Kementerian Luar Negeri Kuwait mengecam serangan tersebut sebagai “eskalasi berbahaya” dan “pelanggaran terang-terangan” terhadap kedaulatan, keamanan, serta integritas wilayah Kuwait. Pemerintah Kuwait juga memperingatkan bahwa serangan itu menimbulkan ancaman langsung bagi warga sipil dan fasilitas vital, terutama ketika upaya diplomatik untuk meredakan konflik sedang berlangsung .
Kecaman internasional tidak menghentikan serangan berikutnya. Pada pagi 1 Juni, militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya mencegat “rudal dan drone bermusuhan” yang memasuki wilayah udara negara tersebut .
Dampaknya segera terasa di sektor penerbangan sipil. Layanan pelacak penerbangan menunjukkan sejumlah pesawat dialihkan dari Bandara Internasional Kuwait, sementara beberapa penerbangan lain harus menunggu di udara sebelum mendapatkan izin mendarat .
Dalam rapat kabinet pada 2 Juni, Kuwait kembali mengecam serangan pada 28 Mei dan 1 Juni. Pemerintah Kuwait menyatakan Iran bertanggung jawab penuh dan menegaskan haknya untuk mengambil langkah yang diperlukan demi melindungi keamanan serta kedaulatan nasional .
Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC tidak menyangkal keterlibatannya. Sebaliknya, IRGC menggambarkan serangan tersebut sebagai respons langsung dan terukur terhadap operasi militer Amerika Serikat di wilayah Iran.
Versi Iran menyebut pangkalan di Kuwait sebagai titik yang digunakan untuk melancarkan serangan AS. Namun, CENTCOM membantah klaim bahwa Iran berhasil menghantam pangkalan Amerika atau markas Armada Kelima AS di Bahrain. CENTCOM mengatakan seluruh serangan Iran terhadap pasukan Amerika gagal mencapai sasaran yang dituju .
Eskalasi berlanjut pada 3 Juni ketika sejumlah drone dan rudal menghantam Terminal 1 Bandara Internasional Kuwait. Otoritas penerbangan sipil mengaktifkan rencana darurat, menghentikan sementara lalu lintas udara, dan mengalihkan penerbangan ke bandara alternatif .
Juru bicara Kementerian Pertahanan Kuwait mengatakan serangan tersebut menyebabkan sejumlah orang terluka dan menimbulkan kerusakan material yang parah. Laporan lain menyebut bangunan Terminal 1 serta sejumlah fasilitas bandara mengalami kerusakan berat .
Serangan terhadap bandara memperlihatkan bagaimana konflik yang semula berpusat pada instalasi militer dapat dengan cepat mengganggu aktivitas sipil. Bagi Kuwait, ancamannya tidak lagi terbatas pada pangkalan yang menampung pasukan Amerika, tetapi juga menyentuh pusat transportasi dan infrastruktur publik.
Kuwait berada dalam posisi sulit: negara itu menjadi tuan rumah bagi fasilitas militer Amerika, tetapi menegaskan bahwa wilayahnya tidak boleh dijadikan medan perang oleh pihak mana pun. Karena itu, negara-negara Teluk melihat serangan tersebut sebagai ancaman terhadap prinsip kedaulatan negara dan stabilitas regional.
Uni Emirat Arab mengecam serangan rudal dan drone Iran serta menyatakan solidaritas penuh kepada Kuwait . Arab Saudi juga menolak serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Kuwait dan hukum internasional . Qatar menyebut serangan berulang itu sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan dan hukum internasional, sekaligus menyerukan de-eskalasi .
Sekretaris Jenderal GCC turut mengecam serangan ke Kuwait dan menyatakan dukungan penuh terhadap langkah-langkah yang diambil Kuwait untuk melindungi keamanan, stabilitas, warga negara, dan penduduknya . Parlemen Arab juga menyatakan dukungan terhadap kedaulatan Kuwait serta keselamatan rakyatnya, dan menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa .
Rangkaian serangan ini menunjukkan dilema yang dihadapi negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah instalasi militer Amerika. Fasilitas tersebut dapat menjadi sasaran ketika Washington terlibat langsung dalam konflik dengan Teheran, meskipun negara tempat fasilitas itu berada tidak selalu menjadi pihak utama dalam pertikaian.
Di sisi lain, serangan yang melintasi wilayah udara negara-negara Teluk berisiko mengenai fasilitas sipil, pusat energi, bandara, dan kawasan permukiman. Itulah sebabnya Kuwait dan negara-negara tetangganya menilai serangan tersebut mengancam upaya internasional untuk menurunkan ketegangan .
Dengan penerbangan sipil yang sempat dihentikan dan bandara mengalami kerusakan, insiden di Kuwait menjadi contoh nyata bahwa gencatan senjata yang lemah dapat runtuh akibat aksi balasan berantai. Selama serangan terhadap sasaran militer terus dibalas dengan serangan baru, negara-negara Teluk tetap berada di garis depan risiko—baik sebagai tuan rumah pangkalan militer maupun sebagai jalur penting bagi lalu lintas sipil dan perdagangan regional.