Teks lengkap pada halaman Steam berbunyi:
“AI-assisted tools were used during development to support some early exploration and temporary development content. Those temporary assets have been replaced, and are not present in the final game.”
Sumber lain menyebutkan bahwa Crystal Dynamics menjelaskan aset yang dibantu AI telah “diganti atau disempurnakan oleh pengembang manusia” demi mempertahankan visi kreatif dan artistik tim .
Artinya, AI digunakan sebagai alat bantu prototipe dan visualisasi—misalnya untuk menguji gagasan atau membayangkan arah artistik pada fase praproduksi—bukan untuk menghasilkan aset final yang akan dilihat pemain. Posisi studio adalah bahwa aset yang hadir dalam versi rilis dibuat oleh seniman manusia, sementara AI membantu tim mengeksplorasi ide dengan lebih cepat pada tahap awal .
Aturan Steam mengenai pengungkapan penggunaan AI berubah pada Januari 2026. Valve memperjelas perbedaan antara AI yang digunakan sebagai alat kerja internal dan konten buatan AI yang benar-benar dikonsumsi pemain .
Penggunaan yang wajib diungkapkan: konten buatan AI yang hadir dalam game atau materi pemasaran dan dilihat, didengar, maupun digunakan oleh pemain. Cakupannya termasuk karya visual, audio, pelokalan, elemen naratif, serta materi yang tampil di halaman toko Steam .
Penggunaan yang umumnya tidak wajib diungkapkan: alat bantu efisiensi di balik layar, seperti asisten penulisan kode, perangkat untuk mengembangkan konsep, dan alat bantu alur kerja lainnya. Valve menyatakan bahwa “peningkatan efisiensi melalui alat pengembangan berbasis AI bukanlah fokus bagian aturan ini” .
Berdasarkan ketentuan tersebut, penggunaan AI oleh Crystal Dynamics berada di kategori yang tidak wajib diungkapkan: asetnya hanya dipakai sementara selama pengembangan dan tidak masuk ke versi yang dimainkan konsumen. Namun, studio tetap memilih mencantumkannya di halaman Steam .
Dengan demikian, pengungkapan tersebut sesuai dengan kebijakan Steam dan bahkan lebih transparan daripada batas minimum yang diwajibkan. Studio lain mungkin tidak menyebutkan penggunaan AI internal semacam ini, tetapi Crystal Dynamics tampaknya memilih menjelaskan prosesnya sejak awal agar tidak dituduh menyembunyikan penggunaan AI setelah game dirilis .
Sikap hati-hati Crystal Dynamics sulit dipisahkan dari kontroversi Crimson Desert beberapa bulan sebelumnya—salah satu kasus penggunaan seni AI paling ramai dibicarakan dalam industri game .
Crimson Desert dirilis oleh Pearl Abyss pada 19 Maret 2026. Tidak lama kemudian, pemain di Reddit menemukan sejumlah lukisan dalam game yang tampak seperti hasil AI generatif. Beberapa kejanggalan yang disorot antara lain kuda berkaki lima, tubuh kesatria yang menyatu dengan latar, jari dengan jumlah tidak wajar, dan lipatan pakaian yang tidak masuk akal secara fisik .
Saat itu, Pearl Abyss belum mengungkapkan penggunaan AI di Steam. Setelah kritik meluas, studio tersebut meminta maaf dan mengonfirmasi bahwa beberapa “properti visual 2D” dibuat menggunakan alat AI generatif eksperimental pada tahap awal iterasi. Aset sementara itu disebut secara tidak sengaja masih terbawa ke versi final. Pearl Abyss kemudian menjalankan audit menyeluruh dan berjanji mengganti konten yang terdampak melalui pembaruan .
Kedua kasus ini memiliki kemiripan: baik Crimson Desert maupun Tomb Raider: Legacy of Atlantis menggunakan AI untuk membantu proses prototipe awal. Perbedaannya terletak pada pengawasan dan komunikasi kepada pemain:
Kasus Crimson Desert juga menunjukkan betapa cepat komunitas game bereaksi. Pemain kini semakin terbiasa meneliti aset dalam game untuk mencari tanda-tanda AI generatif, lalu menyebarkan temuannya melalui Reddit, X, dan forum game . Pembaruan kebijakan Steam pada Januari 2026 pun banyak dipandang sebagai respons terhadap meningkatnya tekanan komunitas dan kebingungan pengembang mengenai batas pengungkapan AI .
