Pertemuan tersebut diadakan setelah Ukraina mengirim surat kepada Dewan Keamanan yang menggambarkan peningkatan serangan drone dan rudal Rusia terhadap warga sipil serta infrastruktur penting dalam beberapa minggu terakhir.
Permintaan itu didukung oleh sejumlah anggota Dewan Keamanan, termasuk Denmark, Prancis, Yunani, Latvia, dan Inggris.
Diskusi juga menyoroti kurangnya kemajuan menuju solusi diplomatik saat perang memasuki tahun kelima sejak invasi besar Rusia dimulai pada 2022.
Selain situasi di Ukraina, pertemuan Dewan Keamanan juga memicu pertukaran diplomatik yang tegang.
Duta Besar Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzya, mengulangi klaim bahwa Ukraina berencana meluncurkan serangan drone terhadap Rusia dari wilayah Latvia dan negara Baltik lainnya.
Nebenzya memperingatkan bahwa keanggotaan NATO “tidak akan melindungi” Latvia dari pembalasan, sebuah pernyataan yang segera menuai kritik dari negara lain.
Seorang perwakilan Amerika Serikat di pertemuan itu menanggapi dengan menyatakan bahwa PBB bukan tempat untuk mengancam anggota Dewan Keamanan, sambil menegaskan kembali komitmen Washington terhadap sekutu‑sekutu NATO.
Briefing PBB menegaskan bahwa konflik Ukraina terus meningkat bahkan setelah bertahun‑tahun pertempuran. Dengan serangan drone dan rudal berskala besar yang semakin sering, korban sipil yang terus bertambah, serta ketegangan politik yang meluas hingga negara NATO tetangga, para pejabat memperingatkan bahwa situasi tetap sangat tidak stabil dan semakin mematikan.
Comments
0 comments