Penilaian risiko formal NBIM, yang diterbitkan pada Maret 2026 dan ditegaskan kembali pada Agustus, memodelkan dua skenario bencana utama .
Jika gelombang besar belanja modal di bidang kecerdasan buatan (AI) gagal menghasilkan peningkatan produktivitas yang sudah diperhitungkan investor, pasar saham bisa jatuh sekitar 53%, menyebabkan kerugian 35% dari total nilai dana . Tangen menyebut "valuasi AI" sebagai alasan utama kehati-hatiannya, menggambarkan pasar saat ini sebagai "tidak normal" karena terus naik meskipun ada risiko yang jelas . Untuk dana senilai $2 triliun (Rp31.000 triliun), kerugian 35% berarti sekitar $700 miliar (Rp10.850 triliun) .
Peristiwa geopolitik yang parah—seperti pecahnya ekonomi global menjadi blok-blok yang saling bersaing dengan pembatasan perdagangan, tarif agresif, dan gangguan arus modal—bisa menghasilkan dampak yang lebih dahsyat. Dalam skenario ini, Tangen mengatakan dana bisa mengalami penurunan saham hingga 80%. Mengingat sekitar 70% dana ditempatkan di saham, ini berarti kerugian lebih dari setengah total nilai dana . Model NBIM memperkirakan bahwa skenario "dunia yang terfragmentasi" bisa menghapus hingga 37% nilai dana, atau sekitar $885 miliar (Rp13.700 triliun) . Sejak April 2025, Tangen menyebut fragmentasi geopolitik sebagai "ancaman tunggal terbesar" bagi pasar keuangan .
Tangen menjabarkan aritmatikanya dengan gamblang: "Dana kami terdiri dari sekitar 70 persen saham. Jika 80 persen dari saham itu lenyap, kami kehilangan lebih dari setengah dana. Itu bisa terjadi dengan cepat" . Dalam skenario terburuk di mana kedua skenario terjadi bersamaan—koreksi AI yang diikuti pergolakan geopolitik—model menunjukkan dana bisa benar-benar habis .
Bersamaan dengan peringatan ini, NBIM melaporkan kinerja semester pertama terbaik sepanjang sejarah :
| Metrik | Angka |
|---|---|
| Imbal Hasil | 9,4% di semester pertama 2026 |
| Laba | 1.753 miliar kroner (~$184–185 miliar / Rp2.900 triliun) — rekor untuk periode enam bulan mana pun |
| Konteks | Didorong terutama oleh rally saham berbasis AI yang tidak bisa "di-hedge" oleh dana |
Tangen menyebut hasil ini "semanis mungkin" dan memperingatkan investor untuk tidak berharap keuntungan besar ini akan berlanjut. "Setelah rally seperti itu, Anda jadi sedikit lebih gugup, sedikit lebih sadar akan semua bahaya yang ada di luar sana," ujarnya . Ia menunjuk pada valuasi AI, inflasi, dan konflik geopolitik sebagai alasan "untuk benar-benar berhati-hati" ke depannya .
Ketegangan utama dalam pesan Tangen pada Agustus 2026 adalah ini: rally saham berbasis AI yang sama yang menghasilkan laba rekor sebesar $185 miliar (Rp2.900 triliun) di semester pertama adalah kekuatan yang sama yang diidentifikasi oleh uji stres NBIM sebagai ancaman utama bagi keberadaan dana tersebut. Model dana tersebut menunjukkan bahwa jika valuasi AI terkoreksi, sekitar $700 miliar (Rp10.850 triliun) bisa lenyap. Jika koreksi itu dikombinasikan dengan fragmentasi geopolitik, seluruh dana senilai $2 triliun (Rp31.000 triliun) bisa hilang.
"Setelah rally seperti itu, Anda jadi sedikit lebih gugup," kata Tangen kepada Bloomberg . Perhitungan matematisnya, menurut kata-katanya sendiri, menjelaskan alasannya.
