Dalam serangan antara 13 hingga 14 Mei 2026, Rusia dilaporkan meluncurkan lebih dari 1.500 drone serta puluhan rudal yang menargetkan berbagai kota di Ukraina.
Pejabat PBB mengatakan serangan tersebut mencerminkan peningkatan baik dalam skala maupun frekuensi serangan terhadap wilayah perkotaan dan infrastruktur penting, yang pada gilirannya memperburuk krisis kemanusiaan di negara itu.
PBB juga memperingatkan bahwa meningkatnya serangan udara telah menyebabkan kenaikan tajam korban sipil dan kerusakan pada infrastruktur sipil.
Selain itu, Dewan Keamanan diberi tahu bahwa kekerasan terkait perang kini mempengaruhi warga sipil di kedua sisi perbatasan Rusia–Ukraina, menandakan bahwa dampak konflik semakin meluas.
Pertemuan tersebut diadakan setelah Ukraina mengirim surat kepada Dewan Keamanan yang menggambarkan peningkatan serangan drone dan rudal Rusia terhadap warga sipil serta infrastruktur penting dalam beberapa minggu terakhir.
Permintaan itu didukung oleh sejumlah anggota Dewan Keamanan, termasuk Denmark, Prancis, Yunani, Latvia, dan Inggris.
Diskusi juga menyoroti kurangnya kemajuan menuju solusi diplomatik saat perang memasuki tahun kelima sejak invasi besar Rusia dimulai pada 2022.
Selain situasi di Ukraina, pertemuan Dewan Keamanan juga memicu pertukaran diplomatik yang tegang.
Duta Besar Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzya, mengulangi klaim bahwa Ukraina berencana meluncurkan serangan drone terhadap Rusia dari wilayah Latvia dan negara Baltik lainnya.
Nebenzya memperingatkan bahwa keanggotaan NATO “tidak akan melindungi” Latvia dari pembalasan, sebuah pernyataan yang segera menuai kritik dari negara lain.
Latvia dan Ukraina dengan tegas menolak tuduhan tersebut, menyebutnya sebagai informasi palsu.
Seorang perwakilan Amerika Serikat di pertemuan itu menanggapi dengan menyatakan bahwa PBB bukan tempat untuk mengancam anggota Dewan Keamanan, sambil menegaskan kembali komitmen Washington terhadap sekutu‑sekutu NATO.
Briefing PBB menegaskan bahwa konflik Ukraina terus meningkat bahkan setelah bertahun‑tahun pertempuran. Dengan serangan drone dan rudal berskala besar yang semakin sering, korban sipil yang terus bertambah, serta ketegangan politik yang meluas hingga negara NATO tetangga, para pejabat memperingatkan bahwa situasi tetap sangat tidak stabil dan semakin mematikan.