Studi ini memberikan analisis paling komprehensif hingga saat ini mengenai bahaya yang mengintai konsumen di balik ekonomi streaming ilegal di kawasan ini. Tidak hanya berfokus pada situs web dan perangkat, laporan ini juga mengkaji jaringan vektor pembajakan yang lebih luas, termasuk perangkat streaming ilegal (ISD), langganan IPTV, aplikasi pihak ketiga, penjual daftar putar (playlist), dan skema berbagi akun .
Temuan paling mencengangkan dari studi ini adalah tingginya prevalensi malware di ekosistem aplikasi ilegal. Hampir setengah dari seluruh aplikasi yang terkait dengan layanan streaming bajakan terbukti mengandung kode berbahaya . Malware ini mampu menyedot data pribadi, membahayakan perangkat, dan bahkan merekrut perangkat pengguna yang tidak curiga menjadi bagian dari botnet — jaringan komputer yang terinfeksi dan digunakan untuk melancarkan serangan siber lainnya .
Temuan ini selaras dengan riset sebelumnya yang berfokus pada perangkat tertentu. Sebuah studi di Taiwan pada Mei 2025 menemukan bahwa 49% aplikasi yang biasa dikaitkan dengan perangkat streaming ilegal (ISD) mengandung malware, dan perangkat tersebut rata-rata memiliki 7,75 celah keamanan . Data baru ini menegaskan bahwa ini bukanlah masalah yang terisolasi, melainkan fitur sistemik dari seluruh ekonomi aplikasi streaming ilegal di kawasan ini.
Selain malware yang bersembunyi di dalam aplikasi, laporan ini mengidentifikasi berbagai ancaman lain yang dihadapi konsumen saat berinteraksi dengan ekosistem pembajakan :
Penipuan pembayaran di muka dan penipuan layanan adalah hal yang umum. Konsumen yang membeli langganan IPTV, daftar putar, atau akses ke skema berbagi akun di media sosial, aplikasi perpesanan, dan pasar daring sering kali membayar untuk layanan yang tidak pernah diberikan atau berhenti berfungsi. Uang mereka hilang, dan data pribadi serta informasi pembayaran yang diberikan kini berada di tangan kriminal .
Serangan phishing, pencurian kredensial, dan penipuan identitas merajalela di seluruh layanan ini. Banyak platform dan penjual streaming penipu dirancang untuk menangkap kredensial login dan data pribadi, yang kemudian digunakan untuk penipuan lebih lanjut atau dijual di pasar gelap (dark web) .
Pengambilalihan akun dan kerugian finansial menjadi ancaman langsung bagi konsumen yang membeli atau berbagi kredensial akun streaming. Akun-akun yang disusupi ini sering kali dicuri dari pengguna sah dan dijual kembali, sehingga menempatkan pemilik akun asli pada risiko kerugian finansial dan pelanggaran privasi .
Pengalihan berbahaya dan unduhan paksa adalah bahaya konstan. Situs streaming bajakan kerap membombardir pengguna dengan iklan agresif yang mengarahkan ke unduhan malware, halaman phishing, dan situs web penipuan .
Laporan triwulanan AVIA sebelumnya juga memperingatkan bahwa perangkat streaming ilegal (ISD) dapat dibajak dari jarak jauh oleh operasi kriminal yang memasoknya. Setelah dibajak, perangkat ini dapat digunakan untuk pencurian identitas, penyebaran ransomware, atau dirakit menjadi botnet berskala besar yang mampu mengancam infrastruktur nasional .
Laporan Juni 2026 ini tidak berdiri sendiri. Laporan ini dibangun di atas dua studi penting sebelumnya dari tahun 2025, yang semuanya ditulis oleh peneliti yang sama, Profesor Paul Watters :
Studi Taiwan (Mei 2025) menjadi terobosan dengan temuannya. Studi itu menemukan bahwa 49% aplikasi yang biasa dikaitkan dengan ISD di Taiwan mengandung malware. ISD itu sendiri rata-rata memiliki 7,75 celah keamanan. Yang paling mengkhawatirkan, penelitian tersebut menunjukkan bagaimana perangkat ini bisa dipersenjatai menjadi botnet yang mampu mengancam infrastruktur kritis nasional .
Studi Asia Tenggara (Juli 2025) , yang ditugaskan oleh Aliansi untuk Kreativitas dan Hiburan (Alliance for Creativity and Entertainment/ACE), menyimpulkan bahwa konsumen di lima negara Asia Tenggara berisiko hingga 65 kali lebih besar terinfeksi malware saat menggunakan situs pembajakan dibandingkan dengan platform legal . Faktor risiko 65 kali lipat ini menjadi temuan utama yang menggarisbawahi bahaya ekstrem dari interaksi ringan sekalipun dengan situs streaming bajakan.
Studi terbaru ini memperluas cakupan geografis ke seluruh Asia-Pasifik dan mengkaji lebih banyak vektor pembajakan di luar ISD dan situs web, memastikan bahwa pola risiko siber sistemik yang sama ada di seluruh ekonomi streaming ilegal, bukan hanya di sudut-sudutnya yang paling terlihat .
