Posisi tersebut terasa semakin mengesankan jika melihat kembali musim debutnya pada 2025. Antonelli tidak sekadar berkembang dari seorang rookie menjadi kandidat juara. Ia juga harus memulihkan kepercayaan dirinya setelah melewati salah satu periode paling sulit dalam karier mudanya.
Antonelli mengawali debutnya dengan cukup meyakinkan. Ia finis di posisi keempat pada balapan pertamanya di Australia dan meraih pole position pada Sprint Miami . Namun, performanya merosot ketika kalender F1 memasuki rangkaian balapan Eropa.
Beberapa faktor utama berada di balik kemundurannya:
Antonelli kemudian mengatakan bahwa ia “membiarkan tekanan menghancurkan saya” pada 2025. Ia juga mengaku banyak menangis dan mulai mempertanyakan kemampuannya sendiri . Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya soal kecepatan mobil atau hasil balapan, tetapi juga beban mental yang datang bersama statusnya sebagai prospek besar Mercedes.
Titik baliknya datang setelah penampilan buruk di Grand Prix Italia di Monza. Dalam pertemuan pascabalapan yang berlangsung cukup keras dan terbuka, Antonelli berbicara dengan race engineer-nya, Peter Bonnington—yang akrab dipanggil “Bono” .
Pembahasan itu memaksanya mengubah cara berpikir untuk sisa musim 2025. Alih-alih terus mengejar pembuktian di setiap sesi, ia mulai membangun kembali pendekatannya secara bertahap.
Antonelli kemudian menggambarkan perubahan tersebut dengan kalimat:
“Saya ingat betapa tegangnya saya di dalam mobil. Sekarang semuanya benar-benar berbeda. Saya telah berkembang pesat secara mental.”
Reset itu tidak langsung menghapus semua kesulitan, tetapi memberinya arah baru. Selama jeda musim dingin, Antonelli juga menjalani beberapa sesi bersama psikolog. Ia meninjau kembali apa yang berjalan baik dan buruk pada 2025, lalu menetapkan sejumlah target untuk musim berikutnya .
Hasilnya terlihat jelas pada 2026. Dalam enam balapan pertama, ia sudah mengumpulkan lebih banyak poin dibandingkan total yang diraihnya sepanjang musim rookie 2025 . Dari pembalap muda yang sempat kehilangan arah, Antonelli berubah menjadi pembalap yang mampu mengendalikan balapan dan menjaga konsistensi di posisi terdepan.
Perubahan Antonelli tidak hanya tercermin dari jumlah kemenangan, tetapi juga dari caranya menghadapi situasi sulit. Pada Grand Prix Hungaria, misalnya, ia mampu mengubah penalti posisi grid menjadi finis podium. Hasil finis ketiga itu membuatnya tetap memperlebar keunggulan menjadi 50 poin sebelum jeda musim panas .
ESPN bahkan memberinya nilai A+ pada penilaian paruh musim 2026. Dengan enam kemenangan, sembilan podium, dan status sebagai pemimpin klasemen, Antonelli dinilai nyaris sempurna—terutama ketika menghadapi momen-momen penting .
Namun, kebangkitan ini bukan berarti semua kelemahannya telah hilang.
Juara dunia F1 1996 Damon Hill termasuk salah satu pendukung Antonelli yang paling vokal. Hill mengatakan bahwa pembalap Italia itu telah “menemukan sesuatu dalam dirinya”, sementara Russell terlihat seperti “menghilang” jika dibandingkan dengan performanya pada musim sebelumnya .
Hill juga menyebut Antonelli sebagai “talenta luar biasa” dan menjadikannya kandidat terdepan dalam perebutan gelar 2026 . Menurut Hill, Mercedes telah memberinya mobil yang kompetitif, tetapi Antonelli juga masih berada dalam proses belajar—kombinasi yang membuat perkembangannya semakin berbahaya bagi para rival.
Persaingan Antonelli dan Russell di dalam garasi Mercedes bahkan mengingatkan Hill pada rivalitasnya sendiri dengan rookie Jacques Villeneuve di Williams pada 1996. Perbandingan itu menunjukkan bahwa duel internal Mercedes bukan sekadar persaingan biasa, melainkan pertarungan antara pembalap mapan dan pendatang muda yang sedang mengambil alih momentum .
Meski demikian, Hill juga melihat celah dalam performa Antonelli. Setelah penalti membuatnya finis di posisi ke-16 pada GP Inggris 2026, Hill menyoroti “kelemahan” Antonelli dalam situasi tertentu. Menurutnya, “terlalu bersemangat” atau over-exuberance masih menjadi kelemahan terbesar sang pembalap .
Juan Pablo Montoya memberikan penilaian yang lebih bernuansa. Mantan pembalap F1 itu menilai Antonelli kini beroperasi sepenuhnya dalam “zona nyamannya”. Maksudnya, kecepatan alami Antonelli begitu tinggi sehingga ia tidak perlu memaksakan diri hingga melewati batas untuk tampil cepat dan menang .
Montoya memuji gaya balap Antonelli yang agresif dan penuh determinasi. Ia juga memberikan kredit kepada Peter Bonnington atas peran pentingnya dalam membantu transformasi mental pembalap muda tersebut .
Namun, Montoya memperingatkan bahwa tantangan terbesar Antonelli bisa datang dari dirinya sendiri. Ia mendesak Mercedes untuk melindungi pembalap muda itu dari tekanan eksternal dan memastikan Antonelli tidak terlalu larut dalam dinamika klasemen atau sorotan media .
Menurut Montoya, situasi ini juga diperumit oleh karakter Antonelli yang sangat cepat sekaligus mudah disukai. Ia menilai lawan akan lebih sulit memunculkan emosi dan motivasi ekstra ketika harus berduel dengan pembalap yang “sangat cepat” tetapi juga “pria yang menyenangkan” .
Berdasarkan sumber yang tersedia, belum ada bukti yang cukup untuk mengaitkan komentar langsung Edd Straw mengenai performa Antonelli, dinamika internal Mercedes, atau perbandingan historis tersebut. Karena itu, penilaiannya tidak dapat disimpulkan dari materi sumber yang ada.
Lompatan Antonelli dari musim 2025 yang penuh keraguan menuju keunggulan 50 poin pada 2026 menjadi salah satu perubahan paling mencolok dalam beberapa musim terakhir F1. Kini ia memimpin seorang juara dunia tujuh kali, Lewis Hamilton, sekaligus unggul jauh dari Russell di dalam tim yang sama .
Perjalanan itu menunjukkan bahwa kecepatan saja tidak cukup untuk menjadi kandidat juara. Antonelli harus belajar memahami mobil, mengakui inkonsistensinya, mengelola ekspektasi, dan—yang paling penting—memisahkan tekanan dari pekerjaannya di lintasan.
Masih ada kelemahan yang perlu diperbaiki, terutama kecenderungan untuk terlalu memaksakan diri pada situasi tertentu. Namun, jika ia mampu mempertahankan ketenangan yang dibangunnya setelah Monza, Antonelli tidak lagi sekadar menjadi prospek masa depan Mercedes. Ia sudah tampil sebagai pusat kekuatan baru dalam perebutan gelar F1 2026.