Instalasi panel surya domestik China anjlok 79% (year on year) pada April 2026 menjadi hanya 9,52 GW [2], terimbas penghentian tarif 'feed in' dan kelesuan pasca boom [6]. Ekspor solar China pada Maret 2026 justru menembus rekor 68 GW, dua kali lipat bulan sebelumnya dan setara dengan total kapasitas panel surya Spa...

Create a landscape editorial hero image for this Studio Global article: What caused China's solar installations to plunge 79% year-on-year in April 2026 to just 9.52 GW even as its solar exports hit a record 68 G. Article summary: ## The April 2026 Collapse Was Driven by a Policy Hangover, Not Weak Demand. Topic tags: general, general web, user generated. Reference image context from search candidates: Reference image 1: visual subject "# China’s solar exports reach “gigantic” record in March as energy crisis bites. **China exported a record amount of solar components and photovoltaic panels last month, signalling" source context "China's solar exports reach "gigantic" record in March as ..." Reference image 2: visual subject "# China’s solar exports reach “gigantic” record in March as energy crisis bites. **China exported a record amount of solar components and photovoltaic panels last
Industri surya China sedang menampilkan momen paradoks yang dramatis. Pada April 2026, instalasi panel surya domestik anjlok 79% secara tahunan menjadi hanya 9,52 gigawatt (GW), berdasarkan data dari Administrasi Energi Nasional China . Bandingkan dengan April 2025, ketika pengembang secara agresif memasang 45 GW untuk mengejar tenggat waktu kebijakan
. Sementara itu, pada bulan Maret, ekspor produk surya China justru mencatat rekor tertinggi sepanjang masa: 68 GW—dua kali lipat dari volume Februari dan 49% lebih tinggi dari rekor sebelumnya
. Kekuatan struktural yang sama tengah mendinginkan pasar domestik dan menyulut ekspor, menciptakan apa yang tampak sebagai kontradiksi namun sesungguhnya adalah cerita yang padu tentang kebijakan, kelebihan kapasitas, dan geografi permintaan energi global.
Penyebab utama keruntuhan domestik sangat lugas: era tarif feed-in yang dijamin telah berakhir. Pada 1 Juni 2025, China secara resmi beralih dari skema subsidi harga tetap untuk proyek surya baru ke sistem harga berbasis pasar . Proyek yang beroperasi setelah tanggal tersebut harus menjual listrik melalui transaksi pasar alih-alih mengandalkan harga yang dijamin, yang secara signifikan mengubah keekonomian bagi para pengembang
.
Kapasitas 45 GW yang terpasang pada April 2025 bukanlah cerminan permintaan normal—itu adalah aksi borong penyelesaian proyek sebelum jendela subsidi ditutup . Pengembang menarik ke depan (front-load) jalur proyek mereka ke 2025, berkontribusi pada tahun rekor sekitar 317 GW kapasitas surya baru
. Dengan tenggat itu kini berlalu, jalur pemasangan di 2026 mencerminkan penilaian yang lebih realistis terhadap laba proyek di bawah aturan baru
.
Hasilnya adalah empat bulan berturut-turut penurunan instalasi tahunan hingga April 2026 . Asosiasi Industri Fotovoltaik China (CPIA) memperkirakan total instalasi 2026 akan mendarat di antara 180 dan 240 GW, turun 24% hingga 43% dari 2025, dan menandai kontraksi tahunan pertama sejak 2019
.
Kendala jaringan dan harga modul yang terus turun menambah keraguan. Setelah bertahun-tahun pembangunan yang pesat, beberapa wilayah menghadapi risiko pembatasan (curtailment) dan keterbatasan kapasitas transmisi, sementara penurunan harga yang persisten menciptakan sikap “tunggu dan lihat” di antara beberapa pengembang .
