan dan penghancuran [
2].
Mengapa gencatan senjata masih hidup secara teknis
Tidak ada laporan yang tersedia yang menyatakan gencatan senjata Oktober 2025 telah dibatalkan secara formal. Sebaliknya, laporan terbaru masih menyebutnya sebagai gencatan senjata rapuh berusia enam bulan yang sedang coba dihidupkan kembali oleh mediator [1][
2].
Pembedaan ini penting. Gencatan senjata tidak selalu bekerja seperti sakelar yang hanya menyala atau mati. Ia bisa tetap berlaku di atas kertas, tetapi makin tidak efektif di lapangan. Pola serupa sudah terlihat sebelumnya: pada Oktober 2025, tak lama setelah gencatan senjata usulan AS mulai berlaku, serangan Israel dan penghentian transfer bantuan yang dilaporkan disebut sebagai ujian besar setelah Israel menuduh Hamas melanggar gencatan senjata [10]. Pada Maret 2026, Long War Journal menggambarkan gencatan senjata itu secara umum masih bertahan, meski bentrokan tingkat rendah, dugaan pelanggaran, dan operasi Israel terhadap Hamas terus berlanjut [
7].
Mengapa waktu serangan memperberat negosiasi
Pembicaraan di Kairo bertujuan mempertahankan atau menghidupkan kembali gencatan senjata [1][
2]. Serangan saat proses itu berjalan menggeser fokus meja perundingan: dari bagaimana menjalankan kesepakatan ke perdebatan apakah kesepakatan itu masih dihormati.
Isu yang belum selesai juga besar. Militer Israel, IDF, menyatakan gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025 dan menggambarkan fase pertamanya sebagai bagian dari rencana 20 butir yang mewajibkan Hamas mengembalikan 48 sandera yang tersisa dan melucuti senjata sepenuhnya [14]. Rangkuman publik mengenai rencana damai Gaza menyebut perundingan fase berikutnya tersendat oleh perbedaan soal urutan pelaksanaan dan perlucutan senjata: Israel menginginkan kemajuan soal perlucutan senjata, sementara Hamas menyatakan pembahasan fase berikutnya harus menunggu fase pertama dijalankan penuh [
4].
Dalam situasi seperti ini, setiap serangan baru menaikkan harga politik untuk berkompromi. Hamas dan pihak yang berpihak pada Palestina dapat menunjuk korban jiwa sebagai bukti bahwa Israel tidak menghormati gencatan senjata [2]. Israel dapat menunjuk daftar dugaan pelanggaran oleh Hamas untuk membenarkan operasi militer lanjutan [
14]. Akibatnya, mediator harus menghabiskan modal politik untuk menstabilkan gencatan senjata sebelum bisa mendorong kemajuan soal sandera, perlucutan senjata, bantuan, penarikan pasukan, atau pengaturan keamanan.
Dua narasi yang saling mengunci
Narasi publik Israel kemungkinan akan berpusat pada penegakan kesepakatan dan dugaan pelanggaran Hamas. IDF telah menerbitkan catatan berjalan berjudul Major Ceasefire Violations, yang menyatakan Hamas melanggar perjanjian dan bahwa pasukan Israel merespons ancaman atau serangan [14]. Dalam laporan terpisah pada Februari 2026, militer Israel juga disebut mengatakan telah menyerang operatif Hamas setelah sejumlah pria bersenjata Palestina keluar dari terowongan di Rafah [
13].
Sebaliknya, kritik Palestina dan regional kemungkinan akan membingkai peristiwa yang sama sebagai pelanggaran oleh Israel. Laporan The New Arab menyatakan Israel terus membunuh warga Palestina meskipun ada kesepakatan gencatan senjata Oktober, dan menggambarkan pembunuhan serta penghancuran harian sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan [2].
Kedua narasi ini membuat posisi negosiasi mengeras. Israel dapat mengatakan operasi keamanan tetap diperlukan selama Hamas masih bersenjata atau aktif. Hamas dan para pendukungnya dapat mengatakan perundingan menjadi tidak bermakna jika serangan Israel terus berlangsung selama masa gencatan senjata.
Sinyal yang perlu dipantau
Pertanyaan kuncinya adalah apakah mediator dapat mengubah kontak di Kairo menjadi komitmen baru terhadap gencatan senjata. Jika berhasil, serangan terbaru ini mungkin menjadi satu lagi insiden merusak di dalam gencatan senjata yang masih berfungsi. Jika gagal, pembicaraan bisa bergeser dari negosiasi fase berikutnya menjadi upaya darurat mencegah eskalasi [1][
2].
Sinyal terpenting untuk diperhatikan:
- apakah mediator mengumumkan kemajuan konkret atau hanya menyerukan de-eskalasi;
- apakah Israel secara terbuka mengaitkan serangan dengan dugaan pelanggaran spesifik oleh Hamas, seperti yang telah dilakukan dalam insiden pascagencatan senjata lain [
14];
- apakah Hamas tetap terlibat dalam pembicaraan berbasis Kairo mengenai gencatan senjata dan rencana Trump [
1];
- apakah akses bantuan atau pembatasan pergerakan diperketat, seperti yang dilaporkan terjadi dalam ujian awal gencatan senjata pada Oktober 2025 [
10];
- apakah laporan korban terus meningkat, yang akan memperdalam tekanan terhadap para perunding [
1][
2].
Intinya: berdasarkan bukti yang tersedia, serangan terbaru ini belum menandai akhir formal gencatan senjata Oktober 2025. Namun ia membuat gencatan senjata semakin tipis, jalur mediasi semakin mendesak, dan fase berikutnya dalam negosiasi Hamas-Israel semakin sulit dicapai.





