Penutupan ini memicu keruntuhan parah dan berlapis pada kapasitas kilang global. Kilang-kilang utama di Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, dan UEA masih sebagian atau seluruhnya offline akibat konflik, yang secara total menghilangkan sekitar 5 juta bph produksi kilang global pada kuartal kedua . Pada April 2026, kilang di Timur Tengah dan Asia yang kekurangan pasokan bahan baku telah memangkas produksi hingga sekitar 6 juta bph, menurunkan kapasitas pengilangan global menjadi 77,2 juta bph, menurut IEA . Di puncak krisis, lebih dari 11 juta bph produksi minyak mentah dan kondensat Teluk terhenti, menghilangkan bahan baku yang menjadi andalan kilang di seluruh dunia . Laporan Pasar Minyak IEA mencatat bahwa kapasitas pengilangan global terus berjuang melawan gangguan pasokan bahan baku dan kerusakan infrastruktur, yang memperketat pasar produk minyak global .
Krisis ini sempat memberi keuntungan tak terduga bagi beberapa kilang, yang kemudian diikuti tekanan margin yang intens. Crack spread 3-2-1 AS — indikator utama profitabilitas kilang — melonjak ke atas $60/barel, level tertinggi sepanjang masa, didorong oleh ketatnya pasokan produk dibandingkan ketersediaan minyak mentah . Goldman Sachs memperkirakan bahwa pasokan produk minyak yang lebih ketat akan menjaga margin kilang tetap tinggi sepanjang 2026, dengan margin diesel yang sangat tinggi, antara $19 hingga $26 per barel lebih tinggi dari kondisi normal .
Namun, ketika Selat Hormuz mulai dibuka kembali sebagian pada akhir Juni dan Juli 2026, keberuntungan itu terbukti singkat. Crack spread 3-2-1 AS mulai menurun seiring arus minyak mentah kembali lebih cepat daripada keseimbangan pasar produk . Faktor lain turut menekan: larangan ekspor diesel Rusia akibat serangan drone Ukraina di kilang mereka menjaga pasokan produk global tetap ketat, menopang harga bensin, diesel, dan avtur meskipun harga minyak mentah mulai tenang .
Short-Term Energy Outlook EIA edisi Agustus 2026 memproyeksikan harga minyak Brent rata-rata $96/barel sepanjang tahun 2026, dengan harga bensin eceran AS rata-rata $3,70/galon — kenaikan hampir 20% dari $3,10 di tahun 2025 . Harga minyak Brent mencapai puncak rata-rata $103/barel pada Maret 2026, mendorong harga bensin lebih tinggi sepanjang kuartal kedua . EIA mencatat bahwa ketidakpastian seputar pembukaan kembali selat membuat harga minyak mentah tetap tidak stabil dan tinggi selama sebagian besar Q2 2026, dengan fluktuasi harga harian rata-rata $4/b untuk Brent, dibandingkan dengan $1/b di bulan yang sama tahun 2025 . EIA memperkirakan Brent akan turun di bawah $90/bbl pada Q4 2026, tetapi dampak terhadap dompet konsumen sudah terlanjur terjadi.
Industri penerbangan terkena pukulan yang sangat berat karena pasokan avtur terhambat dari dua sisi: bahan baku minyak mentah langka, dan kilang Timur Tengah penghasil avtur rusak langsung. Biaya bahan bakar maskapai AS melonjak 78% pada April 2026 saja (menjadi hampir $6,5 miliar), setelah kenaikan 26% di bulan Maret, menurut data Departemen Transportasi AS. Biaya per galon naik $1,81 dibandingkan tahun lalu menjadi $4,11/galon . Crack spread avtur melampaui $100/barel — level yang belum pernah terjadi sebelumnya — karena operasi kilang regional terganggu . Bahan bakar biasanya mencakup 30–35% biaya operasional maskapai, sehingga guncangan harga hampir seketika berujung pada kenaikan tarif, pemotongan kapasitas, atau penurunan margin .
IATA memperingatkan bahwa pasokan avtur akan memakan waktu berbulan-bulan untuk pulih bahkan setelah selat dibuka kembali, karena kilang di Timur Tengah menderita kerusakan langsung, tidak hanya kehilangan bahan baku. Laporan IATA Juni 2026 menyebut penutupan ini telah "menghajar" industri penerbangan global . Analisis Bloomberg tentang krisis avtur menemukan bahwa beberapa pasar penerbangan utama — yang impor avturnya melebihi 40% dari permintaan — menghadapi kerentanan akut, dengan beberapa pasar berisiko kehabisan avtur dalam waktu delapan minggu . Laporan semesteran IATA memangkas proyeksi laba bersih 2026 untuk sektor ini menjadi gabungan $23 miliar, jauh di bawah proyeksi sebelumnya sekitar $41 miliar dan turun dari $45 miliar di tahun 2025 .
