Harga emas sempat turun ke sekitar $4.470 per ons—level terendah dalam sekitar tujuh minggu—karena imbal hasil obligasi AS naik dan dolar menguat.[33] Imbal hasil yang lebih tinggi membuat aset berbunga seperti obligasi lebih menarik dibanding emas, sementara dolar kuat membuat emas lebih mahal bagi pembeli global.[...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What caused gold prices to drop to a 7‑week low before rebounding on Wednesday, how did rising U.S. Treasury yields and a stronger dollar af. Article summary: Gold fell to a roughly seven-week, or 1-1/2-month, low because higher U.S. Treasury yields and a firmer dollar outweighed optimism about a possible U.S.–Iran peace agreement, before later rebounding as investors focused . Topic tags: general, general web. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "May be an image of money and text that says 'N nation THE JULY Gold slides as investors switch to dollar amid war-driven inflation fears @thenationthailand'" source context "Gold fell sharply on March 3, 2026, as the US dollar and ..." Reference image 2: visual subject "When bond yields rise, gold tends to lose some appeal since
Harga emas bergerak sangat volatil selama sepekan terakhir. Logam mulia ini sempat jatuh ke level terendah dalam sekitar tujuh minggu sebelum akhirnya bangkit kembali, mencerminkan betapa sensitifnya pasar emas terhadap perubahan suku bunga, pergerakan mata uang, dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Harga emas sempat turun ke sekitar $4.470 per ons, level terendah sejak akhir Maret. Penurunan ini terutama dipicu oleh naiknya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (U.S. Treasury) serta menguatnya dolar AS.
Kenaikan imbal hasil obligasi biasanya mengurangi daya tarik emas. Berbeda dengan obligasi atau deposito, emas tidak memberikan bunga atau imbal hasil tetap. Ketika yield obligasi naik, sebagian investor cenderung memindahkan dana mereka ke aset berbunga yang dianggap lebih menguntungkan.
Pada saat yang sama, penguatan dolar AS turut menekan harga emas. Karena emas diperdagangkan secara global dalam dolar, penguatan mata uang ini membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Dampaknya, permintaan internasional bisa melemah.
Kekhawatiran inflasi dan ekspektasi bahwa suku bunga bisa tetap tinggi lebih lama juga mendorong kenaikan yield dan dolar—dua faktor yang secara historis menekan harga emas.
Setelah menyentuh level terendah, harga emas mulai stabil dan berbalik naik. Salah satu pemicunya adalah meningkatnya perhatian pasar terhadap kemungkinan kemajuan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.
Komentar Presiden AS Donald Trump yang mengisyaratkan bahwa negosiasi dengan Iran menunjukkan kemajuan membantu memperbaiki sentimen pasar dan meredakan sebagian kekhawatiran inflasi terkait konflik tersebut.
Ketika harapan terhadap kesepakatan meningkat, dolar AS melemah dan investor kembali membeli emas.
Biasanya, emas cenderung menguat ketika dolar melemah karena menjadi lebih murah bagi pembeli di luar Amerika Serikat. Perubahan di pasar mata uang tersebut—ditambah ketidakpastian geopolitik—mendorong pemulihan harga setelah menyentuh level terendah multi‑minggu.
Ketidakpastian terkait konflik Iran juga meningkatkan volatilitas di berbagai pasar keuangan.
Pasar sangat memperhatikan potensi gangguan terhadap jalur pengiriman energi utama seperti Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur perdagangan minyak paling penting di dunia.
Jika ketegangan meningkat, harga minyak biasanya ikut naik. Kenaikan harga energi dapat memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong ekspektasi suku bunga lebih tinggi. Kombinasi ini dapat sementara menekan emas melalui kenaikan yield dan penguatan dolar.
Sebaliknya, tanda-tanda kemajuan diplomatik dapat menurunkan kekhawatiran inflasi, melemahkan dolar, dan akhirnya mendukung harga emas.
Akibatnya, setiap berita tentang negosiasi, ancaman militer, atau potensi gencatan senjata dapat memicu pergerakan cepat di pasar emas, minyak, obligasi, dan mata uang.
Perak bergerak searah dengan emas tetapi mengalami volatilitasnya sendiri. Dalam periode yang sama, harga perak turun di bawah sekitar $75 per ons di tengah ketegangan geopolitik dan ekspektasi bahwa suku bunga dapat bertahan tinggi lebih lama.
Berbeda dengan emas yang terutama berfungsi sebagai aset lindung nilai, perak juga banyak digunakan dalam industri. Karena itu, pergerakan harganya sering dipengaruhi oleh kombinasi permintaan industri dan sentimen investor, yang terkadang menghasilkan fluktuasi lebih tajam.
Meski terjadi koreksi jangka pendek, sejumlah lembaga keuangan besar masih optimistis terhadap prospek emas dalam jangka panjang.
Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga emas menjadi sekitar $5.400 per ons pada akhir 2026, dengan alasan permintaan investasi yang kuat dan pembelian oleh bank sentral yang ingin mendiversifikasi cadangan mereka.
Sementara itu, Citi Research memproyeksikan harga emas dapat mendekati $5.000 per ons dalam jangka lebih pendek, didorong oleh risiko geopolitik, permintaan investasi, serta pembelian berkelanjutan oleh bank sentral.
Walaupun proyeksi antarbank berbeda, banyak analis menilai penurunan harga baru-baru ini sebagai koreksi sementara dalam tren kenaikan yang lebih luas.
Penurunan emas ke level terendah tujuh minggu terutama dipicu faktor makroekonomi: kenaikan imbal hasil obligasi AS dan penguatan dolar. Pemulihan kemudian terjadi ketika dolar melemah dan pasar kembali fokus pada perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Selama ekspektasi suku bunga, pergerakan mata uang, dan dinamika geopolitik di Timur Tengah terus berubah, harga emas kemungkinan tetap bergerak volatil dalam jangka pendek—meskipun banyak analis masih melihat prospek jangka panjang yang positif.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Harga emas sempat turun ke sekitar $4.470 per ons—level terendah dalam sekitar tujuh minggu—karena imbal hasil obligasi AS naik dan dolar menguat.[33]
Harga emas sempat turun ke sekitar $4.470 per ons—level terendah dalam sekitar tujuh minggu—karena imbal hasil obligasi AS naik dan dolar menguat.[33] Imbal hasil yang lebih tinggi membuat aset berbunga seperti obligasi lebih menarik dibanding emas, sementara dolar kuat membuat emas lebih mahal bagi pembeli global.[2][33]
Beberapa bank besar tetap optimistis: Goldman Sachs memproyeksikan emas sekitar $5.400 per ons pada akhir 2026, sementara Citi memperkirakan sekitar $5.000 dalam jangka lebih dekat.[22][29]