Eksin Therapeutics, perusahaan rintisan bioteknologi yang berbasis di San Francisco, mengatakan sebuah agen AI memilih terapi gen dan mengendalikan penyuntikannya ke otak tikus hidup dengan epilepsi. Eksperimen itu menggabungkan pengambilan keputusan oleh AI dengan alat bedah bermotor. Namun, prosedurnya bukan operasi yang sepenuhnya dilakukan tanpa manusia: seorang ahli bedah membuka tengkorak tikus, sementara tenaga veteriner turut mengawasi.
2
5
7
Tikus itu dilaporkan pulih setelah prosedur. Namun, laporan yang tersedia belum menunjukkan apakah terapinya berhasil mengurangi kejang.
3
6
Apa yang dilakukan agen AI?
Menurut CEO Exin, Gabriel Ocana Santero, tim memberikan agen tersebut model tikus dengan epilepsi, daftar 19 kandidat terapi gen, akses ke alat bedah bermotor yang dilengkapi kamera, serta tujuan untuk mengurangi kejang.
4
5
Agen itu dilaporkan memilih terapi yang ditujukan untuk meningkatkan GABA, sistem sinyal penghambat yang membantu meredam aktivitas saraf. Agen juga memilih korteks entorhinal lateral sebagai area sasaran dan menentukan koordinat suntikan berdasarkan tiga makalah ilmiah.
4
7
14
Selanjutnya, agen mengendalikan alat untuk menyuntikkan 250 nanoliter selama lima menit. Laporan menyebut agen juga memilih kecepatan motor dan waktu jeda, serta menggunakan kamera untuk memantau lokasi suntikan dari tanda-tanda perdarahan atau cairan yang mengalir balik.
18
19
20
Mengapa AI diberi akses langsung ke alat laboratorium?
Eksperimen ini menguji lebih dari kemampuan AI menyarankan terapi atau menganalisis hasil. Santero menggambarkan akses langsung ke peralatan sebagai langkah menuju agen yang dapat bertindak di laboratorium, bukan hanya membantu merancang atau menafsirkan eksperimen.
11 Fokus yang dinyatakan Exin secara lebih luas adalah menggunakan AI untuk mempelajari aktivitas otak dan mengembangkan terapi saraf.
2
Perbedaan itu penting: ketika agen dapat mengoperasikan alat fisik, keputusannya bisa memengaruhi eksperimen langsung. Dalam kasus ini, tugas yang dilaporkan mencakup memilih kandidat terapi, menentukan lokasi sasaran, menghitung koordinat, dan mengendalikan alat suntik.
4
18
Peran manusia dan masalah koordinat
Agen tidak melakukan seluruh prosedur. Seorang ahli bedah manusia membuka tengkorak tikus, sementara laporan menyebut ada persetujuan manusia dan pengawasan veteriner pada tahapan penting.
5
7
18 Meski demikian, laporan yang tersedia tidak menjelaskan seluruh pengaturan pengamanan secara rinci, sehingga belum cukup untuk menggambarkan sepenuhnya bagaimana risiko dikelola.
Prosedur itu juga sempat terkendala posisi alat. Menurut laporan, target pada sumbu Y yang dihitung mencapai 34 milimeter, lebih jauh daripada jangkauan operasi alat yang disebut hanya 30 milimeter. Agen menolak melanjutkan, termasuk setelah upaya kalibrasi ulang.
17
20
Sejumlah laporan menyebut kalibrasi ulang dan perubahan kode sebagai bagian dari penanganan masalah. Namun, sumber yang tersedia tidak memastikan urutan persisnya ataupun berapa lama kendala tersebut memperpanjang prosedur.
17
25
Model Claude dilaporkan mengambil sikap berbeda
Menurut sejumlah laporan, Claude Opus 5.5 pada awalnya menolak mengarahkan jarum karena khawatir prosedur terhenti di tengah jalan. Model yang disebut mengoperasikan alat dan menjalankan suntikan adalah Claude Sonnet 5.
4
5
9
Peran Claude Opus 5 kurang jelas. Satu laporan menyebut model itu menolak melakukan prosedur langsung setelah uji coba; laporan lain mengatakan agen Opus 5 yang berbeda mengubah kode alat tanpa diberi tahu bahwa operasi pada hewan sedang berlangsung.
23
25 Sumber yang ada tidak menyelaraskan kedua keterangan tersebut atau menjelaskan urutan tepatnya, sehingga peran Opus 5 perlu dipahami dengan hati-hati.
Tikus pulih, tetapi belum membuktikan terapi berhasil
Tikus itu dilaporkan pulih setelah prosedur.
6
8 Namun, pemulihan berbeda dari bukti bahwa terapi gen mengurangi kejang. Laporan pada saat itu menyebut hasil kejang belum tersedia, dan sumber yang ada tidak membuktikan efektivitas terapi tersebut.
3
6
Karena itu, eksperimen ini paling tepat dipahami sebagai demonstrasi yang dilaporkan tentang agen AI yang mengambil keputusan terkait terapi dan mengendalikan peralatan dalam prosedur pada hewan hidup—bukan sebagai bukti bahwa terapi epilepsinya berhasil. Sumber yang tersedia juga belum menunjukkan adanya validasi melalui penelaahan sejawat atau makalah penelitian yang diterbitkan.
6
28
Pertanyaan yang masih terbuka
Memberi agen AI kendali atas peralatan dalam prosedur pada hewan menimbulkan pertanyaan tentang pengawasan, kesejahteraan hewan, dan akuntabilitas—terutama saat sistem menghadapi gangguan teknis atau ketika agen lain mengubah instruksi peralatan. Pertanyaan-pertanyaan ini muncul dari pengaturan eksperimen yang dilaporkan; hal itu sendiri bukan bukti bahwa eksperimen melanggar aturan atau tidak mendapat persetujuan yang sesuai.
17
25
Klaim utama tetap bersumber dari Exin dan CEO-nya. Protokol yang lebih lengkap dan data hasil yang dipublikasikan diperlukan untuk menilai prosedur, langkah pengaman, serta kemungkinan dampak terapi terhadap kejang.