Pergerakan ini bukan sekadar kebisingan pasar. Data tersebut mengarah pada pola rotasi sektor: sebagian investor memindahkan modal dari aset kripto utama ke proyek yang dianggap memiliki hubungan lebih jelas dengan infrastruktur AI dan utilitas dunia nyata.
Penurunan Bitcoin dipicu oleh beberapa tekanan yang muncul secara bersamaan.
Ketika Bitcoin menghadapi masalah likuiditas dan sentimen, modal mengalir ke aset yang menawarkan narasi berbeda: pertumbuhan infrastruktur AI.
Pengajuan penawaran umum perdana (IPO) oleh perusahaan AI Anthropic, ditambah pengumuman baru Nvidia terkait infrastruktur AI, memperkuat optimisme terhadap sektor tersebut. Token yang dianggap memiliki kaitan dengan pembangunan ekosistem AI ikut memperoleh dorongan naratif.
NEAR Protocol, misalnya, mencatat volume perdagangan 24 jam lebih dari US$1 miliar. Worldcoin dan sejumlah aset terkait AI juga mengalami lonjakan aktivitas perdagangan .
Sebagian investor tampaknya memindahkan dana dari ETF Bitcoin dan aset kripto besar menuju token bertema AI. Dalam kondisi pasar yang cenderung menghindari risiko, mereka mencari segmen yang dianggap memiliki katalis pertumbuhan jangka panjang dan potensi arus kas atau penggunaan yang lebih nyata .
Dalam konteks ini, AI dipandang sebagai tren struktural jangka panjang yang tidak sepenuhnya bergantung pada pergerakan likuiditas Bitcoin. Karena itu, token AI sempat menjadi semacam tempat berlindung relatif bagi modal yang tetap ingin mengambil risiko di pasar kripto .
Kenaikan NEAR juga diperkuat faktor teknis. Harga token ini melonjak sekitar 54% dalam sepekan, salah satunya karena penjual short dipaksa membeli kembali posisi mereka. Proses tersebut menyerap jutaan dolar likuidasi dan menciptakan tekanan beli tambahan .
Narasi spesifik mengenai produk chain abstraction, minat institusional, serta produk NEAR Staking ETP dari Bitwise turut memberi katalis di luar tren AI secara umum .
Perbedaan antara kinerja Bitcoin dan token AI pada periode tersebut dapat dibaca sebagai tanda bahwa sebagian investor mulai menilai proyek kripto berdasarkan fungsi infrastrukturnya, bukan hanya posisinya sebagai aset moneter.
Investor semakin membedakan tesis Bitcoin sebagai penyimpan nilai dari token yang digunakan untuk menjalankan infrastruktur tertentu. Contohnya meliputi:
Proyek-proyek tersebut mulai dinilai berdasarkan aktivitas pengembang, volume inferensi, permintaan komputasi, dan penggunaan jaringan—bukan semata-mata berdasarkan korelasinya dengan Bitcoin .
Alokasi modal ventura ke perusahaan rintisan yang menggabungkan AI dan kripto mencapai 40% dari seluruh pendanaan modal ventura kripto pada 2025, naik dari 18% pada tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan adanya keyakinan jangka panjang terhadap konvergensi AI dan blockchain .
Jika token AI mampu terus diperdagangkan berdasarkan fundamentalnya sendiri, ketergantungan terhadap pergerakan Bitcoin dapat berkurang. Dalam teori, ini menandakan kelas aset kripto yang semakin matang: proyek dengan utilitas kuat dapat menarik likuiditas secara mandiri .
Faktor ekonominya juga mulai terlihat. Untuk jenis beban kerja AI tertentu, jaringan GPU terdesentralisasi disebut dapat menawarkan penghematan biaya sekitar 60–90% dibandingkan penyedia cloud tradisional seperti AWS dan Azure . Jika angka tersebut bertahan dalam penggunaan nyata, permintaan terhadap komputasi terdesentralisasi tidak hanya bersumber dari spekulasi token, tetapi juga dari insentif bisnis yang konkret.
