Temuan ini sejalan dengan riset global QBE yang menunjukkan bahwa sekitar satu dari tujuh bisnis di seluruh dunia kehilangan satu hari kerja atau lebih akibat insiden siber dalam 12 bulan terakhir.
Bagi banyak perusahaan, bahkan gangguan singkat dapat memicu efek berantai—mulai dari kehilangan pendapatan, terganggunya layanan, hingga potensi kerusakan reputasi atau risiko regulasi.
Menariknya, meningkatnya risiko siber tidak mengurangi antusiasme bisnis terhadap AI.
Dalam survei QBE:
Banyak perusahaan melihat AI sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat analisis data, serta mengoptimalkan pengambilan keputusan.
Namun, semakin luas penggunaan AI juga berarti permukaan serangan (attack surface) bagi pelaku kejahatan siber ikut meluas.
Walaupun survei tidak merinci persentase spesifik untuk taktik seperti phishing berbasis AI atau penipuan deepfake, temuan bahwa lebih dari seperempat perusahaan telah mengalami insiden siber terkait AI menunjukkan perubahan yang sedang berlangsung.
Peneliti keamanan siber memperingatkan bahwa teknologi AI generatif dapat membantu penyerang untuk:
Dengan kata lain, AI bukan hanya alat bagi perusahaan—tetapi juga bagi penyerang.
Salah satu temuan penting dari survei ini adalah adanya jarak antara antusiasme terhadap AI dan kesiapan menghadapi risiko siber.
Banyak organisasi masih tertinggal dalam beberapa aspek perlindungan penting, termasuk:
Risiko rantai pasokan (supply chain) juga menjadi perhatian besar. Survei menunjukkan bahwa hampir setengah bisnis di Hong Kong dan Singapura pernah mengalami serangan siber melalui rantai pasokan, ketika penyerang memanfaatkan kelemahan vendor atau mitra bisnis.
Karena perusahaan modern semakin bergantung pada sistem terhubung dan layanan pihak ketiga, celah keamanan pada mitra eksternal dapat dengan mudah menjadi pintu masuk bagi penyerang.
Hasil survei QBE mempertegas beberapa tren utama dalam risiko siber di kawasan Asia:
Bagi banyak perusahaan, tantangan utamanya bukan lagi menyadari adanya ancaman—melainkan menyelaraskan strategi keamanan siber, perlindungan asuransi, dan kemampuan respons insiden dengan kecepatan transformasi digital.
Seiring AI semakin terintegrasi dalam operasional bisnis, kemampuan menyeimbangkan inovasi dan ketahanan keamanan kemungkinan akan menjadi faktor penentu dalam mengelola risiko siber di tahun‑tahun mendatang.
Comments
0 comments