Pada Rabu, 12 Agustus, IEA dan OPEC secara bersamaan memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global mereka untuk 2026. IEA kini memperkirakan permintaan minyak global justru akan berkontraksi (menyusut), memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah dan harga yang lebih tinggi semakin membebani konsumsi . Sementara itu, OPEC menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak dunia menjadi 580.000 barel per hari, dengan alasan gangguan dari perang AS-Israel di Iran
.
Efek gabungan dari kedua laporan ini pada hari Kamis adalah penilaian ulang pasar: premi risiko geopolitik yang telah mendorong Brent mendekati US$90 seketika mentok dan berbalik arah saat realitas sisi permintaan yang suram mulai dihitung.
Rilis Indeks Harga Produsen (PPI) Juli dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) pada hari Kamis menambah lapisan bukti bearish ketiga. PPI headline tidak berubah (flat) secara bulanan (month-on-month), di bawah konsensus 0,2%. Laju tahunan (year-on-year) mendingin menjadi 4,7% dari 5,5% pada Juni .
Penurunan ini terutama didorong oleh harga energi yang melemah signifikan:
Runtuhnya harga grosir produk olahan ini menunjukkan pasokan bahan bakar yang berlimpah dan permintaan pengguna akhir yang lesu. Hal ini pada akhirnya berimbas pada penurunan permintaan minyak mentah di kilang-kilang. Data PPI juga mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada bulan September, yang secara umum positif bagi aset berisiko. Namun, penurunan tajam harga bahan bakar dalam PPI justru memperkuat narasi pelemahan permintaan untuk produk hilir minyak mentah .
Selat Hormuz tetap menjadi risiko geopolitik sentral. Upaya diplomatik untuk membuka kembali jalur air vital ini dan mengakhiri perang AS-Israel di Iran terus berlanjut, namun seorang sumber senior Iran mengatakan pada hari Rabu bahwa tidak ada kemajuan dalam perundingan dan kedua belah pihak masih menemui jalan buntu .
Meski begitu, minyak mentah masih terus mengalir melalui selat tersebut, dengan beberapa kapal tanker bahkan berlayar tanpa menyalakan transponder demi menghindari deteksi . Para trader memperhitungkan kemungkinan blokade total yang lebih rendah karena aliran fisik belum terhenti, namun premi risiko pasokan masih tetap ada. Laporan pada hari Kamis bahwa Houthi Yaman menargetkan sebuah kilang Saudi Aramco dengan drone sempat sedikit memangkas kerugian minyak, mengingatkan pasar betapa cepatnya fundamental geopolitik bisa kembali menguat
.
Untuk saat ini, hambatan dari sisi permintaan — surplus inventaris AS, pemangkasan proyeksi IEA dan OPEC, serta turunnya harga produk olahan — lebih dominan daripada premi risiko pasokan, menjaga Brent tetap di bawah US$88. Katalis berikutnya yang ditunggu pasar adalah perubahan arus transit di Selat Hormuz serta data CPI dan penjualan ritel AS bulan Agustus yang akan dirilis pada Jumat, 14 Agustus. Penurunan harga bahan bakar yang berkelanjutan akan memperkuat narasi demand destruction (kehancuran permintaan), sementara eskalasi di sekitar Selat Hormuz dapat dengan cepat mengembalikan premi risiko dan mendorong Brent kembali menuju US$90.