Peringatan ini tampaknya bukan hanya ancaman militer, melainkan juga bagian dari kampanye tekanan diplomatik. Teheran ingin membuat sekutu-sekutu Washington di Teluk—Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Bahrain—mendorong Presiden Donald Trump untuk mempertahankan jalur perundingan, bukan membuka babak baru eskalasi .
Menteri luar negeri Iran menyatakan bahwa setiap serangan AS akan dibalas dengan “respons proporsional”. Media Iran yang berafiliasi dengan pemerintah juga secara terbuka memperingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas energi Iran akan dibalas dengan serangan terhadap ladang energi negara lain .
Pada 1 Agustus, otoritas Iran kembali menjanjikan pembalasan jika infrastruktur energi pentingnya diserang Amerika Serikat. Mereka memperingatkan tentang “kobaran api perang” . Sehari-hari sebelumnya, pada 22 Juli, kepala perunding Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan bahwa “tidak ada infrastruktur yang akan aman” jika keamanan Iran tidak dijamin .
Dengan demikian, pesan Teheran memiliki dua sasaran. Kepada Washington, Iran ingin menaikkan biaya politik dan ekonomi dari serangan baru. Kepada negara-negara Teluk, Iran menyampaikan bahwa menjadi tuan rumah aset atau kepentingan AS dapat membuat fasilitas vital mereka ikut terdampak.
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara gabungan ke Iran pada 28 Februari dalam operasi yang dikenal sebagai Operation Epic Fury dan Lion’s Roar. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan memicu serangan balasan besar-besaran Iran menggunakan rudal serta drone ke berbagai sasaran di kawasan .
Sejak itu, konflik berkembang menjadi perang regional dengan operasi udara AS dan Israel di Iran, serangan Iran ke negara-negara Teluk, serta gangguan besar terhadap lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Iran menutup selat tersebut pada Maret . Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang sangat penting bagi perdagangan energi dunia.
Pada 17–18 Juni, Amerika Serikat dan Iran menandatangani Islamabad Memorandum, nota kesepahaman 14 poin yang dimediasi Pakistan dan Qatar. Kesepakatan tersebut menetapkan gencatan senjata sementara serta jangka waktu 60 hari untuk merundingkan kesepakatan final .
Namun, kerangka tersebut segera mengalami kebuntuan. Wakil Presiden AS JD Vance membatalkan rencana perjalanan ke Swiss pada 18 Juni untuk membahas penerapan kesepakatan, dengan alasan ketegangan yang masih berlangsung . Hingga kini, kerangka itu belum menghasilkan perdamaian permanen, sementara periode 60 hari juga belum melahirkan kesepakatan akhir.
Sejak 28 Februari, Iran secara efektif membatasi pelayaran normal melalui Selat Hormuz, salah satu titik sempit paling strategis dalam perdagangan energi global . Amerika Serikat juga memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran pada 13 April hingga 29 Mei .
Kerangka kesepakatan 18 Juni memuat ketentuan untuk memulai pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, perundingan masih buntu. Iran mengancam akan mengenakan biaya kepada kapal-kapal yang melintasi selat tersebut setelah 60 hari, sehingga ketegangan mengenai akses pelayaran terus berlanjut .
Wakil Presiden JD Vance menilai perebutan pengaruh di dalam Iran—setelah pembunuhan Khamenei, suksesi yang diperdebatkan oleh putranya Mojtaba Khamenei, serta perpecahan antara Garda Revolusi Iran, kepemimpinan politik baru, dan lembaga keagamaan—membuat kesepakatan yang stabil sulit dicapai .
Penilaian tentang sistem Iran yang “terpecah” itu menjadi salah satu alasan Washington skeptis terhadap kemampuan Teheran memenuhi komitmen. Pembatalan perjalanan Vance ke Jenewa dan keraguannya yang disampaikan secara terbuka memperkuat kesan bahwa jalur diplomasi masih sangat rapuh .
Pada atau sekitar 28 Juli 2026, Presiden Donald Trump mengancam akan menyerang jaringan energi Iran. Ia secara khusus memperingatkan akan “menghancurkan secara besar-besaran” infrastruktur energi Iran . Ancaman itu muncul di tengah pertukaran serangan baru antara AS dan Iran pada akhir Juli. Pada 21 Juli, pasukan AS membombardir sejumlah sasaran di Iran selatan .
Pada 1 Agustus, Trump mengatakan AS akan menunda serangan baru dengan harapan dapat mencapai kesepakatan secara cepat . Ia menyatakan serangan terhadap fasilitas energi Iran ditangguhkan, tetapi memperingatkan bahwa waktu untuk diplomasi sangat terbatas.
Jeda yang diumumkan Washington itu bertepatan dengan peningkatan pesan ancaman Iran kepada negara-negara Teluk. Teheran berusaha memanfaatkan masa jeda tersebut untuk mendorong sekutu Arab AS agar ikut menekan Trump supaya kembali berunding.
Menurut pejabat negara-negara Teluk dan analis yang dikutip Reuters, Iran bertaruh bahwa mereka dapat bertahan lebih lama daripada Washington dengan menjadikan rute perdagangan Timur Tengah, jalur pelayaran, dan infrastruktur energi sebagai titik tekanan .
Tujuannya adalah meyakinkan AS dan sekutunya bahwa biaya untuk mengendalikan krisis akan lebih besar daripada mengakomodasi tuntutan Iran terkait Selat Hormuz . Ancaman terbaru pada 5–6 Agustus merupakan langkah lanjutan dari strategi tekanan ekonomi dan infrastruktur tersebut.
Peringatan itu muncul di antara beberapa perkembangan penting: ultimatum Trump pada 28 Juli, keputusannya menunda serangan pada 1 Agustus, kebuntuan kerangka kesepakatan 18 Juni, serta penilaian Vance bahwa politik internal Iran yang terpecah menyulitkan tercapainya perjanjian yang dapat diandalkan.
Iran kini menggunakan pengaruhnya terhadap negara-negara Teluk untuk mencoba memaksa Washington kembali ke meja perundingan. Pada saat yang sama, Teheran memberi sinyal bahwa jika serangan AS dimulai lagi, konflik dapat berubah menjadi perang regional yang lebih luas .