Pemicu utamanya bukan bisnis ritel Amazon, melainkan performa Amazon Web Services (AWS). Unit komputasi awan tersebut mencatat pertumbuhan yang jauh lebih cepat dari perkiraan analis, memperkuat keyakinan investor bahwa belanja besar Amazon untuk kecerdasan buatan (AI) mulai membuahkan hasil.
Amazon merilis hasil kuartal II 2026 pada 30 Juli setelah penutupan pasar. Sejumlah angka pentingnya adalah:
Pertumbuhan AWS sebesar 37% juga jauh melampaui perkiraan analis yang berada di kisaran 31% . Selisih tersebut langsung mengubah pandangan pasar terhadap strategi belanja AI Amazon.
Saham Amazon mencatat kenaikan sekitar 14% dalam satu sesi perdagangan, menjadi lonjakan harian terbesar perusahaan dalam empat tahun dan yang terbesar sejak April 2015 .
Menurut estimasi Forbes, reli tersebut mendorong kekayaan Bezos ke kisaran US$271,5–277,2 miliar . Forbes juga mencatat kekayaan Bezos mencapai sekitar US$277,2 miliar pada hari terjadinya lonjakan saham .
Kenaikan itu cukup untuk menempatkan Bezos di atas Sergey Brin dalam daftar orang terkaya dunia. Ia kini berada di belakang Elon Musk dan Bernard Arnault .
Perubahan peringkat ini menunjukkan betapa cepatnya posisi para miliarder dapat bergeser ketika sebagian besar kekayaan mereka terkait dengan kepemilikan saham. Pada awal 2026, Bezos sempat turun ke posisi keempat ketika pendiri Google menguat berkat optimisme investor terhadap AI .
CEO Amazon Andy Jassy mengatakan perusahaan berencana membelanjakan US$220 miliar untuk belanja modal pada 2026, terutama untuk membangun infrastruktur AI. Menurut Jassy, jumlah tersebut bahkan belum cukup untuk memenuhi permintaan kapasitas yang terus melonjak .
Besarnya angka ini menjadi pusat perdebatan di industri teknologi besar.
Hasil kuartal II Amazon untuk sementara meredam kekhawatiran mengenai potensi pemborosan investasi AI. Pertumbuhan AWS yang melampaui ekspektasi memberi sinyal bahwa kapasitas komputasi dan layanan AI memang menghasilkan pendapatan yang meningkat.
Namun, pertanyaan besarnya belum terjawab: kapan belanja AI akan benar-benar menghasilkan margin yang lebih tinggi? Dilema antara membelanjakan dana besar agar tidak tertinggal dan menjaga agar investasi tetap menguntungkan kini juga dihadapi Microsoft, Google, serta perusahaan teknologi lain yang membangun pusat data dan infrastruktur AI dalam skala besar.