Titik krusial perdebatan adalah Federal Risk and Authorization Management Program, atau FedRAMP, sebuah kerangka kerja wajib pemerintah AS untuk mengesahkan layanan awan yang menangani data federal . Oracle Cloud Infrastructure tidak memiliki sertifikasi FedRAMP, dan Oracle menolak untuk mengupayakannya sebagai bagian dari kesepakatan, seperti dilaporkan oleh berbagai media .
Bagi Microsoft, yang melayani beban kerja pemerintahan yang luas melalui platform Azure, ini adalah sebuah "pemecah kesepakatan" . Tanpa FedRAMP, kapasitas apa pun yang disewa dari Oracle akan sia-sia untuk sebagian besar basis pelanggan Microsoft. Kebuntuan ini akhirnya membuat Microsoft mundur dari kesepakatan yang menurut salah satu sumber yang mengetahui diskusi tersebut, bisa bernilai lebih dari $3 miliar .
Negosiasi ini semula berpusat pada rencana untuk memindahkan sebagian beban kerja Microsoft ke Oracle Cloud Infrastructure guna mengurangi tekanan pada Azure, yang tengah kewalahan oleh lonjakan permintaan AI . Microsoft kini masih mengevaluasi opsi sewa lainnya, termasuk dari Amazon Web Services dan Google Cloud, yang keduanya telah memiliki kerangka keamanan pemerintah yang dipersyaratkan .
Oracle langsung merespons laporan Business Insider tersebut. Dalam sebuah pernyataan kepada Reuters, perusahaan itu mengatakan, "Rincian yang disebutkan dalam artikel tersebut tidak akurat. Microsoft adalah mitra dan pelanggan OCI (Oracle Cloud Infrastructure)" . Namun, Oracle tidak memberikan penjelasan tandingan tentang mengapa negosiasi ini gagal, membuat bantahannya lebih bersifat prosedural .
Berita ini mencuat setelah jam perdagangan pasar AS berakhir pada Selasa, 16 Juni 2026, dan langsung memicu aksi jual:
Aksi jual ini lebih besar dari bobot kesepakatan itu sendiri. Para pedagang menyoroti implikasinya: jika Microsoft—salah satu pembelanja infrastruktur AI paling agresif di dunia—sampai mundur dari perjanjian kapasitas multi-miliar dolar karena masalah kepatuhan, maka siklus belanja modal (capital expenditure) para raksasa teknologi mungkin akan menghadapi lebih banyak gesekan dari yang diperkirakan .
Episode Oracle ini hanyalah titik data terbaru dalam kalibrasi ulang belanja infrastruktur AI yang lebih luas. Sebelumnya di tahun 2025, Microsoft telah menghentikan sementara atau menunda proyek pusat data di Inggris, Indonesia, dan beberapa negara bagian AS sambil menilai ulang strategi pembangunannya . Pada Maret 2025, mereka memilih untuk tidak menggunakan opsi tambahan senilai hampir $12 miliar yang terkait dengan kapasitas pusat data tambahan .
Sementara itu, OpenAI melangkah mengisi kekosongan, dengan menandatangani kesepakatan lima tahun bersama Oracle pada Juli 2025 senilai lebih dari $300 miliar, yang secara efektif mengambil alih sebagian besar risiko belanja modal yang selama ini didistribusikan ulang oleh Microsoft .
Jika digabungkan, semua langkah ini menunjukkan bahwa para pemain awan besar kini menjadi lebih selektif tentang bagaimana dan di mana mereka mengamankan kapasitas komputasi—mengedepankan kepatuhan dan disiplin modal di samping skala mentah.
* Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah menggunakan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS untuk memudahkan pembaca.
Titik krusial perdebatan adalah Federal Risk and Authorization Management Program, atau FedRAMP, sebuah kerangka kerja wajib pemerintah AS untuk mengesahkan layanan awan yang menangani data federal . Oracle Cloud Infrastructure tidak memiliki sertifikasi FedRAMP, dan Oracle menolak untuk mengupayakannya sebagai bagian dari kesepakatan, seperti dilaporkan oleh berbagai media .
Bagi Microsoft, yang melayani beban kerja pemerintahan yang luas melalui platform Azure, ini adalah sebuah "pemecah kesepakatan" . Tanpa FedRAMP, kapasitas apa pun yang disewa dari Oracle akan sia-sia untuk sebagian besar basis pelanggan Microsoft. Kebuntuan ini akhirnya membuat Microsoft mundur dari kesepakatan yang menurut salah satu sumber yang mengetahui diskusi tersebut, bisa bernilai lebih dari $3 miliar .
Negosiasi ini semula berpusat pada rencana untuk memindahkan sebagian beban kerja Microsoft ke Oracle Cloud Infrastructure guna mengurangi tekanan pada Azure, yang tengah kewalahan oleh lonjakan permintaan AI . Microsoft kini masih mengevaluasi opsi sewa lainnya, termasuk dari Amazon Web Services dan Google Cloud, yang keduanya telah memiliki kerangka keamanan pemerintah yang dipersyaratkan .
Oracle langsung merespons laporan Business Insider tersebut. Dalam sebuah pernyataan kepada Reuters, perusahaan itu mengatakan, "Rincian yang disebutkan dalam artikel tersebut tidak akurat. Microsoft adalah mitra dan pelanggan OCI (Oracle Cloud Infrastructure)" . Namun, Oracle tidak memberikan penjelasan tandingan tentang mengapa negosiasi ini gagal, membuat bantahannya lebih bersifat prosedural .
Berita ini mencuat setelah jam perdagangan pasar AS berakhir pada Selasa, 16 Juni 2026, dan langsung memicu aksi jual:
Aksi jual ini lebih besar dari bobot kesepakatan itu sendiri. Para pedagang menyoroti implikasinya: jika Microsoft—salah satu pembelanja infrastruktur AI paling agresif di dunia—sampai mundur dari perjanjian kapasitas multi-miliar dolar karena masalah kepatuhan, maka siklus belanja modal (capital expenditure) para raksasa teknologi mungkin akan menghadapi lebih banyak gesekan dari yang diperkirakan .
Episode Oracle ini hanyalah titik data terbaru dalam kalibrasi ulang belanja infrastruktur AI yang lebih luas. Sebelumnya di tahun 2025, Microsoft telah menghentikan sementara atau menunda proyek pusat data di Inggris, Indonesia, dan beberapa negara bagian AS sambil menilai ulang strategi pembangunannya . Pada Maret 2025, mereka memilih untuk tidak menggunakan opsi tambahan senilai hampir $12 miliar yang terkait dengan kapasitas pusat data tambahan .
Sementara itu, OpenAI melangkah mengisi kekosongan, dengan menandatangani kesepakatan lima tahun bersama Oracle pada Juli 2025 senilai lebih dari $300 miliar, yang secara efektif mengambil alih sebagian besar risiko belanja modal yang selama ini didistribusikan ulang oleh Microsoft .
Jika digabungkan, semua langkah ini menunjukkan bahwa para pemain awan besar kini menjadi lebih selektif tentang bagaimana dan di mana mereka mengamankan kapasitas komputasi—mengedepankan kepatuhan dan disiplin modal di samping skala mentah.
* Nilai tukar dolar AS terhadap rupiah menggunakan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS untuk memudahkan pembaca.