Rotasi modal ke token AI tidak berarti aset-aset tersebut aman. Korelasi antara saham AI dan token kripto AI masih diperkirakan mencapai 92%. Artinya, koreksi tajam pada saham teknologi berpotensi menular ke aset kripto yang memiliki narasi serupa .
Peristiwa DeepSeek pada Januari 2025 juga menjadi pengingat penting. Munculnya model AI berbiaya rendah mengguncang asumsi bahwa pertumbuhan AI selalu membutuhkan komputasi mahal. Jika terobosan efisiensi kembali menekan permintaan GPU atau mengubah ekspektasi industri, valuasi token yang bergantung pada narasi komputasi mahal dapat ikut terkoreksi .
Kekhawatiran investor pun nyata. Dalam survei yang dirujuk pada awal 2026, sebanyak 54% investor menyatakan takut terhadap gelembung AI. Meski demikian, sejumlah analis melihat perbedaan dari era dot-com: pembangunan infrastruktur AI saat ini banyak dibiayai arus kas perusahaan teknologi besar yang sudah menguntungkan, bukan terutama utang spekulatif .
Peristiwa awal Juni 2025 menunjukkan bahwa pasar kripto mulai belajar membedakan antara hype dan utilitas. Ketika Bitcoin melemah, proyek yang terhubung dengan komputasi GPU, blockchain untuk aplikasi AI, dan inferensi on-chain mampu menarik perhatian serta likuiditasnya sendiri.
Namun, decoupling tersebut belum sepenuhnya mapan. Token AI masih sangat sensitif terhadap sentimen saham teknologi dan perubahan ekspektasi terhadap industri AI. Tantangan bagi investor bukan sekadar menemukan proyek dengan narasi paling menarik, melainkan memastikan bahwa aktivitas on-chain, pendapatan, penggunaan jaringan, dan permintaan komputasinya benar-benar mendukung valuasi tersebut sebelum korelasi pasar kembali muncul.
Pergerakan ini bukan sekadar kebisingan pasar. Data tersebut mengarah pada pola rotasi sektor: sebagian investor memindahkan modal dari aset kripto utama ke proyek yang dianggap memiliki hubungan lebih jelas dengan infrastruktur AI dan utilitas dunia nyata.
Penurunan Bitcoin dipicu oleh beberapa tekanan yang muncul secara bersamaan.
Ketika Bitcoin menghadapi masalah likuiditas dan sentimen, modal mengalir ke aset yang menawarkan narasi berbeda: pertumbuhan infrastruktur AI.
Pengajuan penawaran umum perdana (IPO) oleh perusahaan AI Anthropic, ditambah pengumuman baru Nvidia terkait infrastruktur AI, memperkuat optimisme terhadap sektor tersebut. Token yang dianggap memiliki kaitan dengan pembangunan ekosistem AI ikut memperoleh dorongan naratif.
NEAR Protocol, misalnya, mencatat volume perdagangan 24 jam lebih dari US$1 miliar. Worldcoin dan sejumlah aset terkait AI juga mengalami lonjakan aktivitas perdagangan .
Sebagian investor tampaknya memindahkan dana dari ETF Bitcoin dan aset kripto besar menuju token bertema AI. Dalam kondisi pasar yang cenderung menghindari risiko, mereka mencari segmen yang dianggap memiliki katalis pertumbuhan jangka panjang dan potensi arus kas atau penggunaan yang lebih nyata .
Dalam konteks ini, AI dipandang sebagai tren struktural jangka panjang yang tidak sepenuhnya bergantung pada pergerakan likuiditas Bitcoin. Karena itu, token AI sempat menjadi semacam tempat berlindung relatif bagi modal yang tetap ingin mengambil risiko di pasar kripto .
Kenaikan NEAR juga diperkuat faktor teknis. Harga token ini melonjak sekitar 54% dalam sepekan, salah satunya karena penjual short dipaksa membeli kembali posisi mereka. Proses tersebut menyerap jutaan dolar likuidasi dan menciptakan tekanan beli tambahan .
