Rick Rieder, Chief Investment Officer Global Fixed Income BlackRock, mengatakan intervensi valuta asing oleh pemerintah bukanlah solusi jangka panjang untuk memperkuat yen; yang dibutuhkan adalah sinyal hawkish dan ke... Pasar kini memperkirakan 76% kemungkinan Bank of Japan akan menaikkan suku bunga pada September...
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What did BlackRock's Rick Rieder say about the yen, the Bank of Japan's monetary policy, and the effectiveness of government intervention, a. Article summary: Here is the answer:. Topic tags: general, news, general web. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers, clickbait thumbnails, icons, and tiny thumbnail layouts. Make it useful as an illustrative visual, not as factual evidence.
Eksekutif puncak obligasi BlackRock baru saja memberikan penilaian blak-blakan tentang kebijakan mata uang Jepang: intervensi pemerintah saja tidak akan menyelesaikan masalah pelemahan yen. Rick Rieder, Chief Investment Officer untuk Global Fixed Income di BlackRock Inc., mengatakan kepada Bloomberg Television's Wall Street Week pada 13 Agustus 2026, bahwa pemulihan yen yang berkelanjutan membutuhkan sinyal hawkish yang nyata dari Bank of Japan (BOJ) — bukan sekadar isyarat verbal atau intervensi pasar yang sporadis .
Pernyataan Rieder muncul di saat kritis bagi yen, yang masih mendekati level terendah dalam empat dekade meskipun ada intervensi bersama AS-Jepang yang belum pernah terjadi sebelumnya. Analisisnya menggarisbawahi konsensus yang berkembang di kalangan investor global bahwa lintasan mata uang Jepang pada akhirnya "tergantung pada" sikap kebijakan bank sentral .
Rieder menggambarkan intervensi valuta asing sebagai solusi yang "tidak paling tahan lama" untuk masalah yen . Skeptisismenya didasarkan pada pengalaman terbaru: intervensi bersama AS-Jepang pada akhir Juli, yang untuk pertama kalinya membuat Amerika Serikat secara aktif menjual euro untuk mendukung yen, gagal menghasilkan stabilitas yang langgeng
.
Dalam beberapa hari setelah intervensi itu, yen kembali mendekati 160 per dolar AS, menguapkan sebagian besar keuntungan jangka pendek . Pola ini, menurut Rieder, mencerminkan realitas fundamental: di tengah selisih suku bunga yang lebar yang menguntungkan dolar AS, intervensi sporadis tidak dapat mengatasi faktor struktural yang mendorong pelemahan yen
.
Fitch Ratings mencapai kesimpulan serupa, dengan menyatakan bahwa penguatan yen lebih lanjut kemungkinan akan membutuhkan BOJ untuk benar-benar menaikkan suku bunga . Analis OCBC menambahkan bahwa pemulihan yen yang berkelanjutan kemungkinan membutuhkan "komitmen yang lebih jelas untuk normalisasi kebijakan yang lebih cepat" dari bank sentral
.
Resep Rieder sederhana: Bank of Japan harus memberikan sinyal hawkish yang benar-benar keras, bukan sekadar isyarat verbal, untuk mendorong pemulihan yen yang langgeng . Dia memandang kebijakan moneter yang lebih ketat sebagai satu-satunya jalan kredibel menuju mata uang yang lebih kuat
.
Posisi ini sejalan dengan analisis BlackRock yang lebih luas. Eksekutif BlackRock lainnya, James Turner, sebelumnya memperingatkan bahwa keputusan AS untuk menjual euro tanpa memperingatkan para pembuat kebijakan Eropa menambah risiko geopolitik dan menunjukkan negara-negara menjadi "sedikit tidak kooperatif" . Pesan dari manajer aset terbesar di dunia ini jelas: taktik intervensi yang tidak konvensional menciptakan komplikasi, tetapi hanya aksi suku bunga BOJ yang dapat mengatasi akar masalahnya.
Pada pertengahan Agustus 2026, USD/JPY berada di kisaran 158–160, mencerminkan pelemahan yen yang terus-menerus meskipun ada beberapa putaran intervensi dan ekspektasi kenaikan suku bunga yang meningkat .
Bank of America telah memotong perkiraan USD/JPY akhir tahun menjadi 149, dengan alasan ekspektasi pengetatan BOJ yang lebih cepat dan dampak intervensi bersama AS-Jepang . Perkiraan itu menyiratkan apresiasi sekitar 6% pada akhir tahun dari level saat ini, tetapi itu tergantung pada bank sentral yang memenuhi sinyal hawkishnya
.
