Peristiwa ini bukan sekadar transfer kripto bernilai besar. Data blockchain menggambarkan perubahan strategi Bhutan: dari negara yang dikenal mengakumulasi Bitcoin melalui energi hidroelektrik menjadi pengelola aset negara yang menjual cadangan digitalnya secara bertahap.
Platform analitik blockchain Arkham Intelligence menandai alamat deposit Binance tersebut sebagai dompet yang kemungkinan dimiliki pemerintah kerajaan Bhutan. Sebanyak 434,86 BTC mengalir ke bursa dalam rentang sekitar lima jam—aktivitas on-chain pertama dari dompet itu dalam lebih dari satu bulan .
Setoran ke bursa biasanya dipandang sebagai indikasi bahwa aset sedang disiapkan untuk dijual atau dikonversi ke mata uang fiat. Namun, nilainya relatif kecil dibandingkan volume perdagangan Bitcoin global, sehingga transaksi ini tidak dengan sendirinya menunjukkan tekanan jual besar-besaran.
Analis on-chain Ai Yi juga mengidentifikasi alamat tersebut sebagai dompet yang sebelumnya berinteraksi dengan alamat-alamat yang dikaitkan dengan pemerintah Bhutan . Meski demikian, Druk Holding & Investments (DHI), badan investasi milik negara Bhutan, belum mengonfirmasi secara resmi penjualan-penjualan tersebut .
Setelah transfer terbaru, dompet berdaulat Bhutan yang diberi label secara publik diperkirakan menyimpan sekitar 3.000–3.100 BTC. Jumlah itu turun tajam dari puncak sekitar 13.000 BTC pada Oktober 2024. Nilai kumulatif pengurangan cadangan sejak pertengahan 2025 diperkirakan mencapai sekitar US$1 miliar .
Pada titik tertingginya, simpanan Bitcoin Bhutan bernilai lebih dari US$1,4 miliar—setara dengan sekitar 40% produk domestik bruto negara tersebut pada saat itu . Skala penurunan ini menjadikan Bhutan salah satu contoh paling mencolok dari penyusutan cadangan kripto berdaulat.
Salah satu petunjuk terpenting dari data on-chain adalah berhentinya arus masuk Bitcoin hasil mining dalam jumlah signifikan .
Bhutan sebelumnya kerap disebut sebagai “kekuatan Bitcoin” karena operasi mining yang dikelola negara dan ditenagai sumber daya hidroelektrik melimpah. Berhentinya arus masuk mining mengindikasikan bahwa fase tersebut kemungkinan besar telah berakhir .
Melalui DHI, Bhutan tampaknya menjalankan pengurangan cadangan secara terukur dan dalam beberapa tahap, bukan menjual seluruh kepemilikannya sekaligus . Beberapa transfer yang terpantau antara lain:
| Waktu | Bitcoin yang dipindahkan | Perkiraan nilai | Sumber |
|---|---|---|---|
| Maret 2026 | 973 BTC | sekitar US$72,3 juta | |
| 6 Juni 2026 | 738 BTC | sekitar US$44,88 juta | |
| 17 Juni 2026 | 533 BTC | sekitar US$34,5 juta | |
| 5 Juli 2026 | 700 BTC | sekitar US$43,75 juta | |
| 7 Agustus 2026 | 434,86 BTC | sekitar US$27,96 juta |
Secara keseluruhan, arus keluar dari dompet yang dikaitkan dengan Bhutan sepanjang 2026 telah melampaui US$250 juta . Pola transfer dalam beberapa batch ini dinilai lebih menyerupai pengelolaan likuiditas dan penarikan cadangan secara terencana daripada aksi jual panik .
Sejumlah analis juga mengaitkan penjualan tersebut dengan kebutuhan pendanaan pembangunan Gelephu Mindfulness City, proyek kota besar yang direncanakan Bhutan . Namun, hubungan langsung antara setiap transfer dan pembiayaan proyek tersebut belum dikonfirmasi secara resmi.
Pada hari yang sama ketika Bhutan menyetor Bitcoin ke Binance, sebuah dompet anonim baru menarik Bitcoin dari bursa dengan nilai hampir identik—sekitar US$28 juta. Jumlahnya juga nyaris sama, yakni sekitar 434,87 BTC, tetapi arahnya berlawanan .
Dua transaksi ini memperlihatkan dua pendekatan yang berbeda:
Pemantau pasar menilai pasangan transaksi tersebut sebagai sinyal yang relatif seimbang. Penjualan dari pihak berdaulat tampaknya diserap oleh pembelian privat pada kisaran harga yang sama. Karena itu, arus tersebut lebih terlihat sebagai perpindahan kepemilikan daripada tanda kepanikan pasar .
Selama ini, Bhutan dipandang sebagai salah satu negara yang membangun cadangan Bitcoin terutama melalui mining, bukan pembelian langsung di pasar. Dengan energi hidroelektrik sebagai keunggulan biaya, negara tersebut dapat mengakumulasi Bitcoin sambil memanfaatkan sumber daya domestiknya .
Kini, pola penjualan berkala menunjukkan pendekatan yang berbeda. Bitcoin diperlakukan sebagai aset cadangan yang dapat dicairkan, bukan sebagai posisi “HODL” permanen. Dalam konteks ini, strategi Bhutan lebih mirip pengelolaan pendapatan komoditas oleh dana kekayaan negara: aset disimpan ketika menguntungkan dan dijual ketika diperlukan untuk likuiditas atau prioritas pembangunan .
Kasus Bhutan juga menunjukkan bahwa akses ke listrik terbarukan murah tidak otomatis membuat mining Bitcoin selalu menguntungkan. Halving April 2024 mengurangi imbalan blok, sementara tingkat kesulitan jaringan dan perubahan harga Bitcoin meningkatkan tekanan terhadap margin operator .
Beberapa laporan sebelumnya juga mencatat adanya infrastruktur mining yang masih terdaftar online. Karena itu, kesimpulan yang paling hati-hati dari data yang tersedia adalah bahwa operasi mining yang menghasilkan arus masuk signifikan tampak berhenti atau sangat melambat, bukan bahwa setiap fasilitas fisik Bhutan telah dipastikan ditutup .
Setoran 434,86 BTC senilai sekitar US$27,96 juta ke Binance pada 7 Agustus 2026 merupakan bab terbaru dari pengurangan cadangan Bitcoin Bhutan. Dari sekitar 13.000 BTC pada Oktober 2024, kepemilikan yang terlacak secara publik kini diperkirakan tinggal sekitar 3.000–3.100 BTC .
Bersamaan dengan berhentinya arus masuk mining yang signifikan, perkembangan ini mengubah citra Bhutan dari negara pelopor mining Bitcoin berbasis tenaga hidro menjadi pengelola cadangan digital yang siap menjual asetnya ketika dibutuhkan.
Bagi pasar, pelajarannya cukup jelas: kepemilikan Bitcoin oleh negara tidak selalu berarti posisi jangka panjang yang tidak tersentuh. Seperti aset cadangan lainnya, Bitcoin dapat dicairkan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas, mendukung pembangunan, atau menyesuaikan strategi keuangan nasional.