Berhadapan dengan ekosistem pembajakan yang telah menyatu dengan kejahatan siber canggih, Koalisi Anti-Pembajakan (CAP) menyerukan respons terkoordinasi dari berbagai pemangku kepentingan. Laporan ini bukan sekadar penilaian risiko — ini adalah panggilan untuk bertindak yang ditujukan kepada industri dan badan pemerintah tertentu :
Penegakan hukum yang lebih kuat terhadap pedagang pembajakan di platform e-commerce, media sosial, dan layanan perpesanan menjadi prioritas utama. CAP berpendapat bahwa platform-platform ini saat ini menjadi etalase utama untuk langganan IPTV ilegal, perangkat streaming yang sudah diisi muatan, dan kredensial akun curian. Koalisi ini ingin platform secara proaktif menghapus daftar ini dan melarang pelanggar berulang .
Moderasi platform yang ditingkatkan dari berbagai pemain infrastruktur sangat penting. CAP meminta perusahaan e-commerce, pemroses pembayaran, bank, dan perusahaan media sosial untuk memutus aliran uang dan akses yang menopang operasi pembajakan .
Kampanye kesadaran konsumen yang lebih besar diperlukan agar publik menyadari bahwa layanan bajakan bukanlah tawaran yang tidak berbahaya, melainkan pintu gerbang langsung menuju malware, pencurian identitas, dan penipuan finansial. Studi ini dimaksudkan untuk membekali pemerintah dan lembaga perlindungan konsumen dengan bukti yang mereka butuhkan untuk menjalankan program edukasi publik yang efektif .
Kolaborasi yang lebih erat antara industri konten, pemerintah, dan pemangku kepentingan keamanan siber sangat penting untuk mengatasi konvergensi yang berkembang antara pembajakan dan kejahatan siber terorganisir .
Tindakan penyedia infrastruktur untuk memutus hosting berbahaya, layanan DNS, dan jaringan pengiriman konten (CDN) yang mendasari operasi pembajakan juga harus menjadi bagian dari solusi .
Pesan inti dari Bali sangat jelas: menggunakan aplikasi streaming bajakan atau membeli langganan IPTV murah bukan sekadar masalah hak cipta. Ini adalah ancaman keamanan siber langsung yang menempatkan jutaan konsumen pada risiko pencurian identitas, pengurasan rekening bank, dan perangkat mereka diubah menjadi senjata bagi para penjahat siber.
Studi ini memberikan analisis paling komprehensif hingga saat ini mengenai bahaya yang mengintai konsumen di balik ekonomi streaming ilegal di kawasan ini. Tidak hanya berfokus pada situs web dan perangkat, laporan ini juga mengkaji jaringan vektor pembajakan yang lebih luas, termasuk perangkat streaming ilegal (ISD), langganan IPTV, aplikasi pihak ketiga, penjual daftar putar (playlist), dan skema berbagi akun .
Temuan paling mencengangkan dari studi ini adalah tingginya prevalensi malware di ekosistem aplikasi ilegal. Hampir setengah dari seluruh aplikasi yang terkait dengan layanan streaming bajakan terbukti mengandung kode berbahaya . Malware ini mampu menyedot data pribadi, membahayakan perangkat, dan bahkan merekrut perangkat pengguna yang tidak curiga menjadi bagian dari botnet — jaringan komputer yang terinfeksi dan digunakan untuk melancarkan serangan siber lainnya .
Temuan ini selaras dengan riset sebelumnya yang berfokus pada perangkat tertentu. Sebuah studi di Taiwan pada Mei 2025 menemukan bahwa 49% aplikasi yang biasa dikaitkan dengan perangkat streaming ilegal (ISD) mengandung malware, dan perangkat tersebut rata-rata memiliki 7,75 celah keamanan . Data baru ini menegaskan bahwa ini bukanlah masalah yang terisolasi, melainkan fitur sistemik dari seluruh ekonomi aplikasi streaming ilegal di kawasan ini.
Selain malware yang bersembunyi di dalam aplikasi, laporan ini mengidentifikasi berbagai ancaman lain yang dihadapi konsumen saat berinteraksi dengan ekosistem pembajakan :
Penipuan pembayaran di muka dan penipuan layanan adalah hal yang umum. Konsumen yang membeli langganan IPTV, daftar putar, atau akses ke skema berbagi akun di media sosial, aplikasi perpesanan, dan pasar daring sering kali membayar untuk layanan yang tidak pernah diberikan atau berhenti berfungsi. Uang mereka hilang, dan data pribadi serta informasi pembayaran yang diberikan kini berada di tangan kriminal .
Serangan phishing, pencurian kredensial, dan penipuan identitas merajalela di seluruh layanan ini. Banyak platform dan penjual streaming penipu dirancang untuk menangkap kredensial login dan data pribadi, yang kemudian digunakan untuk penipuan lebih lanjut atau dijual di pasar gelap (dark web) .