Saat pasar domestik mendingin, pabrikan China menghadapi masalah berbeda: mereka memiliki kapasitas produksi yang jauh lebih besar dari yang bisa diserap pasar mana pun. Kapasitas manufaktur surya China berada di kisaran 1.200 GW hingga 1.400 GW—sekitar dua kali lipat dari permintaan global tahunan sekitar 700 GW . Kapasitas polisilikon, wafer, sel, dan modul semuanya membengkak, mencapai level 3 hingga 6 kali lebih tinggi dibanding akhir rencana lima tahun sebelumnya
.
Dengan melambatnya instalasi domestik, ekspor menjadi katup pelepas tekanan utama. Pada Maret 2026, katup itu terbuka lebar: 68 GW produk surya meninggalkan China dalam satu bulan, setara dengan total kapasitas panel surya terpasang di Spanyol .
Impor Afrika dari China melonjak 176% dari bulan ke bulan menjadi 10 GW, sementara Asia menyerap 39 GW—keduanya adalah rekor baru . Permintaan Nigeria sendiri melonjak 519%, dengan Kenya naik 207% dan Ethiopia 391%
. Dalam angka absolut, India memimpin dengan 6,6 GW impor surya dari China di bulan itu
. Tren ini bertahan hingga April, di mana ekspor sel dan panel surya China ke Afrika masih naik 83% secara tahunan dan ekspor ke Asia Tenggara naik 75%, bahkan setelah penghapusan pengembalian pajak ekspor pada 1 April
.
Lonjakan ini tidak murni mengenai permintaan organik. Berakhirnya pengembalian PPN (Pajak Pertambahan Nilai) ekspor pada 1 April kemungkinan mendorong sebagian pengiriman ke Maret, berkontribusi pada rekor . Tetapi kekuatan berkelanjutan di bulan April menunjukkan adanya permintaan riil yang mendasar, terutama dari negara-negara yang menghadapi biaya bahan bakar fosil tinggi di tengah krisis energi Hormuz yang dilaporkan
. Ember, lembaga pemikir energi berbasis di Inggris, mencatat bahwa wilayah yang “paling terpengaruh” oleh krisis energi mengalami kenaikan permintaan paling tajam untuk produk surya China
.
Divergensi ini bersifat struktural, bukan siklus. Pasar domestik China sedang memasuki fase pricing reset pasca-boom, mencerna dampak dari aksi borong pemasangan yang didorong kebijakan dan menarik permintaan masa depan ke 2025. Pada saat yang sama, mesin manufaktur raksasa negara itu beroperasi jauh melampaui apa yang bisa diserap pasar domestik, mendorong peralatan ke pasar luar negeri mana pun di mana permintaan ada.
Permintaan itu tumbuh paling cepat di Afrika dan negara berkembang Asia, di mana panel surya China yang murah menawarkan jalan langsung menjauh dari impor bahan bakar fosil yang mahal dan rentan secara geopolitik. Kombinasi kelebihan kapasitas China dan permintaan energi dunia berkembang telah menciptakan jalur pipa ekspor yang kini menggerakkan volume pada skala yang sebelumnya dianggap mustahil.
Bagi pasar global, implikasinya jelas: bahkan ketika angka instalasi surya domestik China turun, perannya sebagai pabrik surya dunia semakin mendalam. Keruntuhan di April dan rekor ekspor di Maret bukanlah sinyal yang berlawanan—mereka adalah dua sisi dari penyesuaian yang sama.
Studio Global AI
Use this topic as a starting point for a fresh source-backed answer, then compare citations before you share it.
Instalasi panel surya domestik China anjlok 79% (year on year) pada April 2026 menjadi hanya 9,52 GW [2], terimbas penghentian tarif 'feed in' dan kelesuan pasca boom [6].
Instalasi panel surya domestik China anjlok 79% (year on year) pada April 2026 menjadi hanya 9,52 GW [2], terimbas penghentian tarif 'feed in' dan kelesuan pasca boom [6]. Ekspor solar China pada Maret 2026 justru menembus rekor 68 GW, dua kali lipat bulan sebelumnya dan setara dengan total kapasitas panel surya Spanyol [19][23].
Kehadiran krisis energi global membuat permintaan dari Afrika dan Asia Tenggara memuncak; impor Afrika dari China naik 176% dalam sebulan [23].