Penurunan ini terjadi secara merata, di mana harga internasional untuk minyak sawit, minyak kedelai, minyak rapeseed, dan minyak bunga matahari semuanya mencatat penurunan. FAO mengaitkan penurunan ini dengan kombinasi dari produksi saat ini yang kuat dan proyeksi produksi yang cukup dari negara-negara asal utama, bersamaan dengan sinyal permintaan yang lebih rendah di beberapa pasar pengimpor besar . Bloomberg melaporkan bahwa penurunan biaya untuk minyak sawit dan kedelai, secara khusus, telah membantu membatasi indeks harga pangan yang lebih luas meskipun input-input pertanian penting lainnya masih menghadapi gangguan
.
Sementara itu, Indeks Harga Serealia FAO justru meningkat pada Mei karena ketatnya pasokan gandum dan friksi logistik yang berkelanjutan . Biaya pupuk yang tinggi—yang terkait langsung dengan gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz—telah meningkatkan biaya input bagi para petani biji-bijian secara global, mendorong kuotasi serealia internasional semakin tinggi
.
Temuan paling signifikan dari laporan FAO kali ini adalah pergeseran proyeksi produksi biji-bijian. Setelah menikmati rekor panen, dunia kini justru diperkirakan akan menghadapi kontraksi.
Ayunan dari rekor panen ke proyeksi kontraksi ini merupakan sinyal struktural paling penting dalam laporan FAO bulan Mei. Hal ini menandakan bahwa setelah satu tahun dengan pasokan kuat yang dibangun kembali, pasar biji-bijian global mungkin akan kembali mengetat. Kondisi ini diperparah oleh gangguan Selat Hormuz yang masih terus meningkatkan biaya produksi dan distribusi pangan.
Konflik yang berkelanjutan di Iran dan penutupan Selat Hormuz masih menjadi risiko makroekonomi yang dominan dalam prospek FAO untuk Mei 2026. Jalur air ini merupakan titik simpul kritis yang biasanya menangani sepertiga perdagangan minyak mentah dunia dan persentase signifikan dari pupuk. Dengan penutupannya, sektor pertanian menghadapi:
Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero, sebelumnya menyoroti bahwa kenaikan harga yang terjadi sebelumnya secara eksplisit terkait dengan disrupsi energi dan logistik dari konflik di Timur Dekat ini . Meskipun bulan Mei memberikan sedikit keringanan dari sisi minyak nabati, risiko fundamental yang ditimbulkan oleh penutupan Selat Hormuz tidak berkurang. Gangguan ini terus mengancam musim produksi 2026/27 melalui dampaknya terhadap ketersediaan input pertanian bagi para petani.
Mei 2026 akan diingat sebagai bulan di mana harga pangan global menunjukkan ketahanan yang luar biasa terhadap dua kekuatan yang saling bertentangan: keringanan dari sisi pasokan minyak nabati versus gangguan logistik pertanian kritis yang terus-menerus dipicu oleh perang. Data FAO menegaskan bahwa konsumen dan produsen belum bisa berharap banyak pada keringanan yang berkelanjutan. Penurunan kecil pada indeks keseluruhan hanya didorong oleh satu kategori yang volatil, sementara serealia—sebagai bahan pangan paling fundamental—memberikan sinyal peringatan. Dengan proyeksi produksi 2026/27 yang menunjuk pada kontraksi panen global pertama dalam dua tahun dan Selat Hormuz yang masih tertutup, sistem pangan global tengah berjalan dalam keseimbangan yang sangat rapuh.
Comments
0 comments