Dalam berbagai wawancara, Liu sering menggunakan istilah “paradigma” untuk menggambarkan langkah besar berikutnya dalam AI.
Yang ia maksud bukan sekadar model dengan skor benchmark lebih tinggi, tetapi terobosan yang mengubah cara AI digunakan dan bagaimana industri bekerja.
Beberapa contoh perubahan paradigma dalam beberapa tahun terakhir antara lain:
Terobosan seperti ini tidak hanya meningkatkan akurasi model. Mereka mengubah perilaku pengguna, alur kerja, dan pusat gravitasi industri teknologi.
Karena itu, Liu berpendapat bahwa sekadar membuat chatbot yang sedikit lebih kuat tidak cukup. Kunci keberhasilan adalah menciptakan kategori baru yang mendefinisikan ulang pasar AI itu sendiri.
Liu Wei menghabiskan lebih dari delapan tahun di Tencent dan menjadi salah satu tokoh penting di balik pengembangan model besar Hunyuan, model dasar generatif milik perusahaan tersebut.
Namun pada akhir 2024, ia meninggalkan perusahaan dan kemudian mendirikan startup AI bernama Video Rebirth.
Perusahaan ini fokus pada pengembangan AI video generation serta apa yang disebut sebagai “world models”—model AI yang mampu memahami dan mensimulasikan dunia visual secara lebih realistis.
Teknologinya dirancang untuk menghasilkan video berkualitas tinggi dengan konsistensi fisika yang kuat dan kontrol yang lebih presisi. Target pengguna utamanya bukan sekadar konsumen umum, tetapi profesional di bidang periklanan, e‑commerce, film, dan animasi.
Startup tersebut juga telah mengumpulkan pendanaan puluhan juta dolar pada tahap awal untuk mengembangkan platform video berbasis AI miliknya.
Arah ini menunjukkan bahwa Liu melihat AI multimodal dan model dunia berbasis video sebagai salah satu frontier baru yang berpotensi memicu perubahan paradigma berikutnya.
Meski mengakui ketertinggalan China dalam LLM, Liu tidak percaya perlombaan AI sudah selesai.
Menurutnya, perkembangan AI biasanya terjadi dalam gelombang paradigma teknologi. Setiap kali muncul terobosan besar, peta persaingan global bisa berubah.
Dengan kata lain, pertanyaan terpenting bukan lagi:
Melainkan:
Jika China mampu melahirkan paradigma baru—misalnya melalui agent AI, sistem multimodal, world models, atau arah teknologi lain yang belum matang—maka negara tersebut dapat mengubah lanskap persaingan, bukan sekadar mengejar ketertinggalan.
Dalam kerangka berpikir Liu, kalah di fase LLM tidak otomatis berarti kalah di masa depan AI. Yang menentukan adalah siapa yang menemukan terobosan berikutnya yang mengubah industri secara fundamental.
Pandangan Liu Wei mencerminkan perdebatan yang lebih luas dalam komunitas AI global. Banyak analis menilai Amerika Serikat masih memimpin dalam model frontier dan infrastruktur AI, sementara China bergerak cepat dalam adopsi dan pengembangan ekosistem modelnya sendiri.
Peringatan Liu menyoroti satu pelajaran penting dalam perlombaan teknologi: mengejar masa kini sering kali kurang penting dibanding menciptakan masa depan.
Bagi Liu, peluang terbesar bukanlah membuat versi yang sedikit lebih baik dari LLM yang ada—melainkan menemukan paradigma AI berikutnya yang membuat teknologi saat ini terlihat usang.
Comments
0 comments