3. Penghentian blokade laut oleh AS
Iran juga menuntut diakhirinya blokade maritim Amerika Serikat yang berdampak pada perdagangan Iran. Ketegangan militer di kawasan Teluk Persia—terutama di sekitar Selat Hormuz—telah mengganggu jalur pelayaran internasional.
4. Penarikan pasukan AS dari wilayah dekat Iran
Proposal tersebut meminta penarikan pasukan Amerika dari area yang dianggap berada di sekitar wilayah pengaruh Iran. Menurut pejabat Iran, langkah ini penting sebagai jaminan keamanan untuk mencegah eskalasi konflik di masa depan.
5. Reparasi perang
Teheran juga menuntut kompensasi finansial atas kerusakan yang ditimbulkan selama konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Media pemerintah Iran menggambarkannya sebagai ganti rugi atas kehancuran akibat perang.
Secara keseluruhan, analis menyebut proposal ini sebagai pendekatan "maksimalis"—yakni paket tuntutan besar yang menggabungkan penghentian perang dengan konsesi ekonomi dan politik yang signifikan dari pihak Washington.
Tak lama setelah proposal Iran disampaikan melalui jalur diplomatik, Presiden Donald Trump langsung menolaknya di media sosial dengan menyebutnya “TOTALLY UNACCEPTABLE.”
Penolakan tersebut menunjukkan betapa jauhnya posisi kedua pihak. Amerika Serikat juga disebut masih menyoroti isu lain, termasuk program nuklir Iran dan keamanan regional yang belum sepenuhnya dijawab dalam proposal Teheran.
Akibatnya, peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat semakin kecil, dan negosiasi berada dalam kondisi sangat rapuh.
Karena hubungan diplomatik langsung antara Washington dan Teheran sangat terbatas, Pakistan memainkan peran penting sebagai mediator.
Islamabad menjadi jalur komunikasi yang menyampaikan proposal dan tanggapan dari kedua pihak. Negara tersebut juga pernah menjadi tuan rumah satu-satunya putaran pembicaraan langsung antara Iran dan Amerika Serikat dalam konflik ini.
Meski begitu, laporan menunjukkan bahwa proposal terbaru Iran masih mirip dengan tawaran sebelumnya yang sudah pernah ditolak Washington, sehingga sulit bagi kedua pihak untuk menemukan titik temu.
Kebuntuan diplomatik ini langsung terasa di pasar energi dunia. Salah satu faktor utama adalah Selat Hormuz—jalur laut sempit antara Iran dan Oman—yang menjadi salah satu rute minyak terpenting di dunia.
Sekitar 20% pasokan minyak global melewati jalur tersebut. Gangguan apa pun di wilayah ini bisa dengan cepat memengaruhi harga energi internasional.
Setelah Trump menolak proposal Iran, harga minyak melonjak karena pasar khawatir konflik akan berlangsung lebih lama dan mengganggu pengiriman minyak.
Namun pasar sempat mereda ketika media Iran melaporkan kemungkinan Amerika Serikat memberikan keringanan sementara terhadap sanksi ekspor minyak Iran. Laporan itu membuat harga minyak Brent turun sekitar $1,48 menjadi $107,78 per barel setelah sebelumnya menyentuh $112 pada hari yang sama.
Meski demikian, volatilitas tetap tinggi karena kekhawatiran pasokan dan ketidakpastian diplomatik belum benar-benar hilang.
Walau negosiasi terlihat mandek, jalur komunikasi antara kedua negara masih terbuka melalui Pakistan. Kedua pihak juga memberi sinyal bahwa mereka tetap tertarik pada solusi diplomatik, meskipun perbedaan mendasar masih sangat besar.
Selama tuntutan utama Iran—seperti pencabutan sanksi, jaminan keamanan, dan reparasi perang—belum menemukan titik kompromi dengan syarat dari Amerika Serikat, proses perdamaian kemungkinan akan terus berjalan lambat.
Sementara itu, pasar energi global kemungkinan tetap sensitif terhadap setiap perkembangan baru dalam konflik ini.
Comments
0 comments