Penilaian risiko formal NBIM, yang diterbitkan pada Maret 2026 dan ditegaskan kembali pada Agustus, memodelkan dua skenario bencana utama .
Jika gelombang besar belanja modal di bidang kecerdasan buatan (AI) gagal menghasilkan peningkatan produktivitas yang sudah diperhitungkan investor, pasar saham bisa jatuh sekitar 53%, menyebabkan kerugian 35% dari total nilai dana . Tangen menyebut "valuasi AI" sebagai alasan utama kehati-hatiannya, menggambarkan pasar saat ini sebagai "tidak normal" karena terus naik meskipun ada risiko yang jelas . Untuk dana senilai $2 triliun (Rp31.000 triliun), kerugian 35% berarti sekitar $700 miliar (Rp10.850 triliun) .
Peristiwa geopolitik yang parah—seperti pecahnya ekonomi global menjadi blok-blok yang saling bersaing dengan pembatasan perdagangan, tarif agresif, dan gangguan arus modal—bisa menghasilkan dampak yang lebih dahsyat. Dalam skenario ini, Tangen mengatakan dana bisa mengalami penurunan saham hingga 80%. Mengingat sekitar 70% dana ditempatkan di saham, ini berarti kerugian lebih dari setengah total nilai dana . Model NBIM memperkirakan bahwa skenario "dunia yang terfragmentasi" bisa menghapus hingga 37% nilai dana, atau sekitar $885 miliar (Rp13.700 triliun) . Sejak April 2025, Tangen menyebut fragmentasi geopolitik sebagai "ancaman tunggal terbesar" bagi pasar keuangan .
Tangen menjabarkan aritmatikanya dengan gamblang: "Dana kami terdiri dari sekitar 70 persen saham. Jika 80 persen dari saham itu lenyap, kami kehilangan lebih dari setengah dana. Itu bisa terjadi dengan cepat" . Dalam skenario terburuk di mana kedua skenario terjadi bersamaan—koreksi AI yang diikuti pergolakan geopolitik—model menunjukkan dana bisa benar-benar habis .
Bersamaan dengan peringatan ini, NBIM melaporkan kinerja semester pertama terbaik sepanjang sejarah :
| Metrik | Angka |
|---|---|
| Imbal Hasil | 9,4% di semester pertama 2026 |
| Laba | 1.753 miliar kroner (~$184–185 miliar / Rp2.900 triliun) — rekor untuk periode enam bulan mana pun |
| Konteks | Didorong terutama oleh rally saham berbasis AI yang tidak bisa "di-hedge" oleh dana |
Tangen menyebut hasil ini "semanis mungkin" dan memperingatkan investor untuk tidak berharap keuntungan besar ini akan berlanjut. "Setelah rally seperti itu, Anda jadi sedikit lebih gugup, sedikit lebih sadar akan semua bahaya yang ada di luar sana," ujarnya . Ia menunjuk pada valuasi AI, inflasi, dan konflik geopolitik sebagai alasan "untuk benar-benar berhati-hati" ke depannya .
Ketegangan utama dalam pesan Tangen pada Agustus 2026 adalah ini: rally saham berbasis AI yang sama yang menghasilkan laba rekor sebesar $185 miliar (Rp2.900 triliun) di semester pertama adalah kekuatan yang sama yang diidentifikasi oleh uji stres NBIM sebagai ancaman utama bagi keberadaan dana tersebut. Model dana tersebut menunjukkan bahwa jika valuasi AI terkoreksi, sekitar $700 miliar (Rp10.850 triliun) bisa lenyap. Jika koreksi itu dikombinasikan dengan fragmentasi geopolitik, seluruh dana senilai $2 triliun (Rp31.000 triliun) bisa hilang.
"Setelah rally seperti itu, Anda jadi sedikit lebih gugup," kata Tangen kepada Bloomberg . Perhitungan matematisnya, menurut kata-katanya sendiri, menjelaskan alasannya.