Gencatan senjata sementara pertama kali dicapai pada 8 April 2026 di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan aktor regional lainnya. Kesepakatan awal—yang dimediasi Pakistan—menghentikan pertempuran langsung selama dua minggu dan membuka jalur diplomasi antara Washington dan Teheran.
Sejak itu, fokus perundingan bukan pada perjanjian damai final, melainkan memperpanjang masa gencatan senjata agar ada waktu untuk merundingkan isu yang jauh lebih kompleks, terutama program nuklir Iran dan keamanan jalur pelayaran di Teluk Persia.
Laporan terbaru menyebut para mediator percaya kedua pihak hampir sepakat pada perpanjangan 60 hari yang disertai memorandum of understanding (MoU) sebagai kerangka untuk tahap negosiasi berikutnya.
Detailnya belum diumumkan secara resmi, tetapi laporan media yang mengutip pejabat yang mengetahui pembicaraan tersebut menggambarkan beberapa komponen utama.
Salah satu poin paling penting adalah pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap. Jalur laut sempit ini merupakan salah satu rute energi paling penting di dunia karena sebagian besar pengiriman minyak global melewatinya.
Selama konflik, lalu lintas di selat ini terganggu akibat pembatasan dan blokade dari kedua pihak. Karena itu, pemulihan kebebasan navigasi menjadi prioritas utama bagi Amerika Serikat dan sekutunya.
Kompromi yang dilaporkan adalah membuka kembali jalur pelayaran secara bertahap sebagai bagian dari perpanjangan gencatan senjata, bukan menunggu sampai tercapai perjanjian damai penuh.
Elemen penting lainnya adalah dimulainya diskusi tentang nasib cadangan uranium yang diperkaya tinggi (highly enriched uranium/HEU) milik Iran.
Beberapa opsi yang dilaporkan sedang dibahas meliputi:
Topik ini diperkirakan menjadi bagian dari kerangka negosiasi yang lebih luas mengenai program nuklir Iran.
Namun isu uranium tetap menjadi salah satu perselisihan terbesar. Pejabat AS menegaskan Iran tidak boleh mempertahankan bahan yang dapat digunakan untuk senjata nuklir, sementara pemerintah Iran menolak tuntutan yang dianggap menghilangkan haknya menjalankan program nuklir sipil.
Sebagai imbalan atas langkah Iran terkait keamanan maritim dan isu nuklir, Washington dilaporkan mempertimbangkan keringanan ekonomi terbatas.
Langkah yang disebut dalam laporan meliputi:
Beberapa laporan bahkan menyebut sebagian dana Iran yang dibekukan dapat dilepaskan secara bertahap jika gencatan senjata tetap dipatuhi.
Namun media yang dekat dengan pemerintah Iran menyatakan Teheran masih menilai proposal AS belum menawarkan konsesi yang cukup nyata untuk mendorong kompromi besar dari pihak Iran.
Dalam proses diplomasi ini, Pakistan muncul sebagai mediator paling menonjol. Negara tersebut menjadi tuan rumah pembicaraan dan menyampaikan berbagai proposal antara Washington dan Teheran.
Selain Pakistan, sejumlah negara kawasan—termasuk Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab—dilaporkan turut melakukan diplomasi di balik layar untuk mendorong de‑eskalasi dan mencegah konflik meluas di Timur Tengah.
Kontak diplomatik dan diplomasi "shuttle" dari negara‑negara ini membantu mempersempit perbedaan dan menjaga pembicaraan tetap berjalan menuju kesepakatan sementara.
Walaupun ada tanda‑tanda kemajuan, beberapa isu tetap menjadi titik kebuntuan.
Washington menganggap pembukaan kembali selat tersebut tidak dapat ditawar karena dampaknya pada ekonomi global. Iran, sebaliknya, menggunakan kendali atas jalur tersebut sebagai alat tawar utama dalam negosiasi.
AS menekankan perlunya menghilangkan atau memindahkan uranium yang diperkaya tinggi dari Iran. Teheran berargumen bahwa negara itu memiliki hak untuk mempertahankan program nuklirnya.
Iran menginginkan pencabutan sanksi yang signifikan serta akses ke miliaran dolar aset yang dibekukan di luar negeri. Namun sejauh ini negosiator AS hanya memberi sinyal keringanan bertahap atau terbatas yang bergantung pada langkah Iran dalam kesepakatan.
Perbedaan lain adalah apakah isu nuklir harus diselesaikan segera atau dapat ditunda ke tahap negosiasi berikutnya setelah perpanjangan gencatan senjata diberlakukan.
Perundingan berlangsung di bawah bayang‑bayang kemungkinan kembalinya aksi militer jika diplomasi gagal. Laporan media menyebut Amerika Serikat mempertimbangkan serangan baru terhadap target Iran jika negosiasi runtuh.
Di sisi lain, pejabat AS juga mengatakan ancaman tersebut menjadi salah satu alasan mengapa eskalasi militer ditunda sementara pembicaraan serius masih berlangsung.
Jika perpanjangan ini benar‑benar disepakati, itu tetap hanya langkah sementara menuju penyelesaian yang lebih besar.
Kerangka yang dilaporkan menunjukkan pendekatan bertahap: menstabilkan situasi keamanan, membuka kembali jalur perdagangan maritim penting, lalu memulai negosiasi lebih mendalam tentang program nuklir Iran dan keamanan kawasan.
Apakah isu‑isu besar tersebut bisa diselesaikan masih belum jelas. Untuk saat ini, perpanjangan 60 hari dipandang lebih sebagai jembatan diplomatik yang rapuh—sebuah upaya mencegah konflik kembali meledak sambil memberi waktu bagi negosiator untuk menangani persoalan paling sulit.