Pengambilalihan akun dan kerugian finansial menjadi ancaman langsung bagi konsumen yang membeli atau berbagi kredensial akun streaming. Akun-akun yang disusupi ini sering kali dicuri dari pengguna sah dan dijual kembali, sehingga menempatkan pemilik akun asli pada risiko kerugian finansial dan pelanggaran privasi .
Pengalihan berbahaya dan unduhan paksa adalah bahaya konstan. Situs streaming bajakan kerap membombardir pengguna dengan iklan agresif yang mengarahkan ke unduhan malware, halaman phishing, dan situs web penipuan .
Laporan triwulanan AVIA sebelumnya juga memperingatkan bahwa perangkat streaming ilegal (ISD) dapat dibajak dari jarak jauh oleh operasi kriminal yang memasoknya. Setelah dibajak, perangkat ini dapat digunakan untuk pencurian identitas, penyebaran ransomware, atau dirakit menjadi botnet berskala besar yang mampu mengancam infrastruktur nasional .
Laporan Juni 2026 ini tidak berdiri sendiri. Laporan ini dibangun di atas dua studi penting sebelumnya dari tahun 2025, yang semuanya ditulis oleh peneliti yang sama, Profesor Paul Watters :
Studi Taiwan (Mei 2025) menjadi terobosan dengan temuannya. Studi itu menemukan bahwa 49% aplikasi yang biasa dikaitkan dengan ISD di Taiwan mengandung malware. ISD itu sendiri rata-rata memiliki 7,75 celah keamanan. Yang paling mengkhawatirkan, penelitian tersebut menunjukkan bagaimana perangkat ini bisa dipersenjatai menjadi botnet yang mampu mengancam infrastruktur kritis nasional .
Studi Asia Tenggara (Juli 2025) , yang ditugaskan oleh Aliansi untuk Kreativitas dan Hiburan (Alliance for Creativity and Entertainment/ACE), menyimpulkan bahwa konsumen di lima negara Asia Tenggara berisiko hingga 65 kali lebih besar terinfeksi malware saat menggunakan situs pembajakan dibandingkan dengan platform legal . Faktor risiko 65 kali lipat ini menjadi temuan utama yang menggarisbawahi bahaya ekstrem dari interaksi ringan sekalipun dengan situs streaming bajakan.
Studi terbaru ini memperluas cakupan geografis ke seluruh Asia-Pasifik dan mengkaji lebih banyak vektor pembajakan di luar ISD dan situs web, memastikan bahwa pola risiko siber sistemik yang sama ada di seluruh ekonomi streaming ilegal, bukan hanya di sudut-sudutnya yang paling terlihat .
Berhadapan dengan ekosistem pembajakan yang telah menyatu dengan kejahatan siber canggih, Koalisi Anti-Pembajakan (CAP) menyerukan respons terkoordinasi dari berbagai pemangku kepentingan. Laporan ini bukan sekadar penilaian risiko — ini adalah panggilan untuk bertindak yang ditujukan kepada industri dan badan pemerintah tertentu :
Penegakan hukum yang lebih kuat terhadap pedagang pembajakan di platform e-commerce, media sosial, dan layanan perpesanan menjadi prioritas utama. CAP berpendapat bahwa platform-platform ini saat ini menjadi etalase utama untuk langganan IPTV ilegal, perangkat streaming yang sudah diisi muatan, dan kredensial akun curian. Koalisi ini ingin platform secara proaktif menghapus daftar ini dan melarang pelanggar berulang .
Moderasi platform yang ditingkatkan dari berbagai pemain infrastruktur sangat penting. CAP meminta perusahaan e-commerce, pemroses pembayaran, bank, dan perusahaan media sosial untuk memutus aliran uang dan akses yang menopang operasi pembajakan .
Kampanye kesadaran konsumen yang lebih besar diperlukan agar publik menyadari bahwa layanan bajakan bukanlah tawaran yang tidak berbahaya, melainkan pintu gerbang langsung menuju malware, pencurian identitas, dan penipuan finansial. Studi ini dimaksudkan untuk membekali pemerintah dan lembaga perlindungan konsumen dengan bukti yang mereka butuhkan untuk menjalankan program edukasi publik yang efektif .
Kolaborasi yang lebih erat antara industri konten, pemerintah, dan pemangku kepentingan keamanan siber sangat penting untuk mengatasi konvergensi yang berkembang antara pembajakan dan kejahatan siber terorganisir .
Tindakan penyedia infrastruktur untuk memutus hosting berbahaya, layanan DNS, dan jaringan pengiriman konten (CDN) yang mendasari operasi pembajakan juga harus menjadi bagian dari solusi .
Pesan inti dari Bali sangat jelas: menggunakan aplikasi streaming bajakan atau membeli langganan IPTV murah bukan sekadar masalah hak cipta. Ini adalah ancaman keamanan siber langsung yang menempatkan jutaan konsumen pada risiko pencurian identitas, pengurasan rekening bank, dan perangkat mereka diubah menjadi senjata bagi para penjahat siber.