Meski mendapat apresiasi karena terbuka, pengungkapan Crystal Dynamics tetap tidak sepenuhnya bebas dari kritik. Sebagian pengamat menilai pengakuan seperti ini dapat ikut menormalisasi kehadiran AI dalam pengembangan game AAA. Dalam pandangan tersebut, label AI berisiko berubah menjadi formalitas kepatuhan, bukan penjelasan yang benar-benar membantu pemain memahami bagaimana sebuah game dibuat .
Kekhawatiran itu masuk akal. Jika hampir setiap game besar mencantumkan keterangan standar seperti “AI digunakan untuk eksplorasi awal dan kemudian diganti”, nilai informasinya bisa berkurang. Namun, perbandingan dengan Crimson Desert memperlihatkan pilihan yang dihadapi studio: menjelaskan penggunaan AI secara spesifik sejak awal, atau menunggu sampai komunitas menemukan aset yang terlewat dan memaksa pengembang masuk ke siklus permintaan maaf serta perbaikan.
Kontroversi AI seharusnya tidak menutupi identitas game ini. Tomb Raider: Legacy of Atlantis merupakan reinterpretasi penuh atas debut Lara Croft pada 1996, dikembangkan oleh Crystal Dynamics bersama Flying Wild Hog dan diterbitkan Amazon Game Studios .
Game ini pertama kali diumumkan secara mengejutkan di The Game Awards pada Desember 2025. Struktur utama dan lokasi ikonik dari game klasiknya—termasuk area Peru, Yunani, Mesir, dan Atlantis—akan dipertahankan, tetapi dibangun ulang dengan visual berbasis Unreal Engine 5, kontrol third-person modern, lingkungan yang didesain ulang, audio yang ditingkatkan, elemen cerita yang diperbarui, serta mekanik eksplorasi yang lebih luas .
Awalnya, game ini ditargetkan rilis pada 2026. Namun, Wikipedia kini mencantumkan tanggal rilis global pada 12 Februari 2027, untuk PlayStation 5, Xbox Series X/S, PC Windows, dan Nintendo Switch 2 .
Crystal Dynamics sebelumnya menyatakan pada Februari 2026 bahwa “lebih banyak informasi mengenai Tomb Raider: Legacy of Atlantis akan diungkap tahun ini”. Meski demikian, hingga kini belum ada presentasi gameplay penuh yang dipublikasikan. Cuplikan gameplay yang lebih mendalam diperkirakan hadir dalam beberapa bulan menjelang peluncuran pada Februari 2027 .
Teks lengkap pada halaman Steam berbunyi:
“AI-assisted tools were used during development to support some early exploration and temporary development content. Those temporary assets have been replaced, and are not present in the final game.”
Sumber lain menyebutkan bahwa Crystal Dynamics menjelaskan aset yang dibantu AI telah “diganti atau disempurnakan oleh pengembang manusia” demi mempertahankan visi kreatif dan artistik tim .
Artinya, AI digunakan sebagai alat bantu prototipe dan visualisasi—misalnya untuk menguji gagasan atau membayangkan arah artistik pada fase praproduksi—bukan untuk menghasilkan aset final yang akan dilihat pemain. Posisi studio adalah bahwa aset yang hadir dalam versi rilis dibuat oleh seniman manusia, sementara AI membantu tim mengeksplorasi ide dengan lebih cepat pada tahap awal .
Aturan Steam mengenai pengungkapan penggunaan AI berubah pada Januari 2026. Valve memperjelas perbedaan antara AI yang digunakan sebagai alat kerja internal dan konten buatan AI yang benar-benar dikonsumsi pemain .
Penggunaan yang wajib diungkapkan: konten buatan AI yang hadir dalam game atau materi pemasaran dan dilihat, didengar, maupun digunakan oleh pemain. Cakupannya termasuk karya visual, audio, pelokalan, elemen naratif, serta materi yang tampil di halaman toko Steam .
Penggunaan yang umumnya tidak wajib diungkapkan: alat bantu efisiensi di balik layar, seperti asisten penulisan kode, perangkat untuk mengembangkan konsep, dan alat bantu alur kerja lainnya. Valve menyatakan bahwa “peningkatan efisiensi melalui alat pengembangan berbasis AI bukanlah fokus bagian aturan ini” .
Berdasarkan ketentuan tersebut, penggunaan AI oleh Crystal Dynamics berada di kategori yang tidak wajib diungkapkan: asetnya hanya dipakai sementara selama pengembangan dan tidak masuk ke versi yang dimainkan konsumen. Namun, studio tetap memilih mencantumkannya di halaman Steam .
Dengan demikian, pengungkapan tersebut sesuai dengan kebijakan Steam dan bahkan lebih transparan daripada batas minimum yang diwajibkan. Studio lain mungkin tidak menyebutkan penggunaan AI internal semacam ini, tetapi Crystal Dynamics tampaknya memilih menjelaskan prosesnya sejak awal agar tidak dituduh menyembunyikan penggunaan AI setelah game dirilis .
