Dalam mengenang masa-masa sulit Nvidia, Huang mengatakan ia harus belajar "melupakan hari kemarin" agar bisa terus bergerak maju.
Seiring waktu, rasa sakit dari pengalaman itu memudar—membuat perjalanan tersebut terlihat lebih indah ketika dilihat ke belakang.
Hari ini Nvidia mendominasi pasar chip untuk AI. Namun pada 1990‑an, perusahaan ini beberapa kali hampir tutup.
Salah satu produk awal Nvidia, chip grafis NV1, dibangun menggunakan pendekatan teknis yang ternyata tidak cocok dengan standar industri yang berkembang, termasuk Microsoft DirectX.
Kesalahan ini membuat Nvidia berada di jalur teknologi yang salah dan kesulitan bersaing dengan puluhan perusahaan grafis lain saat itu.
Pada pertengahan 1990‑an, situasi keuangan perusahaan menjadi sangat genting.
Harapan mereka saat itu adalah kontrak dengan perusahaan game Jepang Sega untuk membuat chip grafis konsol. Tetapi ketika Huang menyadari arsitektur chip tersebut bermasalah, ia membuat keputusan berani.
Ia terbang ke Jepang dan mengatakan kepada Sega bahwa teknologi yang dijanjikan tidak akan berhasil.
Alih‑alih menyelesaikan produk yang gagal, Nvidia menegosiasikan agar sisa nilai kontrak tersebut diubah menjadi investasi sekitar $5 juta—memberi perusahaan waktu tambahan untuk bertahan.
Tanpa langkah itu, Nvidia kemungkinan besar sudah tutup pada saat itu.
Kesulitan finansial juga memaksa perusahaan melakukan PHK dan restrukturisasi sambil mencari arah produk yang lebih tepat.
Sebagai CEO, Huang sering menjadi wajah utama ketika segala sesuatu berjalan buruk—menghadapi kritik dari investor, pelanggan, dan pasar.
Setelah meninggalkan arsitektur awal yang gagal, Nvidia memutuskan untuk beralih ke desain chip yang mengikuti standar grafis industri yang berkembang.
Keputusan ini akhirnya menghasilkan produk yang sukses di pasar PC gaming, membuka jalan bagi Nvidia untuk membangun reputasi sebagai pemimpin teknologi grafis.
Pola keputusan tersebut kemudian menjadi bagian dari DNA perusahaan: berani menghentikan ide yang salah dan mengambil taruhan besar pada arah teknologi baru.
Strategi itu pada akhirnya membawa Nvidia berevolusi dari perusahaan kartu grafis untuk game menjadi platform komputasi yang mendukung sistem kecerdasan buatan modern.
Komentar Huang terasa sangat kontras dengan posisi Nvidia saat ini.
Di tengah ledakan global AI, GPU Nvidia menjadi komponen utama untuk melatih dan menjalankan model kecerdasan buatan. Permintaan investor terhadap teknologi ini mendorong valuasi perusahaan melewati $5 triliun, menjadikannya perusahaan publik paling bernilai di dunia.
Dari luar, kesuksesan Nvidia bisa terlihat seperti perjalanan yang hampir tak terelakkan.
Namun cerita Huang menunjukkan sebaliknya: perusahaan ini beberapa kali berada sangat dekat dengan kegagalan total.
Refleksi Huang menggambarkan paradoks dalam budaya startup.
Jika para pendiri benar‑benar mengetahui biaya emosional, finansial, dan pribadi dari membangun perusahaan dari nol, banyak dari mereka mungkin tidak akan pernah memulai.
Namun tanpa keberanian untuk melangkah ke wilayah yang belum diketahui itu, perusahaan yang benar‑benar mengubah dunia—seperti Nvidia—mungkin tidak akan pernah ada.
Comments
0 comments