Ada ironi yang sulit diabaikan. Anthropic disebut menawarkan kompensasi tertinggi di antara perusahaan rintisan AI besar. Total kompensasi insinyur perangkat lunaknya dilaporkan berkisar dari sekitar US$375.000 hingga US$1,3 juta per tahun, termasuk saham dan bonus . Dengan angka sebesar itu, wajar jika kandidat juga mempertimbangkan imbalan finansial ketika memutuskan bergabung.
Penting dicatat, kekhawatiran Amodei bukan kutipan publik langsung. Axios melaporkannya berdasarkan keterangan sumber yang mengetahui persoalan tersebut . Namun, isu ini mencerminkan problem yang lebih luas di laboratorium AI terdepan: uang dapat menarik talenta, tetapi belum tentu menjamin kesetiaan, kecocokan budaya, atau komitmen jangka panjang terhadap misi .
Anthropic didirikan dengan tujuan mengembangkan AI yang lebih aman. Misi itu juga menjadi salah satu alasan Amodei meninggalkan OpenAI. Ia kini khawatir semangat pendiri tersebut melemah ketika kandidat datang terutama karena paket kompensasi yang menarik .
Bagi perusahaan, persoalannya bukan sekadar apakah karyawan mampu melakukan pekerjaan teknis. Anthropic juga membutuhkan orang yang bersedia memprioritaskan mitigasi risiko AI ketika keputusan tersebut berpotensi memperlambat pertumbuhan komersial.
Amodei sebelumnya menyatakan Anthropic tidak akan menyamai tawaran pembajakan karyawan dari pesaing. Meta, yang dipimpin Mark Zuckerberg, dilaporkan menawarkan paket hingga US$100 juta atau lebih untuk sejumlah talenta AI .
Dalam podcast Big Technology pada Juli 2025, Amodei mengatakan Anthropic menggunakan sistem kompensasi berdasarkan jenjang dan tidak melakukan negosiasi individual untuk menentukan level. Ia menyebut pendekatan sebaliknya tidak adil bagi karyawan yang sudah berada di perusahaan .
Menurut Amodei, menaikkan gaji secara drastis demi menahan setiap orang dapat “menghancurkan” budaya perusahaan. Ia juga berpendapat bahwa komitmen terhadap misi bukan sesuatu yang bisa dibeli melalui perang penawaran .
Pada pertengahan 2025, Amodei mengklaim sekitar 80% karyawan baru tetap bertahan meski mendapat tawaran dari Meta—angka yang disebutnya terbaik di industri . Ketika Anthropic membayar lebih rendah daripada pesaing, kesediaan seseorang untuk tetap bergabung dianggap sebagai semacam “filter misi”.
Masalahnya, gaji Anthropic kini ikut meningkat hingga menjadi salah satu yang tertinggi di industri . Jika perusahaan menawarkan angka yang sama menggiurkannya dengan para pesaing, faktor finansial tidak lagi membantu membedakan orang yang datang karena keyakinan dari mereka yang datang karena paket kompensasi.
Kasus Anthropic bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Laboratorium AI besar kini berebut kelompok peneliti yang relatif kecil dengan menawarkan kombinasi gaji tinggi, saham, akses komputasi, pengaruh terhadap arah riset, dan kebebasan teknis.
Thinking Machines Lab, perusahaan yang didirikan mantan CTO OpenAI Mira Murati, menggalang pendanaan awal US$2 miliar dengan valuasi US$12 miliar pada 2025. Namun, sekitar 13 orang—hampir sepertiga dari 42 anggota tim pendirinya—dilaporkan telah hengkang. Mereka termasuk tiga dari enam pendiri perusahaan .
Barret Zoph dan Luke Metz kembali ke OpenAI pada Januari 2026. Dua anggota pendiri lainnya kemudian bergabung dengan Meta pada Februari 2026 . Pada April, setidaknya tujuh mantan karyawan Thinking Machines dilaporkan telah bekerja di Meta .
Rangkaian kepergian ini menunjukkan betapa cepatnya posisi sebuah laboratorium dapat berubah ketika pesaing menawarkan uang, sumber daya komputasi, atau peran yang dianggap lebih berpengaruh.