Sikap hati-hati Crystal Dynamics sulit dipisahkan dari kontroversi Crimson Desert beberapa bulan sebelumnya—salah satu kasus penggunaan seni AI paling ramai dibicarakan dalam industri game .
Crimson Desert dirilis oleh Pearl Abyss pada 19 Maret 2026. Tidak lama kemudian, pemain di Reddit menemukan sejumlah lukisan dalam game yang tampak seperti hasil AI generatif. Beberapa kejanggalan yang disorot antara lain kuda berkaki lima, tubuh kesatria yang menyatu dengan latar, jari dengan jumlah tidak wajar, dan lipatan pakaian yang tidak masuk akal secara fisik .
Saat itu, Pearl Abyss belum mengungkapkan penggunaan AI di Steam. Setelah kritik meluas, studio tersebut meminta maaf dan mengonfirmasi bahwa beberapa “properti visual 2D” dibuat menggunakan alat AI generatif eksperimental pada tahap awal iterasi. Aset sementara itu disebut secara tidak sengaja masih terbawa ke versi final. Pearl Abyss kemudian menjalankan audit menyeluruh dan berjanji mengganti konten yang terdampak melalui pembaruan .
Kedua kasus ini memiliki kemiripan: baik Crimson Desert maupun Tomb Raider: Legacy of Atlantis menggunakan AI untuk membantu proses prototipe awal. Perbedaannya terletak pada pengawasan dan komunikasi kepada pemain:
Kasus Crimson Desert juga menunjukkan betapa cepat komunitas game bereaksi. Pemain kini semakin terbiasa meneliti aset dalam game untuk mencari tanda-tanda AI generatif, lalu menyebarkan temuannya melalui Reddit, X, dan forum game . Pembaruan kebijakan Steam pada Januari 2026 pun banyak dipandang sebagai respons terhadap meningkatnya tekanan komunitas dan kebingungan pengembang mengenai batas pengungkapan AI .
Meski mendapat apresiasi karena terbuka, pengungkapan Crystal Dynamics tetap tidak sepenuhnya bebas dari kritik. Sebagian pengamat menilai pengakuan seperti ini dapat ikut menormalisasi kehadiran AI dalam pengembangan game AAA. Dalam pandangan tersebut, label AI berisiko berubah menjadi formalitas kepatuhan, bukan penjelasan yang benar-benar membantu pemain memahami bagaimana sebuah game dibuat .
Kekhawatiran itu masuk akal. Jika hampir setiap game besar mencantumkan keterangan standar seperti “AI digunakan untuk eksplorasi awal dan kemudian diganti”, nilai informasinya bisa berkurang. Namun, perbandingan dengan Crimson Desert memperlihatkan pilihan yang dihadapi studio: menjelaskan penggunaan AI secara spesifik sejak awal, atau menunggu sampai komunitas menemukan aset yang terlewat dan memaksa pengembang masuk ke siklus permintaan maaf serta perbaikan.
Kontroversi AI seharusnya tidak menutupi identitas game ini. Tomb Raider: Legacy of Atlantis merupakan reinterpretasi penuh atas debut Lara Croft pada 1996, dikembangkan oleh Crystal Dynamics bersama Flying Wild Hog dan diterbitkan Amazon Game Studios .
Game ini pertama kali diumumkan secara mengejutkan di The Game Awards pada Desember 2025. Struktur utama dan lokasi ikonik dari game klasiknya—termasuk area Peru, Yunani, Mesir, dan Atlantis—akan dipertahankan, tetapi dibangun ulang dengan visual berbasis Unreal Engine 5, kontrol third-person modern, lingkungan yang didesain ulang, audio yang ditingkatkan, elemen cerita yang diperbarui, serta mekanik eksplorasi yang lebih luas .
Awalnya, game ini ditargetkan rilis pada 2026. Namun, Wikipedia kini mencantumkan tanggal rilis global pada 12 Februari 2027, untuk PlayStation 5, Xbox Series X/S, PC Windows, dan Nintendo Switch 2 .
Crystal Dynamics sebelumnya menyatakan pada Februari 2026 bahwa “lebih banyak informasi mengenai Tomb Raider: Legacy of Atlantis akan diungkap tahun ini”. Meski demikian, hingga kini belum ada presentasi gameplay penuh yang dipublikasikan. Cuplikan gameplay yang lebih mendalam diperkirakan hadir dalam beberapa bulan menjelang peluncuran pada Februari 2027 .