Analisis IATA mengidentifikasi defisit struktural avtur global, yang diperburuk oleh fakta bahwa empat kilang UE telah tutup pada tahun 2025 (menghilangkan ~400.000 bph kapasitas) sebelum krisis Hormuz dimulai . Ekspor produk minyak olahan Timur Tengah diperkirakan membutuhkan waktu tiga hingga empat bulan lagi untuk pulih seiring kilang kembali beroperasi, yang berarti defisit avtur bertahan hingga Q3 2026 . Allianz Research mencatat bahwa harga avtur telah berlipat ganda sejak dimulainya konflik, dan meskipun ada gencatan senjata, kerusakan kapasitas kilang regional berarti pasokan yang ketat akan bertahan . American Action Forum melaporkan bahwa harga spot avtur di Pesisir Teluk AS naik 110% secara tahunan pada pertengahan Mei 2026, dan bahwa kilang AS telah menyesuaikan proses mereka untuk memaksimalkan produksi avtur dengan mengorbankan bensin .
Penutupan Selat Hormuz memutus jalur utama ekspor minyak mentah Saudi ke AS dan Asia. Arab Saudi berusaha mengalihkan ekspor melalui terminal Laut Merah di pantai barat, namun milisi Houthi yang didukung Iran mengumumkan embargo terhadap ekspor Saudi dan menyerang kapal tanker yang menggunakan jalur alternatif tersebut . Pada akhir Juli 2026, serangan terhadap kapal tanker dan aset energi telah sangat mempersulit pengiriman dari pantai barat Saudi, sehingga ekspor minyak mentah Saudi — termasuk yang ditujukan ke AS — praktis tercekik dari dua arah (Hormuz di timur, serangan Houthi di barat) . Baker Institute memperkirakan bahwa dalam kondisi normal, selat ini menyalurkan sekitar 15 juta bph minyak mentah dan 5 juta bph produk olahan, mewakili ~20% ekspor minyak global. Hilangnya aliran ini memaksa Arab Saudi ke dalam krisis ekspor yang belum pernah terjadi sebelumnya .
IMF melacak krisis ini melalui tiga penilaian berturut-turut. Pada April 2026, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan PDB global "referensi" menjadi 3,1% (dari 3,3% di bulan Januari), dengan asumsi konflik berumur pendek dan kenaikan harga energi moderat sebesar 19% . Di bawah "skenario buruk" gangguan berkepanjangan, pertumbuhan global akan turun menjadi 2,5%, mendorong ekonomi dunia ke ambang resesi . IMF memperingatkan bahwa prospek ekonomi global telah "tiba-tiba menjadi suram," dengan penutupan Selat Hormuz meningkatkan risiko "krisis energi dalam skala yang belum pernah terjadi" . Inflasi headline diperkirakan naik menjadi 4,4% di tahun 2026, penyimpangan tajam dari tren disinflasi .
Pada Juli 2026, IMF kembali memangkas pertumbuhan global menjadi 3,0% untuk tahun 2026, menggambarkan "pemulihan berbentuk V" — tahun 2026 yang lemah diikuti oleh rebound ke 3,4% di tahun 2027 . Proyeksi pertumbuhan Timur Tengah dipangkas drastis menjadi 0,7% untuk tahun 2026, penurunan 1,2 poin persentase dari April, sepenuhnya didorong oleh dampak penutupan Hormuz terhadap ekspor energi regional . IMF mencatat bahwa ekonomi global "sejauh ini telah bertahan dari guncangan" tetapi memperingatkan bahwa gangguan yang terus-menerus akan menjaga inflasi tetap tinggi dan pertumbuhan tetap lemah .
Penutupan Selat Hormuz terbukti menjadi guncangan pasokan energi terbesar dalam sejarah — bukan sekadar pengulangan embargo minyak 1973, melainkan krisis yang lebih kompleks di mana kemacetan kilang menjadi sama kritisnya dengan hilangnya pasokan minyak mentah. Kendala utama bergeser dari "bisakah kita mendapatkan minyak mentah?" menjadi "bisakah kita mengolah apa yang kita miliki menjadi bahan bakar yang dibutuhkan dunia?" IEA menggambarkan kerugian pasokan kumulatif telah melampaui 1 miliar barel pada pertengahan 2026 , dan bahkan dengan dibukanya kembali sebagian pada akhir Juni, kerusakan infrastruktur kilang berarti pasar produk — terutama avtur dan diesel — tetap defisit hingga paruh kedua tahun ini. Bagi konsumen, bisnis, dan seluruh perekonomian, penutupan selama berbulan-bulan dari jalur air sempit antara Iran dan Oman ini benar-benar transformatif.