Pada Rabu (12/8/2026), dua badan energi raksasa secara bersamaan merevisi turun prospek permintaan minyak global tahun ini. Mereka beralasan, perang AS-Israel melawan Iran telah mengganggu rantai pasok dan mendongkrak harga BBM, yang pada akhirnya menekan konsumsi .
IEA mengatakan kontraksi yang lebih tajam ini disebabkan oleh terbatasnya pasokan bahan bakar dan harga yang lebih tinggi akibat konflik, yang telah membebani permintaan . Menariknya, proyeksi dua lembaga ini kini terpaut lebih dari 2 juta bph, mencerminkan ketidakpastian yang sangat dalam di pasar .
Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan bahwa stok minyak mentah komersial AS mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam 3,5 tahun — melonjak 17,4 juta barel menjadi 424,4 juta barel pada pekan yang berakhir 7 Agustus . Angka ini merupakan kejutan besar karena analis justru memperkirakan penurunan sebesar 1,4 juta barel .
Lonjakan ini terutama disebabkan oleh merosotnya ekspor minyak mentah AS ke titik terendah sejak November 2025, yaitu hanya 3,06 juta bph . Sehari sebelumnya, API (American Petroleum Institute) sebenarnya sudah memberi sinyal dengan melaporkan penambahan 9,07 juta barel. Namun, data EIA yang jauh lebih besar itu-lah yang akhirnya memicu aksi jual massal .
"Besarnya kenaikan ini sungguh luar biasa, karena perubahan mingguan biasanya hanya dalam angka satuan juta," tulis CME Group dalam analisisnya atas laporan EIA . Analis UBS, Giovanni Staunovo, mengatakan penumpukan stok ini menjadi "angin lawan bagi harga," meskipun ia menambahkan bahwa potensi penurunan seharusnya terbatas selama arus minyak melalui Selat Hormuz masih terhambat .
Meskipun terjadi aksi jual yang tajam, para trader belum sepenuhnya meninggalkan pasar. Ada dua risiko upside yang terus memberikan penopang harga:
Pembicaraan untuk membuka kembali jalur air strategis ini masih menemui jalan buntu. Tidak ada kemajuan berarti terkait kesepakatan sementara AS-Iran yang telah disepakati pada Juni lalu . Seorang sumber senior Iran pada Rabu lalu mengatakan tidak ada perkembangan dalam menentukan kerangka waktu untuk mengimplementasikan kesepakatan tersebut . Kebuntuan ini membuat gangguan pengiriman dan kendala pasokan tetap berlanjut, sehingga memberikan lantai harga .
Serangan terhadap kapal-kapal di Teluk dan wilayah Bab al-Mandab, yang terkait dengan konflik Iran yang lebih luas, terus mengancam arus pasokan minyak . Analis ING mencatat "tidak ada perkembangan baru antara AS dan Iran, kedua belah pihak tetap dalam kebuntuan." Sementara itu, serangan drone besar-besaran ke pelabuhan Novorossiysk milik Rusia menambah kekhawatiran pasokan di luar Timur Tengah .
Pasar minyak saat ini terjebak di antara dua kekuatan besar yang saling berlawanan:
Kekhawatiran dari sisi permintaan memang mendominasi perdagangan pekan ini, tapi keseimbangan pasar tetap rapuh. Analis memperingatkan, jika ada tanda-tanda kemajuan dalam membuka kembali Selat Hormuz, harga bisa anjlok lebih tajam. Sebaliknya, jika negosiasi gagal atau terjadi serangan baru, kelemahan harga saat ini bisa berbalik arah dengan cepat . Analis PVM, John Evans, merangkumnya dengan mengatakan bahwa kombinasi dari peningkatan stok AS dan estimasi permintaan yang lebih lemah "membatasi potensi kenaikan pasar," meskipun risiko konflik masih ada .
Pada Rabu (12/8/2026), dua badan energi raksasa secara bersamaan merevisi turun prospek permintaan minyak global tahun ini. Mereka beralasan, perang AS-Israel melawan Iran telah mengganggu rantai pasok dan mendongkrak harga BBM, yang pada akhirnya menekan konsumsi .
IEA mengatakan kontraksi yang lebih tajam ini disebabkan oleh terbatasnya pasokan bahan bakar dan harga yang lebih tinggi akibat konflik, yang telah membebani permintaan . Menariknya, proyeksi dua lembaga ini kini terpaut lebih dari 2 juta bph, mencerminkan ketidakpastian yang sangat dalam di pasar .
Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan bahwa stok minyak mentah komersial AS mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam 3,5 tahun — melonjak 17,4 juta barel menjadi 424,4 juta barel pada pekan yang berakhir 7 Agustus . Angka ini merupakan kejutan besar karena analis justru memperkirakan penurunan sebesar 1,4 juta barel .
Lonjakan ini terutama disebabkan oleh merosotnya ekspor minyak mentah AS ke titik terendah sejak November 2025, yaitu hanya 3,06 juta bph . Sehari sebelumnya, API (American Petroleum Institute) sebenarnya sudah memberi sinyal dengan melaporkan penambahan 9,07 juta barel. Namun, data EIA yang jauh lebih besar itu-lah yang akhirnya memicu aksi jual massal .
"Besarnya kenaikan ini sungguh luar biasa, karena perubahan mingguan biasanya hanya dalam angka satuan juta," tulis CME Group dalam analisisnya atas laporan EIA . Analis UBS, Giovanni Staunovo, mengatakan penumpukan stok ini menjadi "angin lawan bagi harga," meskipun ia menambahkan bahwa potensi penurunan seharusnya terbatas selama arus minyak melalui Selat Hormuz masih terhambat .
Meskipun terjadi aksi jual yang tajam, para trader belum sepenuhnya meninggalkan pasar. Ada dua risiko upside yang terus memberikan penopang harga:
Pembicaraan untuk membuka kembali jalur air strategis ini masih menemui jalan buntu. Tidak ada kemajuan berarti terkait kesepakatan sementara AS-Iran yang telah disepakati pada Juni lalu . Seorang sumber senior Iran pada Rabu lalu mengatakan tidak ada perkembangan dalam menentukan kerangka waktu untuk mengimplementasikan kesepakatan tersebut . Kebuntuan ini membuat gangguan pengiriman dan kendala pasokan tetap berlanjut, sehingga memberikan lantai harga .
Serangan terhadap kapal-kapal di Teluk dan wilayah Bab al-Mandab, yang terkait dengan konflik Iran yang lebih luas, terus mengancam arus pasokan minyak . Analis ING mencatat "tidak ada perkembangan baru antara AS dan Iran, kedua belah pihak tetap dalam kebuntuan." Sementara itu, serangan drone besar-besaran ke pelabuhan Novorossiysk milik Rusia menambah kekhawatiran pasokan di luar Timur Tengah .
Pasar minyak saat ini terjebak di antara dua kekuatan besar yang saling berlawanan:
Kekhawatiran dari sisi permintaan memang mendominasi perdagangan pekan ini, tapi keseimbangan pasar tetap rapuh. Analis memperingatkan, jika ada tanda-tanda kemajuan dalam membuka kembali Selat Hormuz, harga bisa anjlok lebih tajam. Sebaliknya, jika negosiasi gagal atau terjadi serangan baru, kelemahan harga saat ini bisa berbalik arah dengan cepat . Analis PVM, John Evans, merangkumnya dengan mengatakan bahwa kombinasi dari peningkatan stok AS dan estimasi permintaan yang lebih lemah "membatasi potensi kenaikan pasar," meskipun risiko konflik masih ada .