Pasar semakin yakin BOJ akan bertindak pada pertemuan berikutnya. Probabilitas kenaikan suku bunga September yang diperhitungkan pasar telah melonjak menjadi 76%, menurut data Tokyo Tanshi, naik drastis dari hanya 24% pada 30 Juli .
Pergeseran ini mengikuti pertemuan kebijakan BOJ pada 30–31 Juli, di mana bank sentral mempertahankan suku bunga acuan di 1% dengan suara 8-1 tetapi mengeluarkan pernyataan yang luar biasa hawkish . Untuk pertama kalinya, BOJ memperingatkan bahwa inflasi inti bisa melampaui target 2% dan mengatakan diskusi kebijakan di masa depan akan fokus pada risiko kenaikan harga
. Anggota dewan Hajime Takata berbeda pendapat, dengan alasan kenaikan segera sebesar 25 basis poin menjadi 1,25%
.
Perubahan hawkish ini bukan hanya spekulasi pasar eksternal — ia memiliki dasar internal yang jelas. Ringkasan pendapat dari pertemuan Juli, yang dirilis pada 10 Agustus, mengungkapkan bahwa setidaknya tiga dari sembilan anggota dewan berpendapat bahwa BOJ dapat dan harus menaikkan suku bunga lebih cepat dari laju saat ini sekitar dua kenaikan per tahun . Nada ringkasan itu memperkuat ekspektasi bahwa langkah September kini mungkin terjadi
.
Reuters melaporkan bahwa diskusi tersebut menyoroti kekhawatiran yang meningkat bahwa bank berisiko tertinggal dari kurva inflasi, karena tekanan harga inti meningkat .
Tekanan eksternal juga terbangun. Komentar publik Menteri Keuangan AS Scott Bessent tentang kebijakan moneter Jepang, menurut Reuters, "hampir mengunci" BOJ untuk kenaikan suku bunga September . Bessent telah mendesak Tokyo untuk mencocokkan intervensi dengan fundamental dan kebijakan yang mendukung, dan kampanye medianya yang profil tinggi sejak intervensi bersama telah menimbulkan pertanyaan tentang pengaruh Washington atas kebijakan domestik Jepang
.
Para ekonom mencatat dinamika diplomatik yang tidak biasa. "Intervensi bersama pada dasarnya menciptakan situasi di mana Jepang berutang budi pada AS," kata Shintaro Inagaki, ekonom di Mizuho Securities . Hingga baru-baru ini, sebagian besar analis memperkirakan kenaikan suku bunga BOJ berikutnya tidak akan terjadi hingga Desember
.
Bloomberg melaporkan bahwa pemerintahan Perdana Menteri Takaichi kini mendukung kenaikan suku bunga BOJ dalam waktu dekat, kemungkinan pada September atau Oktober . Ini menandai pergeseran yang signifikan, karena pemerintah sebelumnya menekan kenaikan suku bunga, sebuah langkah yang menurut para kritikus mempercepat pelemahan yen
.
Dengan pemerintah dan bank sentral yang semakin selaras, dan ekspektasi pasar pada tingkat yang tinggi, panggung tampaknya telah siap bagi BOJ untuk bertindak pada pertemuan 17–18 September .
Argumen inti Rieder — bahwa intervensi tanpa tindak lanjut kebijakan tidaklah cukup — kini mendapat dukungan luas dari harga pasar, perdebatan internal BOJ, tekanan diplomatik eksternal, dan perubahan dinamika politik. Apakah BOJ akan memberikan apa yang diminta investor akan menentukan tidak hanya lintasan yen, tetapi juga kredibilitas upaya Jepang yang lebih luas untuk keluar dari puluhan tahun kebijakan moneter yang sangat longgar.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Rick Rieder, Chief Investment Officer Global Fixed Income BlackRock, mengatakan intervensi valuta asing oleh pemerintah bukanlah solusi jangka panjang untuk memperkuat yen; yang dibutuhkan adalah sinyal hawkish dan ke...
Rick Rieder, Chief Investment Officer Global Fixed Income BlackRock, mengatakan intervensi valuta asing oleh pemerintah bukanlah solusi jangka panjang untuk memperkuat yen; yang dibutuhkan adalah sinyal hawkish dan ke... Pasar kini memperkirakan 76% kemungkinan Bank of Japan akan menaikkan suku bunga pada September 2026, naik drastis dari 24% pada akhir Juli, didorong oleh tekanan inflasi dan dukungan politik.