Harga minyak ambles lebih dari US$1 per barel pada Kamis, 13 Agustus 2026, setelah OPEC memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan 2026 menjadi 580.000 bph dan IEA justru memperkirakan kontraksi permintaan tahunan pert... Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan penambahan stok minyak mentah komersial AS sebesar 17...
Jawaban penelitian

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What caused oil prices to fall sharply on Thursday, and what are the key factors — including the OPEC and IEA demand forecast cuts, the U.S.. Article summary: Oil prices fell more than $1 a barrel on Thursday, August 13, 2026, driven by a convergence of bearish demand signals and a massive U.S. inventory build that overwhelmed persistent geopolitical supply risks from the Midd. Topic tags: general, general web, news. Style: premium digital editorial illustration, source-backed research mood, clean composition, high detail, modern web publication hero. Use reference image context only for broad subject, composition, and topical grounding; do not copy the exact image. Avoid: logos, brand marks, copyrighted characters, real person likenesses, fake screenshots, UI text, readable text, watermarks, charts with fake numbers
Harga minyak mentah dunia ambles lebih dari US$1 per barel pada Kamis, 13 Agustus 2026. Aksi jual besar-besaran ini dipicu oleh sinyal permintaan yang suram dari dua lembaga energi paling berpengaruh di dunia, ditambah data stok minyak AS yang membengkak secara mengejutkan. Meski risiko pasokan dari Timur Tengah masih mengintai, faktor-faktor penekan harga kali ini terbukti lebih dominan .
Brent mentah ditutup di kisaran US$87,90/barel (turun ~1,2%), sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) merosot ke ~US$82,10/barel (turun ~1,3%) .
Pada Rabu (12/8/2026), dua badan energi raksasa secara bersamaan merevisi turun prospek permintaan minyak global tahun ini. Mereka beralasan, perang AS-Israel melawan Iran telah mengganggu rantai pasok dan mendongkrak harga BBM, yang pada akhirnya menekan konsumsi .
IEA mengatakan kontraksi yang lebih tajam ini disebabkan oleh terbatasnya pasokan bahan bakar dan harga yang lebih tinggi akibat konflik, yang telah membebani permintaan . Menariknya, proyeksi dua lembaga ini kini terpaut lebih dari 2 juta bph, mencerminkan ketidakpastian yang sangat dalam di pasar
.
Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan bahwa stok minyak mentah komersial AS mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam 3,5 tahun — melonjak 17,4 juta barel menjadi 424,4 juta barel pada pekan yang berakhir 7 Agustus . Angka ini merupakan kejutan besar karena analis justru memperkirakan penurunan sebesar 1,4 juta barel
.
Lonjakan ini terutama disebabkan oleh merosotnya ekspor minyak mentah AS ke titik terendah sejak November 2025, yaitu hanya 3,06 juta bph . Sehari sebelumnya, API (American Petroleum Institute) sebenarnya sudah memberi sinyal dengan melaporkan penambahan 9,07 juta barel. Namun, data EIA yang jauh lebih besar itu-lah yang akhirnya memicu aksi jual massal
.
"Besarnya kenaikan ini sungguh luar biasa, karena perubahan mingguan biasanya hanya dalam angka satuan juta," tulis CME Group dalam analisisnya atas laporan EIA . Analis UBS, Giovanni Staunovo, mengatakan penumpukan stok ini menjadi "angin lawan bagi harga," meskipun ia menambahkan bahwa potensi penurunan seharusnya terbatas selama arus minyak melalui Selat Hormuz masih terhambat
.
Meskipun terjadi aksi jual yang tajam, para trader belum sepenuhnya meninggalkan pasar. Ada dua risiko upside yang terus memberikan penopang harga:
Pembicaraan untuk membuka kembali jalur air strategis ini masih menemui jalan buntu. Tidak ada kemajuan berarti terkait kesepakatan sementara AS-Iran yang telah disepakati pada Juni lalu . Seorang sumber senior Iran pada Rabu lalu mengatakan tidak ada perkembangan dalam menentukan kerangka waktu untuk mengimplementasikan kesepakatan tersebut
. Kebuntuan ini membuat gangguan pengiriman dan kendala pasokan tetap berlanjut, sehingga memberikan lantai harga
.
Serangan terhadap kapal-kapal di Teluk dan wilayah Bab al-Mandab, yang terkait dengan konflik Iran yang lebih luas, terus mengancam arus pasokan minyak . Analis ING mencatat "tidak ada perkembangan baru antara AS dan Iran, kedua belah pihak tetap dalam kebuntuan." Sementara itu, serangan drone besar-besaran ke pelabuhan Novorossiysk milik Rusia menambah kekhawatiran pasokan di luar Timur Tengah
.
Pasar minyak saat ini terjebak di antara dua kekuatan besar yang saling berlawanan:
Kekhawatiran dari sisi permintaan memang mendominasi perdagangan pekan ini, tapi keseimbangan pasar tetap rapuh. Analis memperingatkan, jika ada tanda-tanda kemajuan dalam membuka kembali Selat Hormuz, harga bisa anjlok lebih tajam. Sebaliknya, jika negosiasi gagal atau terjadi serangan baru, kelemahan harga saat ini bisa berbalik arah dengan cepat . Analis PVM, John Evans, merangkumnya dengan mengatakan bahwa kombinasi dari peningkatan stok AS dan estimasi permintaan yang lebih lemah "membatasi potensi kenaikan pasar," meskipun risiko konflik masih ada
.
Studio Global AI
Halaman ini berisi jawaban yang didukung sumber yang dapat Anda lanjutkan di dalam Studio Global.
Harga minyak ambles lebih dari US$1 per barel pada Kamis, 13 Agustus 2026, setelah OPEC memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan 2026 menjadi 580.000 bph dan IEA justru memperkirakan kontraksi permintaan tahunan pert...
Harga minyak ambles lebih dari US$1 per barel pada Kamis, 13 Agustus 2026, setelah OPEC memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan 2026 menjadi 580.000 bph dan IEA justru memperkirakan kontraksi permintaan tahunan pert... Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan penambahan stok minyak mentah komersial AS sebesar 17,4 juta barel — lonjakan terbesar dalam 3,5 tahun — jauh di atas ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan 1,4 juta b...
Dua kekuatan penopang harga masih bertahan: kebuntuan negosiasi pembukaan kembali Selat Hormuz dan serangan drone yang terus mengancam jalur pelayaran di Teluk dan Bab al Mandab.