Sejumlah laporan setelah perilisan single terbaru itu menyebut total pendengarannya telah melampaui 11 juta streaming Spotify. Angka tersebut lebih tinggi daripada catatan sebelumnya, yakni 5,5 juta streaming yang dilaporkan sebelum anthem “Gold” dirilis.
Duplantis mengatakan “Gold” ditulis dari gagasan tentang mewakili sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri—keluarga, rekan satu tim, dan para pelatih. Ia juga menggambarkan musik dan olahraga sebagai dua hal yang mampu menyatukan banyak orang.
Tema itu membuat “Gold” tidak sekadar lagu promosi. World Athletics ingin Ultimate Championship menjadi panggung bagi para atlet terbaik di dunia, sedangkan lagu tersebut menerjemahkan identitas ajang yang berorientasi pada medali ke dalam karya musik dari salah satu atlet utamanya.
World Athletics berencana memasukkan “Gold” ke dalam siaran televisi maupun presentasi di dalam stadion. Duplantis dijadwalkan membawakan lagu itu secara langsung setelah seluruh pertandingan berakhir pada Minggu, 13 September.
Ultimate Championship akan digelar dalam tiga sesi malam di Budapest. Format baru yang berlangsung setiap dua tahun ini dirancang sebagai kompetisi “juara di antara para juara”, dengan mempertemukan juara Olimpiade, juara dunia, pemenang Diamond League, serta atlet-atlet papan atas lainnya.
Peraih medali emas di nomor individu akan mendapatkan US$150.000, sebagai bagian dari total dana hadiah US$10 juta.
Presiden World Athletics Sebastian Coe menyebut kejuaraan ini sebagai wadah untuk menampilkan bakat dan gairah para atlet, baik di dalam maupun di luar lintasan. Karena itu, Duplantis dinilai sebagai pilihan yang cocok untuk menciptakan anthem: ia bukan hanya salah satu atlet aktif paling dikenal di cabang atletik, tetapi juga sudah memiliki rekam jejak sebagai penyanyi.
Pengumuman “Gold” muncul sehari setelah salah satu penampilan penting Duplantis musim ini. Pada 20 Agustus di Lausanne, Swiss, ia memenangi nomor lompat galah dalam ajang kota Diamond League dengan lompatan 6,21 meter. Hasil itu sekaligus memperbaiki rekor pertemuannya sendiri, yaitu 6,15 meter.
Setelah berhasil melewati seluruh ketinggian sebelumnya tanpa kegagalan, Duplantis mencoba melompati 6,32 meter—satu sentimeter lebih tinggi daripada rekor dunia miliknya, 6,31 meter. Ia gagal dalam dua percobaan dan kemudian menghentikan upayanya.
Pertandingan tersebut berlangsung sengit karena atlet Yunani Emmanouil “Manolo” Karalis mampu melewati 6,16 meter. Itu merupakan lompatan terbaik kedua dalam karier Karalis, setelah catatan 6,17 meter yang menempatkannya di posisi kedua dalam daftar terbaik sepanjang masa, di bawah Duplantis.
Lima hari sebelumnya, Duplantis juga mengalahkan Karalis di Kejuaraan Eropa di Birmingham. Ia merebut gelar luar ruang keempat berturut-turut dengan rekor kejuaraan 6,15 meter, sementara Karalis finis kedua dengan 6,00 meter.
Berdasarkan peringkat 2026 saat ini, Duplantis masih menjadi unggulan utama. Rekor dunianya, 6,31 meter, memimpin daftar lompat galah luar ruang tahun ini, sedangkan catatan 6,17 meter milik Karalis berada di posisi kedua.
Namun, duel di Lausanne menunjukkan bahwa nomor lompat galah di Budapest berpotensi menjadi salah satu persaingan paling menarik dalam Ultimate Championship—bukan sekadar kemenangan rutin bagi pemegang rekor dunia.
Di sinilah “Gold” memiliki arti penting bagi ajang baru tersebut. Lagu itu memberi World Athletics identitas audio yang mudah dikenali, sementara kemenangan Duplantis dengan 6,21 meter di Lausanne, percobaannya memecahkan rekor dunia, serta rivalitasnya dengan Karalis menyediakan alur kompetitif yang kuat untuk mengiringi promosi kejuaraan.
Saat membawakan “Gold” di Budapest, Duplantis akan menutup sebuah ajang yang menempatkannya dalam dua posisi sekaligus: sebagai bagian dari hiburan dan sebagai salah satu daya tarik olahraga terbesar di dalamnya.