Narasi spesifik mengenai produk chain abstraction, minat institusional, serta produk NEAR Staking ETP dari Bitwise turut memberi katalis di luar tren AI secara umum .
Perbedaan antara kinerja Bitcoin dan token AI pada periode tersebut dapat dibaca sebagai tanda bahwa sebagian investor mulai menilai proyek kripto berdasarkan fungsi infrastrukturnya, bukan hanya posisinya sebagai aset moneter.
Investor semakin membedakan tesis Bitcoin sebagai penyimpan nilai dari token yang digunakan untuk menjalankan infrastruktur tertentu. Contohnya meliputi:
Proyek-proyek tersebut mulai dinilai berdasarkan aktivitas pengembang, volume inferensi, permintaan komputasi, dan penggunaan jaringan—bukan semata-mata berdasarkan korelasinya dengan Bitcoin .
Alokasi modal ventura ke perusahaan rintisan yang menggabungkan AI dan kripto mencapai 40% dari seluruh pendanaan modal ventura kripto pada 2025, naik dari 18% pada tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan adanya keyakinan jangka panjang terhadap konvergensi AI dan blockchain .
Jika token AI mampu terus diperdagangkan berdasarkan fundamentalnya sendiri, ketergantungan terhadap pergerakan Bitcoin dapat berkurang. Dalam teori, ini menandakan kelas aset kripto yang semakin matang: proyek dengan utilitas kuat dapat menarik likuiditas secara mandiri .
Faktor ekonominya juga mulai terlihat. Untuk jenis beban kerja AI tertentu, jaringan GPU terdesentralisasi disebut dapat menawarkan penghematan biaya sekitar 60–90% dibandingkan penyedia cloud tradisional seperti AWS dan Azure . Jika angka tersebut bertahan dalam penggunaan nyata, permintaan terhadap komputasi terdesentralisasi tidak hanya bersumber dari spekulasi token, tetapi juga dari insentif bisnis yang konkret.
Rotasi modal ke token AI tidak berarti aset-aset tersebut aman. Korelasi antara saham AI dan token kripto AI masih diperkirakan mencapai 92%. Artinya, koreksi tajam pada saham teknologi berpotensi menular ke aset kripto yang memiliki narasi serupa .
Peristiwa DeepSeek pada Januari 2025 juga menjadi pengingat penting. Munculnya model AI berbiaya rendah mengguncang asumsi bahwa pertumbuhan AI selalu membutuhkan komputasi mahal. Jika terobosan efisiensi kembali menekan permintaan GPU atau mengubah ekspektasi industri, valuasi token yang bergantung pada narasi komputasi mahal dapat ikut terkoreksi .
Kekhawatiran investor pun nyata. Dalam survei yang dirujuk pada awal 2026, sebanyak 54% investor menyatakan takut terhadap gelembung AI. Meski demikian, sejumlah analis melihat perbedaan dari era dot-com: pembangunan infrastruktur AI saat ini banyak dibiayai arus kas perusahaan teknologi besar yang sudah menguntungkan, bukan terutama utang spekulatif .
Peristiwa awal Juni 2025 menunjukkan bahwa pasar kripto mulai belajar membedakan antara hype dan utilitas. Ketika Bitcoin melemah, proyek yang terhubung dengan komputasi GPU, blockchain untuk aplikasi AI, dan inferensi on-chain mampu menarik perhatian serta likuiditasnya sendiri.
Namun, decoupling tersebut belum sepenuhnya mapan. Token AI masih sangat sensitif terhadap sentimen saham teknologi dan perubahan ekspektasi terhadap industri AI. Tantangan bagi investor bukan sekadar menemukan proyek dengan narasi paling menarik, melainkan memastikan bahwa aktivitas on-chain, pendapatan, penggunaan jaringan, dan permintaan komputasinya benar-benar mendukung valuasi tersebut sebelum korelasi pasar kembali muncul.