Pada 18 Juni 2026, Noam Shazeer—salah satu pemimpin Gemini dan penulis bersama makalah penting 2017, “Attention Is All You Need”—mengumumkan kepindahannya dari Google ke OpenAI . Makalah tersebut memperkenalkan arsitektur Transformer yang menjadi fondasi sebagian besar model AI generatif modern.
Sekitar 48 jam kemudian, John Jumper, peraih Nobel Kimia 2024 dan salah satu pencipta AlphaFold, mengumumkan bahwa ia meninggalkan Google DeepMind untuk bergabung dengan Anthropic . Peneliti Google Jonas Adler dan Alexander Pritzel juga dilaporkan pindah ke Anthropic tidak lama kemudian .
Saham Alphabet, induk Google, turun 6,8% ketika pasar dibuka pada Senin, 22 Juni. Penurunan tersebut menghapus sekitar US$270 miliar dari nilai pasar perusahaan dan menjadi hari terburuknya dalam lebih dari setahun . Reaksi pasar itu memperlihatkan bahwa kehilangan peneliti utama dipandang bukan sekadar masalah sumber daya manusia, melainkan ancaman terhadap posisi kompetitif perusahaan di bidang AI.
Meta disebut menawarkan paket kompensasi hingga US$300 juta selama empat tahun untuk talenta teratas . Meski tingkat retensi Meta yang dilaporkan sekitar 64% masih di bawah Anthropic, arus masuk karyawan dari Thinking Machines dan Google telah memperkuat tim AI perusahaan tersebut .
Dengan kata lain, Meta mungkin tidak selalu mampu mempertahankan semua orang dalam jangka panjang, tetapi memiliki daya tarik finansial yang cukup besar untuk terus mengisi kembali timnya.
Dalam perang talenta AI, muncul kerangka yang sering disebut sebagai “missionaries versus mercenaries”—atau “misionaris versus tentara bayaran” . Istilah ini bukan berarti semua karyawan dapat dimasukkan secara rapi ke salah satu kategori. Namun, kerangka tersebut menggambarkan ketegangan antara orang yang mengutamakan tujuan jangka panjang dan mereka yang lebih pragmatis dalam memilih pemberi kerja.
Saat mempertimbangkan pindah, peneliti AI kini biasanya menimbang setidaknya empat hal:
Ketika Anthropic masih kecil dan belum dikenal luas, gaji di bawah pasar mungkin berfungsi sebagai penyaring alami: orang yang tetap bergabung dianggap lebih mungkin benar-benar percaya pada misi. Kini, perusahaan tersebut dilaporkan telah mencapai valuasi sekitar US$965 miliar dan disebut mempertimbangkan penawaran umum perdana saham (IPO). Kompensasinya juga telah melampaui para pesaing, sehingga semakin sulit membedakan Anthropic dari perusahaan yang dulu ingin dijadikannya alternatif etis .
Konflik antara keselamatan dan pertumbuhan komersial tidak hanya terlihat dari cara Anthropic merekrut karyawan. Sejumlah peneliti keselamatan di dalam perusahaan juga telah mengundurkan diri secara terbuka. Salah satunya memperingatkan bahwa “dunia berada dalam bahaya” dan mengatakan tim keselamatan terus menghadapi tekanan untuk mengesampingkan hal-hal yang dianggap paling penting .
Amodei sendiri mengakui Anthropic menghadapi “tekanan komersial yang luar biasa”. Fokus keselamatan yang lebih besar dibandingkan sebagian pesaing, menurutnya, membuat perusahaan semakin sulit menjaga keseimbangan antara mempertahankan nilai-nilai awal dan mengejar profitabilitas .
Di sinilah letak dilema terbesar Anthropic. Perusahaan membutuhkan gaji tinggi untuk memenangkan talenta yang langka, tetapi semakin tinggi gaji yang ditawarkan, semakin sulit bagi pimpinan untuk berasumsi bahwa setiap orang yang bergabung melakukannya terutama demi misi.
Pada akhirnya, persoalan “misionaris versus tentara bayaran” bukan lagi sekadar pertanyaan tentang laboratorium mana yang dipilih seorang peneliti. Persoalan itu kini berada di dalam Anthropic sendiri: bagaimana membangun AI secara aman ketika perusahaan harus bersaing dengan tawaran raksasa, mengejar pertumbuhan, dan tetap meyakinkan karyawan bahwa misi lebih penting daripada angka di slip kompensasi.